Yayasan Lokatmala, kegelisahan aktivis seni budaya di Jawa Barat dalam upaya pelestarian kebudayaan bangsa

Koridor.co.id

Wina Rezky Agustina (Foto: Dokumentasi Yayasan Lokatmala)

Gunung Gedé geusan nyarandékeun haté​

Pangrango kuring ngadago

Gunung Guruh da kuring mah henteu jauh

Ka leuit Salawéjajar.

Demikian bait pertama syair Lokatmala, yang bisa diterjemahkan sebagai: Gunung Gede untuk menyandarkan hati / Pangrango aku menanti / Gunung Guruh aku ini tidak jauh / Ke gudang (padi) jaraknya dua puluh lima jajar.

Syair Lokatmala dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia dibacakan dan dinyanyikan Wina Rezky Agustina dalam acara Lokatmala Nite beberapa waktu lalu. Ketua Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia ini merasa bertanggung jawab untuk tetap melestarikan kebudayaan Cianjur, Jawa Barat.

Cianjur menurut Wina, merupakan kota budaya. Dengan begitu, sudah menjadi kewajiban generasi muda seperti alumni Institut Seni Budaya Indonesia Bandung ini, untuk terlibat dalam pemajuan kebudayaan ini, meskipun dengan level paling sederhana.

Wina memiliki pengalaman dalam berbagai garapan tari dan teater. Di antaranya menjadi CO Teater Tari Citraresmi, Koreografer Drama Musial Gebyar 70th Regina Pacis 2018, Ronggeng Kulawu sebagai Koreografer 2018-2019, Tater Musikal Bulbul 2021. Koreografer yang aktif di beberapa kelompok teater antara lain Mainteater Bandung, Titimangsa Foundation dan Teater Payung Hitam itu, juga pernah mengikuti Jakarta Berlin Art Festival di Jerman pada tahun 2013.

Dalam percakapannya dengan Irvan Sjafari dari Koridor, pada Selasa, 30 Agustus 2022, Wina Rezky Agustina menuturkan tentang kegiatan Lokatmala hingga aktivitas di Kampung Adat Miduana.

Berikut petikannya:

Apa saja kegiatan Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia pada 2022 ini?

Pada 2022 ini Lokatmala Foundation telah dan sedang melakukan berbagai kegiatan dalam rangka mendukung pemajuan dan pelestarian kebudayaan di Cianjur. Salah satunya adalah melakukan pendampingan untuk kampanye Revitalisasi Kampung Adat Miduana, di Desa Balegede, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat (Jabar).

Di samping beberapa kegiatan pertunjukan seni yang berkolaborasi dengan komunitas-komunitas seni baik yang ada di Cianjur maupun di wilayah Jawa Barat lainnya. Terakhir kami dipercaya mengisi acara tari kolosal bertemakan keragaman dan kebhinekaan saat pembukaan Rakerda dan Pelantikan DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Barat, di SICC. Acara ini dihadiri antara lain Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, yang juga Ketua Umum Partai Golkar.

Dulu berdiri tahun berapa dan apa latar belakang pendiriannya?

Lokatmala Foundation atau Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia didirikan secara legal formal pada 11 November 2011. Meski begitu jauh sebelumnya berbagai kegiatan terkait dengan seni budaya sudah dilakukan.

Yang menjadi latar belakang didirikannya Lokatmala Foundation antara lain sebagai bentuk kegelisahan dari para pelaku dan aktivis seni budaya di Cianjur dan Jawa Barat pada umumnya dalam rangka membangun pembelajaran, pengembangan dan pelestarian kebudayaan bangsa dalam arti seluas-luasnya melalui kegiatan seni pertunjukan, aksi kemanusiaan dan pendidikan.

Apa saja yang sudah dilakukan untuk mengembangkan kebudayaan (Cianjur?)

Beberapa hal telah dilakukan selain mendorong adanya revitalisasi Kampung Adat Miduana di Desa Balegede Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur, termasuk melalui upaya dukungan regulasinya dari Pemkab Cianjur dan Dinas terkait lainnya. Kami juga mendorong beberapa upaya ikhtiar pemajuan kebudayaan, seperti terlibat dalam penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kabupaten Cianjur.

Tidak hanya itu di bidang pelestarian, pemanfaatan cagar budaya bahkan kami telah dinyatakan lolos sebagai ahli cagar budaya. Dua ahli cagar budaya di antaranya saya, Wina Rezky Agustina, dan saudara Dika Dzikriawan adalah pengurus Lokatmala Foundation.

