Bisnis pertunjukan musik langsung dan creative hub mandek selama pandemi. Bagaimana cara manajer band Seringai mengatasinya?

Koridor.co.id


Wendi Putranto menyebut pekerja kreatif harus selalu punya solusi kreatif dalam kondisi sesulit apa pun. (Foto: Ejha Rawk/Koridor)
Wendi Putranto menyebut pekerja kreatif harus selalu punya solusi kreatif dalam kondisi sesulit apa pun. (Foto: Ejha Rawk/Koridor)

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Satu pepatah untuk menggambarkan kondisi yang dirasakan Wendi Putranto, manajer band Seringai dan Program Manager M-Bloc Space, sepanjang pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia. “Selama pandemi kayaknya gue yang paling apes, deh,” ujarnya tersenyum getir saat ditemui Koridor di salah satu sudut M Bloc Space, Senin (30/5/2022) malam.

Pasalnya, dua bidang pekerjaan yang selama ini digelutinya turut terkena dampak paling keras. Sebagai manajer band, otomatis pemasukan dari hasil menggelar konser langsung seret kurun dua tahun terakhir. Padahal sebelumnya unit band musik cadas yang anggotanya terdiri dari Arian Arifin (vokalis), Ricky Siahaan (gitaris), Sammy Bramantyo (bassis), dan Edy Khemod (drummer) termasuk band dengan jadwal panggung paling padat.

Tambah lagi para personel Seringai juga tak mau menyanggupi tawaran konser virtual, sebuah format konser yang paling sering diselenggarakan selama pandemi.

Asa mendapat pemasukan dari aktivitas transaksi ekonomi yang berlangsung di M Bloc Space, creative hub di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, juga ibarat meninju angin. Penerapan PPKM hingga ke level maksimal di ibu kota membuat perputaran roda M Bloc praktis macet.

Lantas, apa yang membuatnya tetap bisa bertahan melewati gelombang pandemi? Silakan baca hasil wawancara berikut.

Waktu pandemi bagaimana situasi di dalam jajaran manajemen dan band Seringai?

Seringai terakhir manggung 16 Desember 2019. Kami tidak punya firasat atau gambaran apa-apa bagaimana nanti tahun 2020. Seharusnya 4 Maret menjadi show pertama Seringai di 2020. Kami dapat undangan main di Malaysia bareng Raisa dan Slank juga. Acara festival musik. Namun, pada Februari panitia mengabarkan bahwa acara tersebut ditunda ke Agustus 2020 lantaran Covid-19 sudah masuk ke Malaysia. Padahal semua kru dan personel sudah mengumpulkan paspor bersiap menuju Malaysia.

Tidak lama kemudian ada kabar bahwa Olimpiade di Tokyo juga ditunda karena pandemi. Dari situ kami berpikir bahwa pandemi ini sesuatu yang serius. Terlebih saya juga mengurusi M Bloc Space yang bisnisnya memang mengandalkan kerumunan orang-orang.

Praktis sejak pertengahan Maret 2020 band tidak ada aktivitas. Kami semua hanya bisa menunggu. Padahal, biasanya Maret banyak volume manggung. Waktu itu kami masih beranggapan pandemi ini hanya berlangsung paling lama empat bulan. Ternyata dua tahun lebih. Hingga hari ini Seringai belum manggung lagi.

Kenapa? Kan ada konser-konser virtual?

Tawaran sebenarnya banyak banget, mulai dari klien, brand, agent, hingga promotor konser. Cuma para personel Seringai enggak mau. Karena musiknya Seringai itu sangat interaktif, dinamis, dan menomorsatukan full body contact. Itu hal-hal yang hilang dalam konser virtual. Jadinya tidak beda dengan bikin videoklip. Puluhan tawaran manggung secara virtual terpaksa kami tolak. Sebagai manajer saya akhirnya juga tidak bisa memaksakan.

Dengan kondisi tidak manggung, bagaimana nasib kru Seringai yang merupakan pekerja kreatif harian yang honornya dari aktivitas konser?

Kami akhirnya bikin program bantuan sembilan bahan pokok buat kru setiap bulan. Juga bikin program benefit merchandise untuk mereka. Intinya dalam menjalani momen berat ini kami give back ke keluarga terdekat. Ketika ada dari kru Seringai yang mau buka usaha kecil-kecilan atau mendapat tawaran pekerjaan di tempat lain, kami membebaskan mereka.

Apa yang dilakukan untuk mengisi kekosongan panggung?

Akhirnya yang kami upayakan untuk terus jalan itu kanal-kanal media sosialnya Seringai. Kami bahkan mempekerjakan social media officer. Sesuatu yang sebelumnya kami tidak punya. Jadi sebagai pengganti Seringai tidak bermain, konten-konten digital di media sosial kami yang bermain. Tujuannya untuk tetap menjaga pemasukan dari sektor merchandise. Sebab pemasukan dari manggung benar-benar tidak ada.

Awal 2021 kami juga merilis video animasi “Ishtarkult”, single ketiga dari album Seperti Api yang juga menampilkan Danila Riyadi.

