Mia Krisna Pratiwi sadar lingkungan bersih dan kondusif, awal kehidupan lebih produktif dan nyaman. Mari belajar kelola sampah dari Direktur Griya Luhu ini

Koridor.co.id

Mia Krisna Pratiwi-Foto: Dokumentasi Pribadi.

Direktur Griya Luhu Mia Krisna Pratiwi bersyukur bergabung dengan Griya Luhu yang bermarkas di Jalan Merak, Beng, Gianjar, Bali memembuatnya mendampingi masyarakat lokal untuk menjadi subyek dalam mengelola sampah secara mandiri dan berbasis sumber.

Selain itu lembaga yang kini dipimpinnya mendorong digitisasi bank sampah konvesional ke digital agar lebih efisien, efektif, transparan dan manajemen data yang bertanggung jawab.

Begitu lulus dari Jurusan Teknik Lingkungan ITB, perempuan berusia 26 tahun ini pulang kampung untuk “ngayah” agar bisa mengeksplor dirinya di organisasi lokal Griya Luhu yang diinisiasi anak muda Bali.

Mengawali karir sebagai manager proyek  untuk bank sampah yang telah didampingi Griya Luhu. “Kala itu, kami dipercaya mendampingi 1 bank sampah di salah satu desa di Tampaksiring, Gianyar,” kata Mia Krisna Pratiwi kepada Irvan Sjafari dari Koridor melalui WhatsApp, 29 Desember 2022.

Dari 1 bank sampah ini, Griya Luhu berkembang menjadi 3 bank sampah unit di tahun 2019. Sampai saat ini, Griya Luhu telah mendampingi 114 bank sampah unit di 28 Desa di Kabupaten Gianyar. 

Kerja kerasnya membuat Mia mendapat anugerah menjadi Perwakilan Perempuan Indonesia dalam daftar BBC 100 Women 2021 dan  AVANI’s 4 Inspiring Balinese Women 2022. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana ceritanya Mia bisa terlibat dalam gerakan membersihkan Bali dari sampah plastik dan sejak kapan?

Saya memiliki latar belakang pendidikan di bidang lingkungan, tepatnya Teknik lingkungan. Setelah lulus, kembali ke Bali di awal 2019. Untuk mengisi waktu dan eksplore diri, saya bergabung dengan organisasi lokal yang memang diinisiasi oleh anak muda Bali sebagai wadah aktualisasi diri sambil mencari pekerjaan utama. Dengan modal ilmu yang saya dapat dan diwadahi organisasi Griya Luhu menjadi cikal saya “Ngayah” untuk Bali.

Keterlibatan Mia di sini sebagai Manajer Operasional, apa saja tugasnya?

Saat saya bergabung di Griya Luhu, kerjaan pertama saya adalah sebagai project manager untuk bank sampah yang telah didampingi Griya Luhu. Kala itu, kami (Griya Luhu) dipercaya mendampingi 1 bank sampah di salah satu desa di Tampaksiring, Gianyar. Dari 1 bank sampah ini, kami berkembang menjadi 3 bank sampah unit di tahun 2019. Sampai saat ini, Griya Luhu telah mendampingi 114 bank sampah unit di 28 Desa di Kabupaten Gianyar.

Apakah Griya Luhu hanya fokus ke sampah plastik?

Griya Luhu tidak hanya berfokus ke sampah plastik. Salah satu kegiatan utama kami adalah Bank Sampah Digital. Bank sampah menjadi salah satu implementasi nyata mengurangi timbulan sampah anorganik ke TPA. Kami bergerak dari desa ke desa untuk menjadi solusi dari permasalahan sampah yang dihadapi oleh desa. Target utama kami adalah desa di kelas menengah ke rendah untuk memberikan akses persampahan yang adil.

Apa saja awalnya dikerjakan?

Tugas saya kala itu sebagai manajer operasional Griya Luhu adalah mendampingi desa. Mendengarkan permasalahan yang dialami oleh desa, merumuskan solusi yang tepat guna, memberikan edukasi tentang persampahan, memberikan bimbingan teknis aplikasi, mengajarkan teknis operasional bank sampah.

Kami juga mendampingi kader (petugas bank sampah) ketika bank sampah buka, monitoring sistem, mengadakan evaluasi dan improvisasi sistem sehingga bisa fit sesuai kondisi yang dihadapi oleh masyarakat desa. Selain itu, saya juga bertanggung jawab terhadap operasional gudang utama di Griya Luhu.