Banyak yang bertanya, apa itu Lokatmala Foundation dan kenapa foundation ini dinamakan Lokatmala?

Lokatmala artinya adalah bunga, sebuah bunga langka, yakni bunga Edelweis yang hanya ada di puncak gunung-gunung tinggi. Tak ada Edelweis yang tumbuh di dataran rendah. Kalaupun ada, pasti itu Edelweis plastik atau Edelweis yang dikeringkan. Hehehe (tertawa).

Edelweis, sering dimaknai sebagai ketenaran, ketenangan, mulia dan abadi. Namun bila tulisannya dipisah menjadi Lokat dan Mala mengandung arti membersihkan (lokat) sedangkan Mala artinya bencana, wabah atau sesuatu yang tidak baik atau buruk. Jadi Lokat Mala memiliki arti secara harfiah yakni membersihkan diri dari bencana, wabah atau hal-hal yang tidak baik atau buruk.

Lirik (rumpaka) Tembang Sunda Cianjuran (mamaos), Lokat Mala, karya Bakang Abubakar (1980) yang menceritakan tentang keindahan alam Gunung Gede Pangrango, telah menginspirasi betapa romantika dan refleksi kehidupan penuh kesadaran, pemenuhan ruang batin, sekaligus penuh ekspresi telah melahirkan kesadaran tanpa batas bagi upaya pemaknaan diri. Itulah sejatinya jalan kebudayaan yang senantiasa diperjuangkan oleh Lokatmala Foundation, hari ini, juga nanti.

Harapan kami kehadiran Lokatmala bisa memantik kreativitas baru dan menularkannya kepada yang lain. Menjadi virus positif untuk tumbuhnya jejaring kekuatan baru dalam derap langkah kebudayaan yang kadang terseok karena nihilnya keberpihakan kita pada jati diri bangsa yang sesungguhnya.

Sekarang tampaknya fokus di Kampung Adat Miduana. Apa keistimewaan kampung adat ini?

Kampung Adat Miduana tak lepas dari sejarah panjang selepasnya runtuhnya Pajajaran. Kami telah melakukan penelitian kecil di sana dan hasilnya telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Cianjur. Dari penelitian itulah akhirnya muncul dukungan regulasi untuk pelestarian dan revitalisasi Kampung Adat Miduana melalui Perbup No 26 Tahun 2022 tentang Penetapan Kampung Adat di Cianjur. Bagi kami kehadiran Kampung Adat Miduana bisa menjadi daya tarik tersendiri karena di lokasi tersebut juga terdapat berbagai peninggalan atau situs yang perlu dilestarikan dan dirawat seperti Situs Batu Rompe yang diyakini warga sebagai sisa peninggalan ribuan tahun lampau.

Di Instagram diceritakan dulu ada 99 susunan rumah adat dan dalam menjaga lingkungan termasuk hutan dan sungai, ada Pikukuh Karuhun bernama Dongdonan Wali Salapan. Nah kira-kira bagaimana cara kampung adat ini menjaga lingkungan? Bisa dijelaskan dan apa fungsi karuhun?

Betul sekali. Menurut sesepuh adat di sana dulu ada 99 rumah adat di Miduana. Sayang sekarang tinggal 21 rumah lagi yang masih tersisa. Penyebabnya mungkin karena mulai pudarnya semangat merawat adat di sana karena abainya kita dalam membantu mereka untuk bisa tetap eksis menjaga adat. Padahal dari sisi ajaran adat, mereka memiliki pikukuh karuhun yang disebut Dongdonan Wali Salapan.

Dongdonan Wali Salapan (Petunjuk Sembilan Wali) berisi tentang semacam ‘tatali paranti’ dalam melakukan berbagai praktek kehidupan sehari-hari mulai dari kegiatan pertanian, penyembuhan hingga keagamaan. Kesembilan ‘dongdonan’ itu antara lain : Ciungwanara, Lutungkasarung, Piit Putih, Heulang Rawing, Singa Batara, Batara Singa, Rambut Sadana, Sapujagat dan Balung Tunggal.

Dugaan kami sementara Dongdonan Wali Salapan itu mengacu pada sembilan kepala keluarga atau umpi saat Dusun Miduana dibuka setelah peristiwa Jogol Alas Roban.

