Geram terima SMS provider pada dini hari, pengamat penerbangan Alvin Lie beri ultimatum

Koridor.co.id

Alvin Lie. (Sumber foto: istimewa).

Mantan Anggota Ombudsman itu mengungkapkan kegeramannya dengan memposting tangkapan layar gawainya yang menunjukkan SMS dari salah satu provider tanah air. Kekesalannya kembali muncul setelah tiga tahun lalu ia juga sempat menggugat salah satu provider lainnya, berbeda dengan yang sekarang.

Wajarlah Alvin Lie marah. SMS dari provider tersebut diterimanya pada pukul 02.14 dini hari dengan isi bertuliskan nominal batas pemakaian domestik paket layanan di provider tersebut. Pesan receh sebenarnya, tetapi sampai di telepon genggam pada jam yang kebanyakan orang sedang terlelap, kelelahan setelah seharian beraktivitas.

Mohon tanggapan & penjelasan @Telkomsel Apa yg sedemikian urgent dgn pesan ini hingga harus dikirim kpd pelanggan jam 02:14 WIB? Tidakkan kalian punya etika? Tidak hormati hak pelanggan utk istirahat? Ingin saya gugat ke Pengadilan seperti provider sebelah? @kemkominfo,” cuit Alvin dalam Twitternya, Minggu, 26 Maret 2023.

Cuitan Alvin pun direspons warganet yang juga mengalami hal serupa. Mantan anggota DPR RI dari PAN itu, turut meretweetnya sebagai bentuk kegeramannya terhadap provider tersebut.

Untuk mengetahui lebih dalam atas kegelisahannya itu, Pipit Aprilia Rahapit dari Koridor mewawancarai Alvin Lie pada Senin, 27 Maret 2023 berikut isi perbincangannya: 

Berapa kali mendapatkan SMS dari provider di jam dini hari? Pada saat itu apa yang dirasakan dari segi psikologis?  

Yang sering itu dahulu dari provider lain, dan sempat saya gugat ke pengadilan. Awalnya saya cuma peringatkan kemudian berhenti beberapa hari, tetapi kumat lagi jam 2 dan jam 3 dini hari, pagi kirim lagi. Kemudian saya peringatkan lagi dua sampai tiga hari. Itu sangat mengganggu. 

Saya ingat sekali waktu itu tahun 2020, salah satu anggota keluarga saya sedang dirawat di ICU di rumah sakit, sehingga ketika ada SMS masuk pada dini hari, tentunya saya terjaga dengan was-was ada berita buruk. 

Nah itu yang menyebabkan kemudian saya mengingatkan provider tersebut. Ternyata hanya baik beberapa hari, kumat lagi beberapa hari kemudian, yang akhirnya saya gugat ke pengadilan. Mereka minta damai. 

Pada prinsipnya ini untuk pelajaran. Itu pun saya menggugat ganti rugi hanya Rp100 karena pecahan uang terkecil itu Rp100. Saya tidak mencari keuntungan dari gugatan tersebut. Itu merupakan pelajaran bahwa para provider ini harus menghormati privasi dari pelanggannya.

Dalam Undang-undang juga dicantumkan bahwa dilarang melakukan penawaran atau urusan bisnis di luar jam kerja. Itu yang ingin saya ingatkan. Kemudian dari sisi psikologi kebetulan pekerjaan saya dan kondisi saya itu tidak memungkinkan untuk mematikan handphone. Handphone saya ini hidup 24 jam, dan tidak mungkin saya silent mode

Pekerjaan saya ini tidak hanya berkaitan dengan pihak di Indonesia tapi juga pihak di luar negeri yang mana perbedaan waktu yang kadang saya pun harus siap mendapatkan panggilan di luar pada saat jam 1 dan 3 pagi. Tetapi, itu biasanya pada janji dulu atau jika kondisi sangat mendesak.

Anak-anak saya juga tinggal di luar negeri, sehingga saya juga tidak bisa mematikan handphone. Ada netizen yang komentar “Ya disilent mode saja”. Andaikan kondisi saya memungkinkan bukan hanya silent mode, handphone pun saya matikan. 

Kemudian setiap kali ada pesan masuk pada dini hari, itu di luar hal-hal tugas. Saya sangat kesal karena kecuali orang-orang yang sudah saya beri izin untuk menghubungi saya, jadi yang benar-benar urgent saja.

Bagaimana melihat sejumlah provider bahkan ada juga marketplace memiliki kebijakan mengirim pesan SMS di luar jam kerja? Seperti apa sikap untuk mereka?

Mengenai marketplace dan sebagainya, kalau marketplace rasa-rasanya marketplace tidak, marketplace itu biasanya mengirim pesan hanya melalui aplikasinya tidak melalui SMS ataupun WhatsApp. Jadi, saya biasanya yang masuk SMS itu adalah SMS sampah dari penawaran kredit kemudian yang aneh-aneh itu. 

Maka dari itu saya pernah mengajukan ke provider bisa gak SMS itu dimatikan saja. Tidak usah ada SMS. Karena tidak ada nilainya bagi saya, ternyata tidak bisa. Bagaimana lagi kan?

Sempat singgung dalam Twitter soal etika dan tanda hormat untuk istirahat kepada para pelanggan, sejauh apa provider harus aware terhadap etika? Apakah berarti selama ni mereka terlambat memahami etika?

Mengenai etika saya mempertanyakan kalau memang ada pemberitahuan yang sangat penting, misalnya ada gempa bumi, ada bencana besar, yang harus disampaikan segera, itu tentunya saya dapat memahami. 

Tapi kalau hanya mengingatkan bahwa kuotanya akan habis atau untuk memperpanjang atau sejenisnya, apalagi yang sifatnya promosi, itu kan tidak ada pentingnya disampaikan pada saat-saat di luar jam kerja. Apalagi dikirim pada dini hari.

Ini yang saya maksud, mereka tidak punya etika ketika pelanggan butuh istirahat, butuh privasi tetap saja diganggu dengan SMS sampah-sampah yang mereka kirim itu.

Saya tidak yakin para provider ini mempertimbangkan aspek dari sisi pelanggan, sesuka-suka diri mereka saja. Ini yang saya sayangkan. Saya bandingkan di luar negeri, bahkan telemarketing itu harus punya izin. Tidak semua orang bisa melakukan telemarketing, mengirim SMS, menelpon seseorang dan pelanggan seluler bisa mendaftarkan nomornya untuk tidak dihubungi telemarketing mana pun.

Bagi yang melanggar, itu ada sanksi hukumnya. Di Indonesia ini tidak ada perlindungan terhadap pelanggan seluler. Jadi di luar negeri itu pada umumnya begitu. Bahkan di Singapura, yang terdekat saja itu, ada perlindungan bagi kita yang tidak mau dihubungi oleh telemarketing, misalnya. Kita bisa mendaftarkan nama kita, dan itu tidak boleh dihubungi oleh telemarketing mana pun. 

Jika pihak provider tidak kunjung mengubah kebijakannya dalam mengirimkan SMS pada jam dini hari, apa yang akan dilakukan?

Saya tidak segan mengambil langkah hukum, saya gugat juga ke pengadilan. 

Artikel Terkait

Terkini