Erdogan: Krisis Gaza bukan Perang, tapi Genosida

Koridor.co.id

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: Anadolu)

Antalya, Koridor.co.id – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan krisis Gaza adalah bukti runtuhnya tatanan global saat ini.

Berbicara di Forum Diplomasi Antalya, Erdogan mengatakan abad ini telah berubah menjadi era krisis karena tatanan internasional yang berdasarkan aturan telah kehilangan makna dan tidak lebih dari sekedar slogan.

“Sistem internasional saat ini, tanpa konsep fundamental seperti solidaritas, keadilan, dan kepercayaan, tidak dapat memenuhi tanggung jawab minimal sekalipun,” ujar Erdogan seperti dikutip Anadolu pada Sabtu (2/2).

Erdogan mengatakan negara-negara Barat yang tanpa syarat mendukung Tel Aviv terlibat dalam pertumpahan darah atas tewasnya lebih dari 30.000 warga Gaza.

“Apa yang terjadi di Gaza bukanlah konflik, ini adalah genosida, karena perang pun mempunyai aturannya sendiri,” katanya.

“Saya berbicara tentang pengkhianatan, penargetan yang tidak terhormat, kebiadaban yang tidak memiliki rasa hormat,” tambahnya.

Erdogan merujuk pada pembunuhan brutal terhadap warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, di Gaza, dan menambahkan bahwa kepercayaan terhadap keadilan dan ketertiban global juga telah ternoda.

Erdogan menggarisbawahi kebutuhan penting untuk mendirikan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat dengan integritas teritorial dan ibu kotanya di Yerusalem Timur berdasarkan perbatasan tahun 1967.

“Komunitas global hanya bisa membayar utangnya kepada rakyat Palestina melalui pembentukan negara Palestina,” tambahnya.

Dia mengatakan bahwa Turki mengikuti barbarisme Israel dengan keprihatinan yang mendalam.

Erdogan mengatakan bahwa yang dia maksud adalah barbarisme pengecut yang menargetkan warga sipil yang mengantri untuk mendapatkan bantuan.

Presiden juga menggarisbawahi meningkatnya jumlah korban warga sipil di Gaza.

“Sebagai akibat dari serangan yang disengaja Israel yang menargetkan pemukiman sipil, sejauh ini 30.000 warga Gaza, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah menjadi martir. Lebih dari 70.000 warga Palestina terluka dan sekitar 2 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka,” katanya.

Erdogan juga mengkritik tajam organisasi-organisasi internasional atas apa yang disebutnya sebagai kelemahan dan disfungsi mereka.

“Kita telah melihat betapa lemah dan tidak berfungsinya lembaga-lembaga internasional seperti Dewan Keamanan PBB, yang tugasnya menjamin perdamaian global, Uni Eropa dan lainnya,” ujarnya. (Pizaro Gozali Idrus)


Artikel Terkait

Terkini