Enola Holmes 2 tanggung menyuarakan kesetaraan lewat tokoh utamanya. Kekuatan perempuan justru muncul dari tokoh lain, bahkan yang antagonis

Koridor.co.id

Enola Holmes 2. Millie Bobby Brown as Enola Holmes, Henry Cavill as Sherlock Holmes. Cr. Alex Bailey/Netflix © 2022

“Tanpa kekuatan  perempuan harus mengandalkan akal untuk keberuntungan agar bisa berhasil, karena peluang kita kecil,” ujar Mira Troy (Sharon Duncan-Brewster) dengan santai kepada Enola Holmes (Millie Bobie Brown) di atas balkon menyaksikan pesta dansa di ballroom.

Momen pesta dansa ini merupakan adegan yang paling kuat dari film Enola Holmes 2,  pertarungan antara maskulinitas dengan feminitas.  Para bangsawan dan pejabat kerajaan, tokoh-tokoh yang terhormat bersembunyi di balik topeng. Untuk bisa berdansa harus punya kartu khusus. Jika kartu dansa penuh, laki-laki bisa menolak permintaan berdansa.

Perempuan dilarang bicara laki-laki tanpa pendamping, karena etika tidak memperbolehkan. Tetapi kalau mau bicara berdua bisa dengan mengirim sinyal lewat bahasa kipas (yang bisa salah sasaran). Kritik  dunia kelas era Victoria (1837-1901)  yang sebetulnya hipokrit.

Sebagai catatan di bawah Ratu Perempuan ini banyak kebiasaan di Inggris yang justru sangat menekan perempuan: suami dan istri tidak boleh bercerai, tetapi suami boleh menjual istrinya.

Perempuan dikonstruksikan sesuai pandangan sosial tertentu: patuh kepada etiket ketat seperti mengenakan korset,  berkata harus  sopan. Kebebasan berekspresi perempuan nyaris tidak ada, siklus hidupnya menjadi istri, ibu kemudian mati. 

Rentetan adegan pesta dansa itu diakhiri dengan penangkapan Enola oleh polisi di bawah pimpinan Inspektur Graill (David Thewills) dengan ucapan menohok: “Detektif (perempuan) sepertimu hanya menjahit.” Itulah stigma pada perempuan di era Victoria.

Artinya perempuan tidak usaha ikut-ikutan menjalankan pekerjaan, yang katanya adalah pekerjaan laki-laki.

Sutradara Harry Breeder dan penulis skenario Jack Thorne tampaknya berupaya menyodorkan sisi feminisme dari dunia (Keluarga) Holmes. Enola tak lain adik dari legenda detektif Sherlock Holmes (Henry Cavill).

Film sekuel dari Enola Holmes dengan sutradara dan penulis skeranio yang sama, diputar di layanan streaming hiburan Netfilx, menampilkan tokoh Enola yang dididik ibunya Edoria (Helena Bonham Carter)  dengan materi-materi tak lazim masa itu untuk perempuan: sastra, sejarah, sains, dan bahkan jiu-jitsu.

Eudoria tak pernah mengajarkan memasak atau merajut kepada Enola.  Eudoria jelas merupakan antitesis dari perempuan era Victoria. Sejak sekuel pertama Enola dicitrakan sebagai tokoh utama yang menyuarakan kesetaraan.

“Ada kalanya kau terjatuh. Tapi meski kau merasa tersesat, jika kau jujur pada dirimu. Jalan itu akan selalu kau temukan lagi!” pesan Edora kepada Enola. 

Memang Enola menghadapi ujian tidak laku jasanya bahkan kantornya nyaris ditutup. Pada menit terakhir datang anak kecil bernama Bessie Chapman (Serrana Su-Ling Bliss) mencari kakaknya Sarah Chapman, seorang buruh pabrik korek api.  Bessie percaya Enola mampu karena pernah menemukan orang hilang.

Bila penonton mengetahui sejarah Inggris maka settingnya terkait dengan kisah nyata di era 1888, yaitu Matchgirls Strike, pemogokan buruh perempuan korek api Bryant & May di Bow, London  yang digaji murah. 

Enola melakukan investigasi menyamar menjadi buruh di samping Bessie. Dia mendapat info soal penyakit tifus yang membuat beberapa buruh meninggal. Itu sebabnya ketika masuk kerja, buruh diperiksa mulutnya. Tifus dan fosfor korek api menjadi dua kata kunci bagi Sang Detektif.

