Sekjen PBB Nilai Bahaya AI Sebanding Risiko Perang Nuklir

Koridor.co.id

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. (Foto: Reuters)

Jakarta, Koridor.co.id – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres mengeluarkan peringatan tentang bahaya kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) dan menyerukan pembentukan badan pengawas.

“Peringatan tentang bentuk kecerdasan buatan terbaru – AI generatif – cukup mengkhawatirkan,” kata Guterres pada konferensi pers di New York pada Senin 12 Juni 2023 sebagaimana dikutip Xinhua.

Ilmuwan dan pakar telah menyerukan dunia untuk bertindak, menyatakan AI sebagai ancaman nyata bagi umat manusia yang sebanding dengan risiko perang nuklir.

“Kita harus menanggapi peringatan itu dengan serius,” tambahnya.

Selama beberapa waktu terakhir, perusahaan seperti OpenAI, Google, dan Microsoft terus membangun sistem AI. Beberapa tokoh terkemuka di lapangan, termasuk Elon Musk, menuntut jeda pada perkembangan pesat dengan alasan risiko besar bagi masyarakat

Menurut Guterres, platform digital disalahgunakan untuk menumbangkan sains dan menyebarkan disinformasi dan kebencian kepada miliaran orang.

“Lonceng alarm atas bentuk terbaru kecerdasan buatan atau AI generatif ini sangat memekakkan telinga. Dan itu paling keras dari para pengembang yang merancangnya,” ujarnya.

Guterres mengatakan, akan menunjuk dewan penasihat ilmiah yang mencakup sejumlah ahli dari luar. Dewan ini juga akan melibatkan dua ahli AI dan kepala ilmuwan badan-badan PBB dalam beberapa hari ke depan.

Pada awal Mei lalu, tokoh ilmuwan penting yang dijuluki “guru besar AI” alias The Godfather of AI, Geoffrey Hinton mengundurkan diri dari Google, setelah lebih dari beberapa dekade mengabdi.

Dalam kesempatan yang sama, Hinton juga mengungkapkan potensi bahaya artificial intelligence.

Menurut pengakuannya, perjalanan karier membuat guru besar AI itu menyesal dan takut terhadap konsekuensi produk kecerdasan buatan yang ia kembangkan. Selama di Google, Hinton bisa dikatakan sebagai pelopor dari produk-produk yang mengandalkan kecerdasan buatan.

Produk generatif AI juga dinilai dapat menjadi alat menyebarkan informasi yang salah (misinformasi).

Teks, foto, video yang keliru dan tidak sesuai faktanya akan mulai berseliweran di dunia maya. Dalam waktu singkat, produk serupa juga memiliki risiko menggantikan pekerjaan manusia, atau bahkan bisa berdampak bagi umat manusia.

“Susah untuk mencegah aktor jahat menggunakannya (produk AI) untuk hal-hal buruk,” ucap Hinton. (Pizaro Gozali Idrus)




Artikel Terkait

Terkini