Apa yang ada di dalamnya?

Di dalamnya juga terdapat petunjuk dan doa-doa buhun atau mantra saat mengurus lahan pertanian, memelihara peternakan, pernikahan atau perjodohan, marak atau menangkap ikan di sungai, syukuran hingga pedoman beradaptasi dengan lingkungan baru. Bagi warga adat Miduana kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa hendaknya harus seiring dengan pemeliharaan dan penghormatan terhadap alam dan lingkungan. Sehingga akan banyak ditemukan istilah pamali terhadap sesuatu yang dilarang dan berpotensi merusak alam dan lingkungan di sekitar wilayah tersebut.

Di Kampung Adat Miduana (Foto: Dokumentasi Yayasan Lokatmala)

Bagaimana sekarang kampung adat ini menjaga keseimbangan alam dan lingkungan?

Mereka masih kukuh terhadap ajaran adat. Beberapa ritus adat masih dijalankan yang isinya saling berkesinambungan dengan cara mereka dalam menjaga alam.

Apa saja persoalan lingkungan di wilayah Cianjur, di IG Lokatmala disebutkan terkait dengan kopi? Bagaimana penjelasannya? Bagaimana mengatasinya?

Cianjur sejak jaman kolonial memang dikenal sebagai daerah sentra kopi. Bahkan sempat menguasai pasaran dunia di zamannya. Hanya karena didalamnya ada unsur tanam paksa maka rakyat pada waktu itu melakukan perlawanan. Sebab itu di Cianjur ada peristiwa Dalem atau Bupati yang terbunuh karena mendukung tanam paksa dan korup. Dalem Dicondre dikenal dalam sejarah Cianjur, tentu dengan beragam versinya.

Terkait dengan itu beberapa waktu dalam Festival Kopi Cianjur 2022, Lokatmala terlibat di dalamnya dengan menampilkan drama tari ‘Bisik Sunyi Apun’ yang diambil dari cerita Apun Gencay pada peristiwa Dalem Dicondre.

Kini kopi Cianjur menggeliat lagi. Salah satunya Kopi Sarongge dan Kopi Miduana. Ada banyak kopi lainnya yang memiliki cita rasa dan keunggulan masing-masing. Cianjur memang gudangnya kopi. Semoga ini bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakat Cianjur.

Pendampingan terhadap petani Kopi Cianjur menjadi penting. Termasuk untuk mendapatkan kesempatan dalam program perhutanan sosial. Kolaborasi dengan berbagai pihak seperti Perhutani tentu akan memberikan kesempatan petani kopi dan budaya kopi Cianjur kembali menggeliat.

Anda sendiri mengapa jatuh hati untuk melestarikan kebudayaan Cianjur? Bagaimana ceritanya?

Saya punya latar belakang seni. Saya sekolah di ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Bandung hingga pascasarjana. Jadi, memang sudah menjadi tanggung jawab akademis saya andil dan terlibat dalam kegiatan berkesenian dan berkebudayaan.

Cianjur sendiri dikenal sebagai kota budaya. Karena itu, sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi muda untuk bisa terlibat dalam pemajuan kebudayaan ini, meskipun dengan level paling sederhana.

Atraksi budaya (Foto: Dokumentasi Yayasan Lokatmala)

Bagaimana bisa tertarik juga pada dunia teater?

Sejak kecil saya sudah tertarik dan senang membaca puisi. Bahkan sejak kelas III SD sudah belajar di Sanggar Seni. Mungkin dari kegiatan-kegiatan dan Ikut lomba-lomba kemudian menjadi terlatih dan makin larut dalam kegiatan seni budaya dan soal kemasyarakatan. Terlebih S1 dan S2 saya juga di ISBI Bandung yang memang mengharuskan punya keterlibatan besar pada seni budaya.

Bahkan saat di masyarakat meskipun saya mengambil jurusan tari di S1 dan S2 program penciptaan dan pengkajian seni, saat terjun di masyarakat dituntut untuk segala bisa. Sebab itu Lokatmala hadir di tengah masyarakat.

Memangnya sejak kecil cita-citanya jadi aktivis budaya?

Tidak. Ini mengalir saja. Memang sejak kecil saya senang dan sering terlibat dalam berbagai kegiatan pertunjukan. Perlombaan seni budaya dan lain-lain.

Artikel Terkait

Terkini