Sementara Sherlock Holmes melakukan penyelidikan terkait kasus korupsi tingkat atas di Kota London.  Dalam perjalanan penyelidikan kakak dan adik ini  bertemu bahwa benang kusut yang mereka cari sejalan. 

Dalam film, chemistry kedua kakak-adik ini digambarkan dengan baik oleh para pemerannya. Termasuk ketika Sherlock  mabuk, sang Adik yang menolongnya.

Enola Holmes 2 dibuat menyenangkan dengan bumbu humor dan gaya bertutur bolak-balik, pas untuk plot cerita detektif. Gaya bertutur seperti ini untuk menggambarkan Enola seperti kakaknya punya daya ingat yang kuat dan mampu memecahkan sandi dan tersirat dalam puisi maupun lagu. 

Dalam penyelidikannya seorang pangeran tampan Viscount Tewkesbury (Louis Partridge) ikut menjadi dewa penyelamat, selain Sang Kakak. Tokoh ini adalah politisi dari House of Lords, kamar bangsawan dalam parlemen Inggris yang diceritakan ingin menyuarakan reformasi.

Kehadiran para dewa penyelamat lazim dalam film-film barat, tetapi sebetulnya menjadikan suara kesetaraan yang dibebankan pada sosok Enola menjadi tanggung.

Meskipun demikian para tokoh perempuan ini bukanlah para pecundang. Salah seorang yang mengetahui hilangnya Sarah, seorang perempuan bernama Mae dibungkam dengan pembunuhan, yang jelas dilakukan oleh laki-laki. Itu bukan kekalahan perempuan, tetapi kemenangan. 

Begitu juga dengan adegan battle of sexes  di hutan ketika Enola dibebaskan oleh ibunya dibantu Edith melawan para polisi yang semua laki-laki, menarik.  Mulai dari kejar-kejaran menggunakan kereta kuda sambil melemparkan peledak, hingga pertarungan tangan kosong.  Pertarungan ini menjadi berisi didukung skoring musik yang bagus.

Pertarungan ini memang lebih ringan dibanding pertarungan hidup wanita Amazon dengan tentara Jerman waktu Perang Dunia I  dalam Wonder Women, yang begitu dahsyat. Sama pertarungan pasukan perempuan dalam Women King.   

Pembuat gaduh kesetaraan justru ditempatkan pada tokoh pendukung seperti Edora dan Sarah Chapman hingga seorang tokoh antagonis yang justru perempuan, yang sulit diduga. Tokoh Sarah bisa menjadi favorit bagi pendukung kesetaraan, kompromi antara kecantikan dan kecerdasan.

Khusus Sarah bukan Sang Cinderella yang menunggu diselamatkan oleh Pangeran Tampan. Dia adalah motivator dan dinamisator bagi para buruh perempuan untuk tidak mau diinjak-injak. Dia bersedia kerja keras untuk hidup siang sebagai buruh dan malam sebagai penari di sebuah teater.

Menarik scene ini, dalam film salah seorang tokoh laki-laki yang disangka antagonis tetapi justru mempertaruhkan nyawanya untuk mendukung apa yang diperjuangkan perempuan.  

Secara keseluruhan Enola Holmes 2, sebuah hiburan menarik dan hadir melengkapi kemunculan film-film Hollywood yang menempatkan jagoan-jagoan perempuan, termasuk dalam genre fiksi ilmiah dan fantasi.  

Kehadiran perempuan tangguh ini bukan hanya milik white anglo saxon protestan (WASP)  citra melekat pada Amerika-tentu Enola Holmes bersetting Inggris-tetapi juga lintas ras.  Kalau menyaksikan tayangan streaming Disney Plus Hotstar bahkan ada jagoan cewek remaja muslim, diaspora Pakistan di Amerika dalam MsMarvel  yang punya kekuatan super. 

Fenomena serupa muncul di perfilman Korea Selatan, negeri yang kultur patriarkinya sangat kuat dan juga mulai menjalar ke perfilman Indonesia. Karena hal ini sudah menjadi tuntutan, seiring dengan semakin kuatnya perempuan ingin berekspresi dan menuntut kesetaraan  lebih luas di era global ini.

Artikel Terkait

Terkini