Bagaimana film fiksi ilmiah dunia memprediksi masa depan, utopia atau distopia? Distopia lebih disukai penonton karena film butuh konflik  

Koridor.co.id

Ilustrasi film Intersellar-Foto: Warner Bross.

Utopia adalah konsep yang pertama kali disampaikan penulis dan filsuf  Thomas More  dalam bukunya  yang bertajuk  sama dan diterbitkan pada 1516. Utopia mengandung pengertian sebagai tempat ideal bak surga tempat orang hidup selaras dengan alam.  Masyarakat utopia mendapatkan sesuatu yang dibutuhkannya untuk bisa bertahan hidup dan bahagia.  

Lawan kata dari utopia adalah distopia yang mengacu pada situasi buruk, dunia imajiner tempat orang tidak bahagia, diperlakukan tidak adil, dunia yang muram. Dalam film fiksi ilmiah distopia dipertajam dengan istilah yang disebut post-apocalyptic yang merujuk pada kehidupan manusia pascakiamat setelah perang besar, bencana alam atau serangan alam.

Kenyataannya bila diamati film fiksi ilmiah bertema distopia atau pascakiamat lebih populer daripada dunia yang baik-baik saja atau cemerlang. Sekalipun ada masalah I Robot adalah contoh film dunia masa depan yang baik, walaupun ada permasalahan, seperti halnya film membutuhkan konflik.

Contoh yang baik dunia masa depan yang utopia dalah I Robot. Dalam film produksi 2004 dikisahkan pada 2035, robot utopia manusia dicapai di Kota Chicago dan setiap rumah tangga memiliki robot. Para robot tersebut terikat dalam Undang-Undang untuk Robot (Three Law of Robotics). 

Berdasarkan regulasi itu robot manapun tidak bisa melukai manusia, harus menaati manusia, dan hanya bisa melindungi sendiri dengan mengikuti dua undang-undang sebelumnya.

Film ini bertutur penyelidikan Del Spooner (Will Smith) atas terbunuhnya Dr. Alfred Lanning, pendiri US Robotics yang diduga oleh robot. Penyelidikan ini dibantu robopsychologist Susan Calvin, Spooner berkonsultasi dengan komputer kecerdasan buatan bernama VIKI (Virtual Interactive Kinetic Intelligence).

Film Indonesia bertajuk 2045: Apa Ada Cinta dari poster dan trailernya tampaknya bertutur tentang masa depan yang utopia, teknologi memudahkan manusia dan konfliknya kemungkinan berkisar soal cinta. 

Bagaimana dengan film distopia, lebih banyak ragamnya. Di antaranya, serial Matrix dan Terminator, manusia punah oleh serangan mesin, trilogi Planet of The Apes, eksistensi manusia di Bumi digantikan oleh monyet, atau manusia punah oleh virus dalam Twelve Monkeys, (1995). Bumi menjadi gersang dalam The Road (2009) hingga The Day After Tommorow (2004) dan yang paling anyar adalah Moonfall (2021).

The Road adalah film distopia yang termasuk paling muram, tetapi juga paling realistis mengkritisi perubahan lingkungan akibat ulah manusia. Turunnya debu seperti hujan, pohon-pohon yang mati (tanpa daun), serta padang tandus dan kota terbengkalai benar-benar memberikan deskripsi mengerikan. Manusia yang tersisa terpecah-pecah dan harus bertahan hidup dengan memangsa apa saja, kucing bahkan sesama manusia.

Film Indonesia Alif Lam Mim (2015) termasuk yang menggambarkan dunia masa depan suram. Diceritakan pada masa mendatang Indonesia mempunyai teknologi canggih dan negara yang berevolusi dengan kedamaian. Tetapi sebetulnya semuanya adalah kedok.

Ada juga film yang tergolong distopia tetapi juga utopia  dengan memberikan harapan bagi manusia. Para sineas ini meyakini bahwa bencana karena berbagai hal seperti  bencana lingkungan. Contoh yang baik ialah film karya sutradara Christopher Nolan  bertajuk Interstellar (2014) menceritakan manusia melakukan eksodus atau mengungsi ke planet lain, karena bencana lingkungan. Bumi menjadi gersang, hanya tanaman jagung yang tumbuh dan gandum punah. 

Seorang antronot yang menjadi pionir perjalanan mengalami kendala di antariksa. Ia bertemu putri yang menjadi nenek di kapal angkasa, mengangkut peradaban manusia yang komplit menuju planet baru bisa didiami.

Pengungsian manusia ke luar angkasa juga disinggung dalam film After Earth (2013) karya M. Night Syahmalan. Ceritanya bumi tidak bisa lagi didiami, hingga manusia akhirnya eksodus ke suatu tempat yang bernama Nova Prime.  

Hingga setelah berapa generasi, suatu ketika dua awak pesawat dari tempat mengungsi ini secara tak sengaja terdampar kembali ke Bumi dan menemukan fakta bahwa mereka tidak mudah lagi beradaptasi di Bumi. 

Meskipun menghadapi alien, Nova Prime adalah utopia manusia di masa mendatang. Tidak ada lagi perang, manusia hidup rukun dan damai  setelah meninggalkan Bumi yang digambarkan sebagai distopia. Manusia kembali menjadi mahluk sosial.

Menurut sutradara film Tengkorak, Yusron Fuadi tema distopia lebih disukai sineas karena banyak konflik bisa digali dibanding dengan utopia karena dunia yang baik-baik saja.

“Membuat film yang utopia biayanya lebih mahal dibandingkan distopia. Itu sebabnya film tergolong utopia lebih banyak didominasi dan menjadi eksklusif Hollywood,” ujar Yusron kepada Koridor, Kamis, 24 November 2022.

Artikel Terkait

Terkini