Lamdahur Pamungkas: Bangga sejarah kami dari mahasiswa kampus borjuis, jadi kaki tangan rakyat

Koridor.co.id

Lamdahur Pamungkas-Foto: Dokumentasi Pribadi

Patah tumbuh hilang berganti demikian kata ungkapan. Sekali pun sudah genti generasi dan peristiwa 12 Mei 1998 sudah dua puluh lima tahun berlalu, setiap mahasiswa Universitas Trisakti harus meneruskan tongkat estafet, agar kasus ini tidak sekadar hanya jadi seremoni tahunan, apalagi komoditas politik pihak tertentu.

Wakil Presiden Mahasiswa Usakti Lamdahur Pamungkas adalah salah seorang penerus perjuangan itu. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Angkatan 2018 sampai tiga hati kurang tidur demi menjalankan program peringatan hari wajib bagi seluruh civitas akademika itu.

Berikut petikan wawancara dengan anak muda yang karib disapa Lamda ini dengan Irvan Sjafari dari Koridor melalui WhatsApp, Sabtu 13 Mei 2023.

Unjuk rasa di Patung Kuda-Foto: Dokumentasi Pribadi.

Apa saja agenda Presma Trisakti  untuk memperingati 25 tahun 12 Mei 1998 ini? Waktu unjuk rasa di Monas apa tuntutannya? Berapa pesertanya?  Targetnya apa?

Kita menyiapkan beberapa rangkaian agenda Pra Kondisi 12 Mei Reformasi, 12 Mei sampai Pasca 12 Mei itu. Sebelumnya kami mengadakan rangkaian kegiatan diskusi mengungkit HAM Papua dalam internal kampus dan setelah dari itu ada agenda Malam Gelora sebagai perenungan bersama sesama civitas akademika mengenai tragedi Trisakti 12 Mei dan mengupas penyelesaian yudisial dan Non Yudisial kasus 12 Mei.

Setelah 25 tahun berlalu, sebagai generasi baru yang bahkan belum tentu lahir pada 1998 memahami Peristiwa 12 Mei 1998? Apa pelajaran yang bisa dipetik?

Benar, saya pada saat itu belum lahir. Tetapi saya sebagai Mahasiswa dari Trisakti ataupun bukan dari Mahasiswa Trisakti berhak melakukan partisipasi politik berpendapat mengenai kasus TSS ini. Terlebih sebagai anak Trisakti, ini sudah hukumnya kewajiban yang tertulis jelas setiap era dan generasi wajib merawat, menularkan, mengadvokasi kasus TSS/12 Mei Reformasi ini. Selain kewajiban, sudah bentuk kebersamaan bahwasannya kami punya sejarah yang besar yang mampu mengubah keadaan Order Baru ke Reformasi dan identitas kami pula sebagai Kampus Pahlawan Reformasi.

Seandainya Anda berada di situ apa yang Anda rasakan?

Seandainya saya sebagai peserta Aksi 1998, tentu rasa trauma, kecewa, marah ini yang akan saya akumulasikan untuk tetap bergerak pada nilai-nilai ideal 12 Mei Reformasi dan yang saya akan tanamkan memori ingatan saya pada setiap generasi Mahasiswa Trisakti.

Setelah 25 tahun apa semua keinginan reformasi sudah tuntas, termasuk juga pada pemerintahan Jokowi soal HAM? Apa catatan Anda?

Jangan puas. Poin setelah dari Reformasi 1998 harus kita amalkan jangan sampai pernah terulang lagi lewat kebijakan publikĀ  yang menyerupai Orde Baru. Selain KKN, ancaman kita masih sama. Bagaimana negara masih bergantung pada institusi TNI pada ranah Sipil.

Konteks Pemerintahan Jokowi 2 Periode ini, kami melihat masih belum mengamalkan keseluruhan dari tuntutan Reformasi 1998, terutama akan nawacitanya terkait Penyelesaian HAM Masa lalu, semangt HAM nya hanya jualan masa kampanye politik beliau saat 2014 dan 2019.

Bermesraan di panggung politik dengan Terduga pelaku penembakan, bertari ria dengan para politisi. Catatan kami, kami bukan hanya menuntut janji politik namun menuntut integritas Joko Widodo terhadap janji ia yang didengar Masyarakat dan disaksikan oleh Tuhan.

Bagaimana sih pandangan kawan-kawan mahasiswa Trisakti terhadap peristiwa 12 Mei 1998, apakah mereka sudah kurang peduli? Atau ada juga yang menyimpan rasa kebanggaan terhadap almamaternya yang menjadi pendobrak reformasi dan berakhrnya Orde Baru dalam sembilan hari?

Pandangan dari Mahasiswa Trisakti terhadap kasus ini jelas sudah suatu keharusan untuk ambil peran partisipasi lewat berbagai cara/media. Kami bangga dengan sejarah yang kamiĀ  punya, kampus kami dikenal dulunya sebagai borjuis yang minim simpatik akan kondisi negara tetapi semua berbalik keadaannya kami akan selalu jadi yang pertama dalam penyambung kaki tangan rakyat ke Pemerintah.

Banyak metode pengaplikasian kami untuk menyuarakan 12 Mei 1998. Kepeduliaan Mahasiswa masih tinggi, tetapi memang saya akui, adanya perbedaan generasi ini menuntut saya dan teman teman untuk menularkan semangat nilai Reformasi dan mengedukasi mahasiswa konflik nyata akan kekerasan aparat, penembakan peluru tajam selama demonstrasi 1998 dengan memvisualisasikan cerita dan menghadirkan pelaku sejarah.

Ke depan mau melakukan kegiatan lagi Presma? Bagaimana Anda memandang gerakan mahasiswa sekarang? Apakah masih kritis di era gawai ini?

Jelas ada, kami dalam waktu dekat akan kembali aksi dengan Mahasiswa yang lebih masif. Aksi nanti, kami akan mendorong adanya pembentukan Pengadilan HAM ad hoc. Sebagai proses lanjutan tahapan penyidikan TSS.

Artikel Terkait

Terkini