Industri perfilman melibatkan banyak orang dan uang. Pelakon dengan predikat “bankable star” sedikit memberikan garansi investasi uang kembali

Koridor.co.id

Plakat bintang Tom Cruise yang terpasang di Hollywood Walk of Fame (Foto: Doug Kerr/CC BY-SA 2.0/Flickr)

Membahas sebuah produksi film dalam tataran industri bukan hanya melibatkan banyak orang, tapi juga uang. Asal datangnya pendanaan terkadang bukan cuma dari satu kantong saja. Penggarapan sebuah proyek film yang butuh bujet besar, sebut contoh film adiwira seperti Gundala dan Gatotkaca, bisa melibatkan beberapa investor untuk saling memperkuat sumber pembiayaan.

Lantaran uang yang digelontorkan jumlahnya tak sedikit, terasa wajar jika eksekutif produser, investor, atau pihak sponsor lainnya yang urunan menanamkan modal berharap pengembalian investasi alias Return on investment (ROI).

Segelintir produser mengaku tidak melulu menomorsatukan faktor ini. Dalam artian meraih keuntungan atau minimal balik modal tentu saja tetap masuk dalam proyeksi. Hanya urutannya bukan yang paling depan.

Pasalnya, jika kita bicara dalam konteks industri, salah satu patokan kemajuannya adalah keuntungan. Dengan keuntungan yang didapatkan sebuah rumah produksi bisa kembali memproduksi film, mempekerjakan lagi sejumlah kru, menyewa beragam peralatan. Mereka juga mengisi kamar-kamar hotel di dekat lokasi syuting, hingga membeli atau membangun aneka properti. Pendeknya memutar roda ekonomi.

Ilustrasinya mirip yang disampaikan promotor musik kenamaan Adrie Subono dari JAVA Musikindo. Hasil keuntungan dari sebuah konser bisa digunakannya untuk menggelar konser-konser lain.

Berlaku juga sebaliknya. Kegagalan sebuah film di pasaran bisa berimbas mandeknya roda produksi lanjutan. Investor pasti menimbang berkali-kali saat menanamkan uangnya dalam sebuah bisnis yang alih-alih untung malah buntung.

Industri film, terkhusus di Indonesia, adalah bisnis penuh risiko. Seperti disampaikan banyak sineas, tak ada satu pun dari mereka yang punya resep pasti bagaimana menggarap sebuah film yang pasti laku di pasaran.

“Kami di Screenplay dalam membuat film pasti punya kepercayaan bakal sukses atau laku. Yang kami tidak tahu apakah pas tayang di bioskop penonton akan suka atau tidak,” ujar Wicky V. Olindo, CEO Screenplay Films sekaligus produser Jagat Sinema Bumilangit, saat ditemui di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (16/6/2022).

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko rugi dalam sebuah produksi film. Salah satunya dengan menggaet bankable star. Dalam lanskap perfilman Hollywood, Amerika Serikat, istilah tersebut merujuk pada seorang aktor yang mampu memberikan agunan kesuksesan saat membintangi sebuah film.

Fungsi aktor dengan predikat bankable star tidak hanya terbatas sebagai pelakon, mereka penting untuk menggaet investor, juga menunjang proses produksi, distribusi, dan eksibitor—dalam hal ini bioskop—agar khalayak rela menebus harga tiket demi menonton idolanya bermain.

Andibachtiar Yusuf alias Ucup ingat betul pesan produsernya, Angga Sasongko, dari Visinema Pictures, saat dipercaya menyutradarai Love for Sale (2018). Kala itu ia memasangkan Della Dartyan yang berstatus pendatang baru dengan Gading Marten, putra aktor legendaris Roy Marten, yang kadung terkenal di jagat hiburan Tanah Air.

“Jangan sampai pemilihan pemain bikin wartawan saja enggak tertarik mendatangi konferensi pers film lo karena enggak ada yang terkenal di dalamnya,” ujar Ucup menirukan pesan Angga.