Bagaimana Organisasi  Griya Luhu mengembangkan bank sampah digital, sebuah sistem berbasis aplikasi untuk mengumpulkan dan memproses sampah dengan lebih baik. Bagaimana cara bekerjanya?

Aplikasi Griya Luhu adalah tools yang kami buat untuk mendukung operasional bank sampah binaan kami. Tujuannya simpel, kami ingin mengukur hasil kerja. Membuat sistem bank sampah menjadi lebih transparan, akuntabel, efisien dan efektif. Fitur yang ada di dalam apps kami mampu mengakomodasi kebutuhan dasar untuk menunjang operasional bank sampah dan bisa digunakanuntuk semua kalangan dan terbukti para kader (pengurus bank sampah) kami di desa yang notabene perempuan yang rentang usianya 30-50 tahun, mampu menggunakannya dengan sangat baik. Aplikasi kami dapat diunduh secara gratis melalui playstore.

Aplikasi kami tersedia untuk 3 tingkatan. Pertama untuk nasabah, tujuannya sebagai pengganti buku tabungan manual. Nasabah dapat memperoleh informasi jumlah tabungan dan jenis item yang ditabung sesuai tanggal mereka menabung. Kedua untuk kader (sebagai teller), mereka yang menginput jenis dan berat item yang ditabung oleh nasabah serta mengirimkan jadwal pengangkutan ke bank sampah induk (Griya Luhu). Ketiga ada dalam versi desktop, fitur utamanya adalah custom item, setting harga serta generate laporan keuangan bank sampah.

Sejak kapan dan sampai saat ini sudah berapa sampah plastik dikumpulkan? Jaringannya sampai ke mana saja? Sampai saat ini sudah melibatkan relawan berapa? Bagaimana caranya?  Ke depannya bagaimana?

Setiap bulan Griya Luhu menerima sampah anorganik 13-20 ton. Sebanyak 60% dari total komposisi sampah yang kami terima adalah plastik, baik botol plastik atau plastik lembaran seperti kresek dan sachet. Lalu, 40% lainnya terdiri atas kertas, logam, kaca dan lainnya. Untuk di Bali kami telah menjalin kerja sama dengan 7 kabupaten dari 9 kabupaten/kota di Provinsi Bali.

Selain di Bali kami juga telah bekerja sama dengan lembaga swasta dan pemerintah di Kota Medan, Kota Surabaya, Cilacap, Pangandaran, Purbalingga, Kota Balikpapan, Samarinda dan Penajam Pasir Utara. Kami selalu terbuka untuk setiap kolaborasi yang membawa kebaikan dan komitmen. Griya Luhu ditunjang oleh 13 orang dalam keorganisasiannya yang disebar ke beberapa divisi. Sedangkan di lapangan, kami dibantu oleh 9 orang staf pilah dan 3 orang supir.

Ada kesetaraan gender yaitu 50% dari relawan?

Sebanyak 62% orang dalam organisasi kami adalah perempuan. Dan kami memerdayakan hampir 450 orang perempuan di desa sebagai kader bank sampah kami.

Rencana ke depan?

Rencana ke depan Griya Luhu adalah bermitra dengan seluruh kabupaten/kota di Provinsi Bali. Berkolaborasi dengan pihak swasta/pemerintah di provinsi/kabupaten/kota di Indonesia, terutama Indonesia timur. Kami ingin sampai di Papua bahkan ke luar negeri dengan membawa sistem yang kami telah buat. Serta menjadikan Griya Luhu juga sebagai education center untuk belajar tentang mendampingi masyarakat dalam berbuat aksi lingkungan dengan menyisipkan nilai budaya Bali di dalamnya.

Bisa ceritakan sebuah pengalaman Mia paling berat dalam membersihkan sampah plastik dan di mana lokasinya?

Tantangannya klasik, yakni membuat banyak orang sadar dan mengubah masyarakat yang awalnya sebagai objek sosialisasi menjadi subjek yang berdaya melakukan aksi nyata. Saya sadar, untuk menumbuhkan kesadaran tidak simple dan gampang seperti memberikan sosialiasi di sekali waktu. Butuh kebesaran jiwa untuk mendengarkan tantangan dan hambatan yang dihadapi masyarakat kita serta selalu rendah diri belajar di masyarakat untuk menemukan solusi yang pas.

