Pengamat: Netanyahu Defisit Kepercayaan, Dapat Tekanan Besar dari Publik Israel

Koridor.co.id

Dr. Ferooze Ali. (Foto: AMEC)

Jakarta, Koridor.co.id – Pengamat Hubungan Internasional Dr. Ferooze Ali menyampaikan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu akan mendapat tekanan besar di internal negara Zionis itu akibat banyaknya warga dan personel militer yang menjadi tawanan kelompok perlawanan Palestina.

“Ini membuatkan pilihan perang darat yang agresif menjadi pilihan yang sangat berisiko,” jelas periset senior di Research Fellow Asia Middle East Center for Research dan Dialogue ini kepada Koridor pada Minggu (8/10).

Ferooze mengatakan setiap korban di pihak Israel akibat tembakan dari jalur Gaza dapat berdampak pada kepemimpinan politik Netanyahu di Israel.

“Dia saat ini menghadapi defisit kepercayaan di antara para pemilih Israel,” ungkap peraih gelar Ph.D. Ilmu Politik dari Universiti Sains Malaysia ini.

Ferooze menjelaskan salah satu defisit kepercayaan yang kerap menghantuinya adalah terkait isu korupsi yang dijalaninya. Dia masih memiliki masalah korupsi di pengadilan meskipun dia adalah PM Israel.

Selain itu, usulan Netanyahu untuk melemahkan Mahkamah Agung dalam bentuk check and balance kekuasaan pemerintah pada saat mengambil suatu kebijakan atau policy.

“Bagi warga Israel biasa – ini menunjukkan bahwa Netanyahu ingin menjadi seorang diktator,” jelas dia.

Salah satu indikasi opini ini bisa dilihat dari pemberitaan di media Israel, Hareetz, pada hari ini.

Walaupun koran Israel tersebut adalah media sayap kiri tengah di Israel, artikel ini sendiri menunjukkan bahwa kemarahan dalam negeri terhadap Netanyahu sedang meningkat.

“Sekali lagi saya gariskan bahwa faktor yang berperan dalam dinamika saat ini tidak dapat ditebak seratus persen. Namun juga hal ini tidak boleh dikesampingkan dalam analisis yang lebih luas mengenai potensi eskalasi Israel dalam beberapa hari ini,” jelasnya.

Dia menambahkan kemungkinan mengapa tindakan Hamas ini tidak dapat ditebak oleh intelijen Israel salah satunya adalah karena kegagalan intelijen Israel itu sendiri.

Logikanya, Israel mengira bahwa setiap persiapan perang dari Hamas biasanya akan diikuti dengan indikasi nyata, yaitu persiapan taktis, seperti gerakan militer yang tidak biasa, penumpukan amunisi, latihan skala besar dan lain-lain.

“Namun, apa yang terjadi pada Sabtu pagi kemarin tidak diawali dari indikasi yang ada,” imbuhnya.

Momen Pembebasan Palestina

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut serangan Hamas tersebut justru bisa jadi momentum bagi Palestina untuk memperkuat heroisme dalam membebaskan rakyat dan bangsa Palestina yang dijajah dalam waktu yang cukup lama.

“Banyak momentum rakyat dan bangsa Palestina untuk meraih kemerdekaan,” ujar Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim.

Sudarnoto menilai serangan yang pertama kali diluncurkan oleh Hamas, bisa jadi pemantik bagi faksi-faksi lain seperti Fatah dan beberapa kelompok lain, untuk bersatu.

Mereka dirasa bisa mengkonsolidasi diri untuk memperkuat upaya kemerdekaan bangsa Palestina.

“Kami berharap betul setiap momentum untuk kedaulatan dan kemerdekaan Palestina bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh setiap faksi Palestina. Dengan cara ini, maka Israel akan semakin kehabisan waktu dan kekuatannya,” kata Sudarnoto menambahkan.

MUI memberikan dukungan pada Hamas yang melakukan serangan pada Israel tersebut. Mengingat perlakuan Israel kepada masyarakat Palestina yang tak ada ampun selama puluhan tahun.

“Serangan balasan Hamas merupakan reaksi terhadap tindakan sewenang-wenang otoritas Israel yang berlangsung sejak lama dan secara sistemik menghancurkan kedaulatan rakyat dan bangsa Palestina,” ucapnya menambahkan. (Pizaro Gozali Idrus)

Artikel Terkait

Terkini