Walaupun ada banyak faktor yang membuat sebuah film kemudian laris di pasaran, mempekerjakan pemain yang masuk kategori bankable star membantu perusahaan film mengamankan investasi, distribusi, dan menarik perhatian media.

Jika dengan bintang saja sebuah film masih bisa jeblok di pasaran, apalagi minus bintang. Pemain yang sudah populer juga sangat membantu dari segi berpromosi. Sebab rata-rata pemain kategori ini punya banyak followers di media sosial. Faktor ini terasa relevan lantaran kanal-kanal medsos kini menjelma jadi medium promosi pilihan.

Untuk barometer perfilman nasional yang oleh sebagian pengamat masih menggolongkannya sebagai industri rumahan, meletakkan predikat bankable star untuk aktor kita masih susah.

Alasan utamanya karena belum semua film produksi kita yang rilis di bioskop mendapat sokongan maksimal dari setiap lini. Misal ada sebuah proyek film yang secara bujet di atas rata-rata, tapi selalu menumbalkan ongkos untuk promosi dan pemasaran, juga publisitas yang kerap ditempatkan satu lini. Padahal faktor ini sangat penting dalam mendongkrak performa sebuah film di pasaran. 

Ujung-ujungnya tak jarang kita mendapati fakta bahwa film tersebut jeblok di pasaran, sekalipun sudah menghadirkan jajaran pemain bintang. Maklum, promosinya kurang gencar. Alhasil khalayak ramai tidak mengetahui keberadaan film itu di bioskop hingga turun layar.

“Tanpa membongkar data, yang cukup mendekati itu Prilly Latuconsina ,” tulis Sigit Prabowo, analis data film-film box office yang selama ini berkicau melalui akun @BicaraBoxOffice di linimasa Twitter kepada Koridor melalui pesan singkat (4/7).

Prilly (25) mulai populer sejak bermain dalam sinetron Ganteng-Ganteng Serigala. Film-film yang dibintanginya, terutama seri Danur yang diadaptasi dari novel karya Risa Saraswati, sukses mendatangkan jutaan penonton saban rilis. Terakhir lewat Kukira Kau Rumah yang rilis 3 Februari 2022 membukukan 2.220.180 penonton.

Dari sisi pemeran utama pria, adakah sosok yang juga cukup mendekati untuk disebut sebagai bankable star di ranah perfilman dalam negeri?. “Sayangnya belum ada yang cukup teruji,” lanjut Sigit.

Beda cerita, misalnya, dengan Hollywood yang sistemnya terbentuk matang sempurna. Kita bisa dengan mudah menunjuk nama Tom Cruise, Julia Roberts, Tom Hanks, dan Nicole Kidman—berdasarkan hasil jajak pendapat The Hollywood Reporter edisi 2006—masuk dalam kategori ini. Jika mengacu industri perfilman negara lain, maka langsung muncul nama Jackie Chan di China atau Shah Rukh Khan di India.

Sementara The Numbers, situsweb penyedia data industri film AS yang melacak pendapatan box office dengan cara yang sistematis dan algoritmik, pada edisi 2021 mengukuhkan nama Samuel L. Jackson di urutan pertama. Menyusul kemudian Tom Holland, Dwayne Johnson alias The Rock, Will Smith, dan Margot Robbie.

Indikator utama penentuan bankable star, selain profesionalisme dan kualitas akting, adalah rekam jejak film-film yang telah dibintangi sang pelakon di box office.

Pendeknya kehadiran bankable star bisa meminimalisir risiko sebuah film sepi penonton lantaran jajaran pemain utamanya asing di mata pencinta film. Ada banyak pemain film terkenal, tapi sangat sedikit yang mendapatkan predikat bankable star.

Satu di antara sedikit itu tentu saja nama Tom Cruise yang baru-baru ini makin berkibar dengan Top Gun: Maverick. Orang tak ragu berduyun-duyun mengisi kursi bioskop demi melihat aksi Cruise sebagai pemain, tak peduli filmnya bercerita tentang apa dan sutradaranya siapa.

Artikel Terkait

Terkini