Dari sisi para personel bagaimana?

Anak-anak selain menekuni pekerjaan mereka di luar Seringai, mereka juga workshop persiapan album baru. Saat ini sudah jadi sekitar delapan lagu. Malah mereka belum pernah latihan lagu-lagu lama. Kebanyakan mengulik lagu-lagu baru. Ha-ha-ha.

Dari sisi M Bloc Space bagaimana?

Sejujurnya 2020 ini adalah tahun yang berat buat gue pribadi dan juga M Bloc. Tempat ini baru running sekitar enam bulan sudah dihajar pandemi. Awal April, salah satu pendiri tempat ini, Glenn Fredly, meninggal dunia.

Dengan berat hati M Bloc terpaksa kami tutup karena efek pandemi semakin besar. Kami juga harus memberhentikan 12 orang pegawai Live House karena otomatis selama pandemi tidak ada show di tempat ini. Beberapa tenant juga akhirnya tutup.

Bayangkan dari yang sebelumnya tempat ini ramai pengunjung, tiba-tiba jadi sepi. Benar-benar enggak ada orang.

Kurun dua tahun terakhir kan sempat ada beberapa kali pelonggaran PPKM, apa pengaruhnya bagi M Bloc?

Enggak berpengaruh sama sekali. Venue musik di sini tutup selama dua tahun sejak 2020. Tutup dalam artian kami tidak bisa bikin pertunjukan yang mengundang banyak orang. Tempat itu difungsikan sebagai studio untuk produksi konten. Masalahnya yang bikin konten untuk studio sebesar ini juga tidak banyak karena biaya sewanya mahal. Ongkos produksinya juga enggak murah.  Jadinya tempat itu banyak kosongnya.

Bagaimana strategi kalian berakselerasi?

Kami coba masuk lewat layanan pesan antar makanan dan minuman via aplikasi. Ternyata enggak berhasil. Karena orang datang ke M Bloc itu tujuan utamanya bukan untuk makan dan minum, tapi untuk berkumpul, berinteraksi, dan menikmati suasana sambil makan. Situasi itu bikin kami semua putar otak bagaimana caranya agar tempat ini bisa bertahan di tengah hantaman pandemi.

Akhirnya kami buka M Bloc Market, sebuah bisnis jual beli bahan-bahan makanan kebutuhan pokok yang 80% pasokannya dari UMKM lokal yang kami kurasi. Sesuatu yang awalnya tidak ada dalam rencana atau skenario kami. Karena waktu itu salah satu tempat yang tidak bisa tutup selama pandemi adalah groceries.

M Bloc Market jadi penyelamat tempat ini selama pandemi. Sebab orang-orang enggak mungkin enggak beli sembako. Sekarang cabang M Bloc Market sudah buka di Jambi, Padang, dan Medan.

Melihat kondisi pandemi sekarang dan kebijakan dari pemerintah yang juga semakin melonggar, bagaimana Seringai meresponsnya?

Tawaran manggung sudah datang kepada kami sekitar Februari-Maret yang lalu. Kontrak main pertama yang kami tandatangani pada tahun 2022 adalah JogjaRockarta Festival. Tapi acaranya nanti September 2022. Kami semua sangat antusias begitu dapat tawaran manggung lagi setelah dua tahun terpaksa vakum. Apalagi setelah itu masuk lagi tawaran main di festival-festival musik lain. Sejauh ini Seringai sudah teken kontrak untuk tampil dalam tujuh acara musik.

Kami juga sudah mengagendakan High Octane Festival. Pasalnya tahun ini Seringai genap 20 tahun. Isinya nanti bukan cuma pementasan musik, tapi juga akan ada pameran. Kita tahu Seringai juga dikenal dengan artwork-artwork-nya. Jadi itu nanti yang akan kami pamerkan.

Secara umum, bagaimana melihat bisnis pertunjukan musik setelah pandemi makin melandai ini?

Saya, sih, optimistis akan cepat bergairah lagi. Karena saya lihat sendiri waktu tempat ini beberapa kali jadi acara konser. Ramai yang datang nonton. Sold out. Masyarakat sudah haus pengin nonton acara musik langsung. Banyaknya acara-acara festival musik ini juga dirasakan manfaatnya oleh musisi beserta krunya. Setelah menganggur dua tahun, kini mereka dihajar job yang tidak putus.

Pelajaran berharga yang didapatkan dengan adanya pandemi ini?

Menabung. Ha-ha-ha. Sebab itu berguna untuk menalangi ongkos kebutuhan kita dalam menjalani periode gawat yang berlangsung lama seperti pandemi ini. Selain itu kita juga harus benar-benar kreatif. Seandainya kami waktu itu cepat menyerah dengan keadaan mungkin tempat ini sudah tutup. Untungnya pada masa-masa sulit itu kami tidak berhenti mencari jalan keluar dan akhirnya malah memperluas pasar. Kami membuka beberapa tempat baru di Yogyakarta, Padang, Jambi, Medan, Surabaya, dan Pos Bloc di Pasar Baru, Jakarta Pusat. 

Artikel Terkait

Terkini