Pendampingan berkelanjutan, kunci yang tepat untuk membentuk kebiasaan baru ini. Selain itu, untuk menyelesaikan masalah persampahan yang lebih struktural kita perlu berpikir kritis dari aspek kelembagaan, peraturan, pendanaan, teknis serta partisipasi masyarakat termasuk stakeholder di dalamnya. Lima aspek ini harus terhubung satu sama lain.

Bagaimana cara agar masyarakat mau berpartisipasi dalam gerakan lingkungan hidup apakah cukup dengan melibatkan mereka di bank sampah?

Bank sampah adalah solusi yang paling gampang dan murah untuk dilakukan oleh masyarakat. Terutama bagi desa yang belum memiliki fasilitas atau sarana persampahan yang memadai. Cukup menyiapkan timbangan, tali, karung dan menyebarkan jadwal disepakati untuk buka, maka bank sampah sudah bisa berjalan.

Untuk menyelesaikan masalah persampahan, tidak cukup 1 solusi saja. Masih ada PR yaitu jenis sampah organik dan residu. Sebanyak 60-70% dari total komposisi sampah di rumah tangga adalah organik. Hal sederhana yang bisa dilakukan yaitu mengomposkannya.

Saat ini sudah banyak teknik composting, tinggal dipilih yang cocok. Dan seharusnya jenis sampah yang masuk di TPA adalah residu saja. Sehingga sustainable landfill (TPA berkelanjutan) bisa terwujud.

Cara menggerakkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat yang paling kuat adalah faktor pemimpin atau tokoh masyarakat sepanjang pengalaman kami. Apalagi di Bali, kekuatan adat memegang peranan vital untuk mempercepat solusi persampahan.

Kami mendorong pembentukan peraturan berbasis desa adat dan dinas di dalamnya. Serta penegakan peraturan tersebut. Selain itu, untuk generasi muda, kami membuka pintu untuk belajar langsung di fasilitas Griya Luhu. Kami juga telah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Bali dan luar bali dalam program merdeka belajar.

Apa yang menyebabkan problem sampah plastik di Bali? Apa imbas industri pariwisata? Sebesar apa problem itu?  Solusinya seharusnya bagaimana menurut Mia?

Problemnya adalah masih banyak dari kita yang merasa belum terjadi masalah selama sampah di depan rumahnya diangkut atau tidak ada di depan matanya yang artinya tidak ada masalah yang terjadi.

Khusus untuk masalah sampah plastik, kita perlu menilik masalah ini lebih ke hulu. Ini tentang sesuatu yang lebih sistematis dan kompleks. Dari pelaku produsen, distributor dan konsumen serta penerapan prinsip teknologi bersih hingga upaya pengelolaan post product, komitmen dan bentuk kompensasi lingkungan yang harus dilakukan. Untuk merumuskan ini, kita perlu duduk bersama untuk semua stakeholder di dalamnya.

Tentu saja ada imbasnya, apalagi sektor tumpuan Bali adalah pariwisata. Wisatawan akan ogah berkunjung ke lokasi wisata yang kotor dan jorok. Akhirnya sudah bisa diprediksi, angka kunjungan di lokasi tersebut akan menurun.

Apakah Mia memang sejak muda mencintai lingkungan hidup?  Itu sebabnya masuk Teknik Lingkungan ITB? Aktivitas lingkungan hidup apa yang  Mia lakukan pertama kali?

Pengetahuan saya saat kecil tentang lingkungan hanya sebatas tidak boleh membuang sampah sembarangan. Saya tidak tahu kalau definisi lingkungan sendiri cukup kompleks dengan adanya interaksi antara tiap komponen di dalamnya.

Cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi dokter. Sama seperti kebanyakan anak-anak pada zaman saya, kalau tidak dokter, yaaaa jadi polisi, guru atau presiden.

Saya mengubah pilihan hidup karena sadar lingkungan yang bersih dan kondusif adalah awal kehidupan yang lebih produktif dan nyaman. Bisa berkontribusi menjaga lingkungan sebagai upaya preventif sebelum masalah lebih serius tiba jadi hal yang ternyata lebih menarik bagi saya. Setelah lulus, cita-cita saya adalah menjadi tukang sampah, dan apa yang sedang saya jalani kini adalah bagian dari ikhtiar itu. ITB adalah kampus pilihan saya untuk mendalami dan memberikan pondasi yang sesuai.

Aktivitas lingkungan berkesan yang pertama kali saya lakukan adalah mengambil sampel air comberan di selokan warga selama 24 jam diterjang panas dan hujan untuk mengetahui kadar zat toksik di dalamnya.

Artikel Terkait

Terkini