Indonesia dan China Bahas Perdamaian di Palestina

Koridor.co.id

Menlu Retno Marsudi menyampaikan pandangannya dalam Pertemuan Ke-13 Menteri Luar Negeri KTT Asia Timur (EAS FMM) di Jakarta, Jumat (14/7/2023). (Foto: Kemlu)
Menlu Retno Marsudi menyampaikan pandangannya dalam Pertemuan Ke-13 Menteri Luar Negeri KTT Asia Timur (EAS FMM) di Jakarta, Jumat (14/7/2023). (Foto: Kemlu)

Jakarta, Koridor.co.id – Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mendesak China sebagai pemegang Presidensi Dewan Keamanan (DK) PBB untuk menyerukan penghentian perang antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza, yang hampir memasuki waktu dua bulan.

Dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di New York, Retno mengatakan Indonesia dan China memiliki pemikiran yang serupa dalam upaya menyalurkan bantuan kemanusiaan tanpa hambatan dan membangun perdamaian antara Palestina dan Israel.

“Dalam kaitan inilah pesan kuat harus keluar dari DK PBB hari ini dan penghentian kekerasan dan kekejaman harus dilakukan sekarang,” jelas Retno dalam press briefing pada Kamis (30/11).

Retno juga secara khusus menyampaikan kepada China bahwa perhatian juga harus diberikan ke Tepi Barat, di mana kekerasan terus terjadi dan semakin meningkat, bahkan ketika kesepakatan gencatan senjata dijalankan.

“Angka tahanan yang dibebaskan oleh Israel hampir sama jumlahnya dengan warga Palestina yang baru ditangkap di Tepi Barat. Dalam kaitan inilah pesan kuat harus keluar dari DK PBB hari ini dan penghentian kekerasan dan kekejaman harus dilakukan sekarang,” ujar Retno.

Sementara itu TNI Angkatan Laut tengah mempersiapkan kapal rumah sakit Indonesia untuk mengirim bantuan bagi rakyat Gaza, sekaligus menyediakan layanan kesehatan.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI I Made Wira Hady Arsanta Wardhana di Jakarta, menjelaskan Kapal Republik Indonesia dr. Radjiman saat ini mengangkut bantuan yang dihimpun TNI AL sejak bulan lalu.

“TNI AL sejak bulan lalu memusatkan pengumpulan bantuan untuk misi kemanusiaan bagi rakyat Palestina di Koarmada (Komando Armada) II Surabaya dan Kolinlamil Jakarta,” kata I Made dalam keterangannya pada Kamis (30/11).

Seperti dilansir Reuters, Israel dan Hamas telah mencapai kesepakatan pada menit-menit terakhir pada Kamis (30/11) memperpanjang gencatan senjata selama satu hari lagi.

Hal itu dilakukan untuk memungkinkan kedua pihak mencapai kesepakatan untuk menukar sandera Israel yang ditahan di Gaza dengan tahanan Palestina.

Gencatan senjata antar Hamas dan Israel berlangsung mulai Jumat (24/11) atas mediasi pemerintah Qatar.

Hamas, yang membebaskan 16 sandera dengan pertukaran 30 tahanan Palestina pada Rabu (29/11), mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa gencatan senjata akan berlanjut hingga hari ketujuh.

Reuters juga melaporkan empat warga Palestina, termasuk seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dan seorang laki-laki berusia 15 tahun serta dua komandan senior kelompok perlawanan, dibunuh pada Rabu (29/11) oleh pasukan Israel di kota Jenin, Tepi Barat.

Video yang belum diverifikasi dan beredar di media sosial menunjukkan anak berusia 8 tahun itu dipukul, namun rekaman tersebut tidak menunjukkan siapa yang melepaskan tembakan.

Ketika dimintai komentar mengenai rekaman tersebut, militer Israel mengatakan: “Selama aktivitas IDF (Pasukan pertahanan Israel) di Kamp Jenin, sejumlah tersangka melemparkan alat peledak ke arah tentara IDF. Para prajurit membalas dengan tembakan langsung ke arah tersangka dan serangan berhasil diidentifikasi.”

Ragu China bisa tekan Israel

Sementara itu, pengamat Hubungan Internasional Universitas Al Azhar Indonesia Ramdhan Muhaimin, masih meragukan efektivitas China sebagai Presidensi DK PBB untuk mampu menekan Israel.

Dia mengatakan hingga gencatan senjata sementara terjadi antara Israel dan Hamas, PBB tetap tidak mampu menghentikan serangan Tel Aviv ke Jalur Gaza dan Tepi Barat.

“Apakah China pasti akan memainkan vetonya? belum tentu juga. Karena China memiliki hubungan dagang dengan Israel,” ujar Ramdhan kepada Koridor.

Sejak awal perang terjadi, lanjut Ramdhan, China sudah mengirimkan enam kapal perangnya ke Timur Tengah untuk mengamankan kepentingan ekonomi nasionalnya di kawasan itu.

“Saya kira, kunci utama yang bisa menghentikan kekejian Israel adalah tekanan AS, Inggris, dan Prancis karena ketiga negara itulah bidan kelahiran Israel,” ucap Ramdhan.

Upaya Imbangi AS

Ryantori, Direktur Eksekutif the Indonesia Society for Middle East Studies (ISMES), sebuah wadah pemikir soal isu Timur Tengah, mengatakah langkah Retno bertemu Wang Yi merupakan diplomasi yang tepat.

Pertama, China juga memiliki concern yang sama untuk mengakhiri perang di Gaza. Kedua, China juga ingin mengimbangi eksistensi Amerika Serikat di Timur Tengah.

“China ingin terlihat powerful di kawasan Timur Tengah mengingat AS dan sekutu Barat-nya sudah kasat mata mendukung Israel, sementara Rusia di sisi lain belum terlalu menunjukkan posisinya,” kata Ryantori kepada Koridor.

Pemerhati Hubungan Internasional Universitas Moestopo (Beragama) ini menambahkan mengatakan gencatan senjata permanen mungkin belum akan terwujud dalam waktu singkat.

Namun, kata Ryantori, setidaknya dengan adanya gencatan senjata sementara dapat mengurangi jatuhnya korban jiwa lebih banyak.

“Gencatan senjata juga membuka ruang bagi masuknya bantuan-bantuan internasional termasuk dari China dan Indonesia,” ujar dia.

Yon Machmudi, Kepala Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, mengatakan langkah Indonesia mendekati China menjadi penyeimbang dalam menyelesaikan masalah Palestina yang selama ini kerap terhambat veto dari AS di DK PBB.

“Dengan tekanan yang sangat kuat dari China, dukungan Rusia, dan tentu komunikasi dengan negara seperti Inggris dan Prancis yang sudah dilakukan Menlu Retno, itu akan menguatkan adanya resolusi yang bisa menekan kepada Israel,” ujar Yon kepada Koridor.

Namun demikian, kata Yon, hal itu tetap sangat tergantung dari sikap AS. Apakah kemudian AS akan menjadi lebih objektif atau lebih realistis di dalam melihat persoalan yang terjadi saat ini.

“Kalau terjadi perubahan sikap Amerika saya kira ini menjadi angin segar bagi dunia internasional untuk dapat memberikan solusi atas serangan-serangan Israel kepada Palestina,” terang Yon. (Pizaro Gozali)

Artikel Terkait

Terkini