Musisi Opik Bape anjurkan terobosan agar Bandung tetap dikenal sebagai barometer musik

Koridor.co.id

Opik Bape-Foto: Irvan Sjafari.

Sebelum pandemi Covid-19 tercatat setiap minggu pasti ada 3-4 pertunjukan musik walau pun skala kecil di Bandung.  Sejak pertengahan 1990-an hingga 2020 ada antara 200 hingga 300 band yang lahir di kota ini. Lalu setiap pertunjukan ramai dan kemudian ada beberapa institusi musik baik formal seperti STSI, UPI ada seni musik dan informal seperti sekolah musik Harry Roeslli.

Menanggapi potensi ini, Taufik Hidayat  dikenal di Kota Bandung dengan nama panggung Opik Bape menyampaikan untuk menjadikan musik sebagai daya tarik wisata memerlukan  EO yang bisa membuat festival musik.

Menurut musisi yang kini bergabung band indie: Madame & Toean  diperlukan  festival musik yang berlangsung minimal setahun  dua kali  dengan konsep menarik khusus untuk musisi indie bukan saja di Bandung, tetapi juga dari berbagai kota.

Berikut wawancara Irvan Sjafari dari  Koridor dengan Opik Bape pada Sabtu 4 Februari 2023.

Bagaimana pandangan Kang Opik tentang geliat  band dan musisi indie di kota Bandung (juga sebetulnya kota lain), setelah pelonggaran?

Sebenarnya sangat banyak band indie di kota Bandung yang produktif berkarya. Mereka banyak mengeluarkan single di masa pandemi untuk menyiasatinya dan berharap di masa longgar sudah bisa mulai promo secara offline.

Agis Bape sendiri bagaimana kabarnya?

AgisBape sudah lama bubar, sejak  2016. Sekarang saya bergabung dengan band indie vintage Madame & Toean, sedangkan Agis membuat proyek solo.

Menurut Kang Opik, apa yang membuat kota Bandung menjadi habitat yang baik untuk tumbuhnya musik-musik indie?

Selain faktor banyaknya kampus, kafe dan lain-lain, Komunitas musik lah yang membuat banyak band indie di Bandung sangat produktif berkarya. Sebutlah beberapa komunitas di Bandung seperti Komuji, Ruang Putih dan sebagainya yang banyak memberi ruang dan kesempatan untuk mengapresiasi karya-karya  para musisi indie.

Mengapa kolaborasi antarband dan musisi begitu mudah dilakukan di Bandung? Itu menimbulkan kesan bahwa musisi indie Bandung itu kompak?

Karena kebanyakan musisi sering berkumpul dan sharing di berbagai komunitas, dan saling mendukung satu sama lainnya.

Anda setuju  seharusnya Bandung jadi kota musik dengan banyaknya band indie yang lahir dari kota ini?

Bandung dari dahulu sangat dikenal sebagai barometer musik di Indonesia, tapi sempat bergeser karena sudah lama tidak memunculkan grup band yang bisa membuat band-band lain terinspirasi dan banyak belajar. Sebenarnya sangat banyak grup indie yang bagus di kota ini, cuma tinggal menunggu momen yang tepat aja di masa longgar ini dan menjadikan Bandung sebagai kota musik kembali.

Dengan potensi besar ini kan seharusnya menjadi daya dongkrak pariwisata, bahwa wisatawan datang ke Bandung bukan hanya ke Lembang atau kuliner tetapi juga menikmati aneka pertunjukan musik?

Kalau untuk mendongkrak pariwisata, menurut saya sih belum, karena daya tarik Bandung masih tetap di kuliner dan udara sejuknya. Dan pertunjukan musik apresiasi di Bandung pun masih kurang, masih banyak cafe to cafe yang rata-rata hanya menampilkan band-band yang membawakan lagu-lagu populer di luar karya mereka sendiri. Dan itu di setiap kota pun sama. Kecuali kalau Bandung ada kalangan atau EO yang bisa membuat festival musik minimal setahun  dua kali  dengan konsep yang menarik khusus unutk musisi indie dari berbagai kota.

Sayangnya ekosistem yang sudah bagus ini sepertinya kurang diperhatikan pemkot, Saung angklung Udjo  mati suri. Apa komentar Kang Opik?

Sebenarnya dulu pernah ada Festival Seni Bandung di masa kepemimpinan akhir Ridwan Kamil dan diteruskan oleh pak Oded, tetapi ini hanya bertahan selama  dua tahun dan tidak ada tindak lanjut kembali. Untuk Saung Udjo mungkin karena ada masa pembenahan di dalam internal mereka, sehingga gaungnya sekarang berkurang.

Ke depannya harus seperti apa agar musik indie ini terus tumbuh hingga bisa membuka lapangan kerja mulai dari musisi, manajemen, hingga kafe?

Agar ke depannya musik indie bisa lebih tumbuh, mungkin diperlukan peran aktif berbagai komunitas seni di Bandung guna merangkul dan memberi ruang buat mereka berkarya, juga pihak-pihak   sponsor yang bisa diajak bekerja sama. Terus dari pihak pemkot juga atau Disbudpar lebih bisa membuat program yang lebih inovatif dan tepat dalam rangka menjembatani musisi indie guna memperkenalkan karyanya, apakah dalam bentuk panggung, festival, gedung pertunjukan dan lain-lain.

Artikel Terkait

Terkini