Pengembangan Energi Terbarukan kedodoran dan terhambat dana. Repotnya, sistem APBN pendekatannya masih proyek

Koridor.co.id

Tri Mumpuni (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Salah seorang pelopor energi terbarukan di Indonesia patut disematkan pada Tri Mumpuni. Perempuan kelahiran 6 Agustus 1964 ini sejak beberapa dekade mempelopori Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).  Hingga kini alumni Fakultas Ilmu Pertanian IPB dan Chiang Mai University ini sudah  mengalirkan listrik di 82 desa terpencil.

Perempuan yang dijuluki  ‘Wanita Listrik’ dan menjadi satu-satunya orang Indonesia dalam daftar 22 Ilmuwan Muslim paling Berpengaruh di Dunia. Saat ini Tri Mumpuni duduk sebagai Ketua Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia periode kepengurusan 2022-2025.

Berikut percakapan  Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan dengan Irvan Sjafari dari Koridor melalui WhatsApp, Selasa, 6 September 2022.

Bagaimana perkembangan Energi Terbarukan di Indonesia saat ini menurut Anda?

Indonesia banyak potensi energi terbarukan. Mulai air, matahari, geothermal, angin, algae yang belum disentuh, terus biofuel dan biomas plus biogas.  Kita juga sedang melakukan riset untuk penggunaan hidrogen.

Ini semua bisa membuat kita mempunyai kecukupan energi kalau arah pembangunan pemerintah serius membangun ke arah sana.

Apa kendala yang dihadapi Indonesia untuk mengembangkan energi terbarukan? Apakah biaya, riset? Bukankah di Eropa ada koperasi yang bergerak di bidang energi terbarukan hingga anggotanya bisa mendapatkan listrik tenaga surya dengan biaya lebih murah? Apakah ini sulit dilakukan di Indonesia?

Koperasi di Indonesia apalagi bidang energi, masih sulit berkembang. Di Amerika negara yang kapitalis saja listrik perdesaannya diurus sama koperasi.

Sementara di kita cara berpikir untuk mendapatkan yang terbaik dan memberi yang terbaik masih langka. Semua masih menggunakan paradigma materi dan uang serta pertumbuhan ekonomi, bukan memikirkan daya dukung alam dan pembangunan berkelanjutan.

Terlalu banyak yang sifatnya nonteknis sebagai hambatan. Ini makanya revolusi mental belum jalan. Di awal berkuasa Pak Jokowi menggaungkan revolusi mental tujuannya untuk memperbaiki sistem pembangunan di Indonesia namun faktanya sampai sekarang belum terjadi. Kendala energi terbarukan lebih kepada keseriusan pemerintah mau ke arah sana atau tidak.

Potensi besar energi terbarukan di Indonesia apakah angin, tenaga surya, tenaga air atau biomassa?  Di kawasan mana saja masing-masing bisa dikembangkan?

Air, geothermal itu yang harusnya dikembangkan dengan maksimal. Ada di Pulau Buru, Bali dan Flores serta Jawa Barat, Sumatera yang geothermal. Kalau air banyak juga tetapi tersebar dan kecil-kecil sehingga bisa buat rakyat yang tinggal di wilayah terpencil.

Bahkan kita bisa ekspor energi terbarukan. Tapi itu bisa kalau di Kalimantan kita bangun hidro sekian ribu Mega Watt. Namun ini pasti kalau tidak pemerintah, BUMN atau swasta yang mengerjakan.

Pada 2022, mahasiswa Fakultas Teknik UGM sudah melakukan inovasi membuat genteng tenaga surya, anak ITB membuat rancangan di lepas pantai Cirebon untuk buat energi terintegrasi. Apa yang harus dilakukan pemerintah terhadap potensi ini?

Pemerintah harus memberi ruang atau space yang besar buat anak anak muda agar bergairah dalam riset energi dan juga implementasinya. Semua bisa berjalan baik kalau pendekatannya bukan proyek. Sayang sistem APBN kita pendekatannya proyek, jadi ini yang bikin kita kedodoran dan ketinggalan. Semua tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan proyek.

Kendala buat saya adalah dukungan dana itu yang utama. Yang kedua kita harus memiliki sistem membangun berbasis masyarakat. Jadi diberdayakan dulu manusianya baru diajak membangun bersama agar berkesinambungan fasilitas yang dibangun tersebut. Sekali lagi tidak sistem proyek.

Sekarang negara Indonesia sudh dianggap kaya jadi dana untuk rakyat miskin dari donor sudah mulai berkurang, bahkan tidak ada

Bagaimana sekarang perkembangan mikro hidro yang dulu Anda rintis?

Mikro hidro ke depan masih banyak harapan. Hanya lokasinya semakin terpencil, jadi perlu ekstra usaha buat membangkitkan. Saya yakin pasti akan ada jalan keluar, kekuasaan Tuhan itu tidak terbatas, asal manusianya mau berusaha.

Jika manusia tidak merusak alam, maka alam akan menyediakan energi untuk kehidupan kita. Saya yakin itu. Masih banyak yang disediakan alam untuk kita olah sebagai energi pengganti fosil. Masalahnya mau atau tidak kita meriset dan serius ke arah sana.

Apa kegiatan Anda sekarang?

Saya masih seperti biasa, jadi pembicara di dalam dan luar negeri. Melakukan perjalanan ke daerah terpencil bertemu kepala daerah yang ingin rakyatnya terjangkau listrik dan mendiskusikan pendekatan pembangunan yang berkelanjutan.

Juga yang penting saya terus mendidik anak anak muda, dalam kegiatan patriot energi, patriot desa untuk Jawa Barat, Wirabangsa dan sekarang sedang menyiapkan Wirakerti untuk anak anak Muda Bali dengan Universitas Hindu yang mengajarkan kearifan lokal kepada mahasiswa mahasiswanya.

Kami juga punya  kegiatan Life Learning Farm dengan petani petani yang mau belajar organik, juga sistem tanam yang berkelanjutan dan sehat tanpa pestisida dan pupuk kimia. Kegiatan ini didukung oleh Wakil Ketua MPR ibu Lestari Murdiyat dan Kementan. Sehingga harapan kita petani bisa hidup lebih baik dan memproduksi sayur dan beras serta buah yang sehat dikonsumsi.

Aktif di BRIN dan jadi Dewan Pakar METI, apa yang Anda lakukan?

Di BRIN kita selalu berusaha mencari pemecahan atas masalah masalah riset yang ada juga karena masih dalam masa transisi kita masih berbenah dulu di internal agar sistem riset kita yang terpusat ini mampu memberi manfaat buat masyarakat Indonesia.

Kalau sebagai dewan pakar METI kami secara bersama berusaha mencari jalan bagaimana energi terbarukan bisa menjadi energi utama bukan alternatif. Berusaha menjadi mitra pemerintah dalam usaha memajukan energi terbarukan.

Artikel Terkait

Terkini