Istana Bantah Kirim Andi Wijajanto Sebagai Utusan Khusus Bertemu Israel

Koridor.co.id

Pertemuan Andi Widjajanto (paling kanan) dengan sejumlah pejabat Israel (dok: Jewish Insider)

Jakarta, Koridor.co.id – Istana kepresidenan telah membantah laporan bahwa Andi Wijajanto yang diklaim sebagai penasihat presiden Joko “Jokowi” Widodo telah bertemu dengan delegasi Israel untuk menjalin hubungan diplomatik dengan negara tersebut.

Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia dan memiliki kebijakan luar negeri pro Palestina, tidak memiliki hubungan diplomatik dan berkali-kali mengecam Israel atas pendudukannya terhadap wilayah Palestina.

Koordinator Staf Khusus Presiden Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana menyatakan posisi resmi Jokowi selalu diwakili oleh pernyataan dan sikap Menteri Luar Negeri.

“Tidak benar Presiden sampai mengirim utusan khusus untuk berbicara dengan Israel. Untuk urusan Luar Negeri, Presiden menugaskan pada Menlu atau atas koordinasi dengan Menlu,” ujar Ari dalam keterangannya.

Ari juga menyampaikan bahwa Andi bukanlah penasehat Presiden Jokowi.

Andi menjabat sebagai Sekretaris Kabinet sejak 3 November 2014 hingga 12 Agustus 2015. Selanjutnya Andi menjabat Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional sejak Februari 2022 hingga Oktober 2023, jelas Ari.

“Andi Wijajanto adalah Gubernur Lemhanas sampai beliau mengundurkan diri pada 16 Oktober 2023,” terang Ari.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal menyatakan pihaknya tidak mendapatkan informasi soal pertemuan Andi Wijajanto dengan delegasi Israel.

“Kementerian Luar Negeri tidak mengetahui sama sekali mengenai pertemuan ini. Jadi kalau teman-teman mau meminta konfirmasi, silahkan ditanyakan kepada pihak terkait,” ujar Iqbal dalam keterangannya.

Hingga berita ini diturunkan, Andi belum memberikan keterangannya.

Sebelumnya, Jewish Insider, media berbasis di New York, pada Rabu (28/2) melaporkan tentang pertemuan Andi dengan sejumlah pejabat Israel yakni Mantan Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel Ronen Levy, mantan Penasihat Senior Departemen Luar Negeri untuk Integrasi Regional Dan Shapiro Joey Allaham, mantan Menteri Luar Negeri Israel Eli Cohen.

Pertemuan itu berlangsung pada September 2023 di Yerusalem untuk merancang hubungan diplomatik resmi antara Indonesia dan Israel sebelum Oktober 2023.

Indonesia dan Israel disebut-sebut telah menyetujui rancangan untuk bertukar kantor perdagangan sebagai langkah awal menuju hubungan diplomatik penuh.

Namun rencana itu batal terwujud usai kelompok perlawanan Palestina Hamas menyerang Israel Selatan pada 7 Oktober sehingga mengakibatkan meletusnya perang di Gaza yang hingga saat ini telah menewaskan lebih dari 30.000 orang di Gaza dan menciptakan krisis kemanusiaan di wilayah yang diblokade Israel sejak 2007 itu.

Dokumen MoU yang dilihat Jewish Insider tertulis bahwa kedua belah pihak akan menyusun mekanisme pemberian visa bisnis kepada warga Indonesia dan Israel melalui kantor perdagangan yang dibangun.

Kedua pihak juga disebut berbicara terkait penghapusan Israel dari daftar hitam visa Indonesia.

Saat ini, puluhan ribu peziarah Kristen asal Indonesia mengunjungi Israel setiap tahunnya.

Namun sangat sulit bagi warga Israel untuk mengunjungi Indonesia yang memiliki destinasi wisata di Bali.

Dalam pidato yang penuh semangat di markas ICJ di Den Haag pada pekan lalu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan Israel tidak menunjukkan rasa hormat terhadap hukum internasional dan menghalangi upaya mencapai penyelesaian damai berdasarkan resolusi PBB.

Dia menuduh Israel menggunakan kekuatan berlebihan, merebut sebagian wilayah pendudukan, membangun pemukiman yang melanggar hukum dan melakukan diskriminasi terhadap warga Palestina.

“Mahkamah harus menyatakan bahwa pendudukan Israel secara keseluruhan adalah ilegal. Oleh karena itu, kita harus mengakhiri situasi ilegal ini,” kata Retno.

Mencoreng Kebijakan Luar Negeri Indonesia

Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia Yon Machmudi mengatakan Andi, yang tampaknya bertemu dalam kapasitas sebagai Gubernur Lemhannas, telah mencoreng Indonesia karena selama ini Jakarta selalu menolak untuk membuka hubungan diplomatik degan Israel sebagaimana ditunjukkan menteri luar negeri.

“Kalau memang itu terjadi, ini pelanggaran. Tentu patut disesali kejadian semacam ini,” ujar Yon kepada Koridor.

Yon mengatakan pemerintah perlu mengklarifikasi ini secara tegas persoalan ini agar Indonesia tidak menampilkan sikap yang kontradiktif soal Israel.

“Jadi apa yang ditampakkan di depan Indonesia begitu tegas, tetapi ternyata back stage-nya ada upaya dari aparatur negara yang mencoba untuk menjalin komunikasi dengan Israel,” ucapnya.

Di samping klarifikasi, kata Yon, harus ada investigasi soal laporan pertemuan ini. Apalagi posisi Gubernur Lemhanas adalah posisi yang sangat strategis.

“Termasuk DPR juga harus menanyakan tentang peristiwa ini. Terlepas dari bahwa tidak ada perintah penugasan khusus dari Presiden, karena itu menyangkut masalah posisi politik luar negeri Indonesia di depan,” jelasnya.

Ryantori, Direktur Eksekutif the Indonesia Society for Middle East Studies, sebuah wadah pemikir soal Timur Tengah, mengatakan yang dilakukan oleh Andi Widjajanto adalah inisiatif sendiri atau bisa juga karena undangan mirip seperti saat Tokoh Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf pada 2018.

“Dalam pertemuan semacam itu, bisa saja ada pembicaraan mengenai upaya melakukan pendekatan bagi kedua pihak, baik dalam dimensi budaya, ekonomi, bahkan dimensi hubungan diplomatik yang lebih intens,” katanya kepada Koridor.

Ryantori mengatakan walau Istana membantah Andi adalah penasihat Jokowi, pertemuan itu tetap sangat rentan, apalagi isi pertemuan diungkap oleh pihak Israel.

“Mengingat Israel saat ini dalam kondisi politik domestik yang terguncang dengan demo anti-Netanyahu serta posisi Israel yang negatif pasca Afrika Selatan menyeret Israel ke Mahkamah Internasional atas dugaan genosida Gaza,” terangnya.

“Terlepas dari itu semua, pernyataan langsung dari Andi Widjajanto perlu untuk segera diungkap agar motif pertemuan tersebut dapat segera diketahui publik,” ujarnya. (Pizaro Gozali Idrus)

Artikel Terkait

Terkini