Perlu aksi global untuk selamatkan dunia dari sampah plastik. Sebagian besar produksi plastik saat ini, komersial, dan industri

Koridor.co.id

Ilustrasi

Proyek daring global Birds and Debris mengungkapkan burung-burung dari berbagai spesies di setiap benua, kecuali Antartika dipaksa beradaptasi dengan sampah plastik, baik bersarang maupun terjerat.

Proyek ini mengumpulkan foto-foto dikirimkan oleh orang-orang dari seluruh dunia terkait dengan fenomena burung dan sampah plastik. Para ilmuwan yang menjalankan proyek itu menyampaikan foto-foto itu menampakkan burung terjerat atau bersarang di tali, tali pancing, pita balon dan sandal jepit.

Yang menyedihkan nyaris seperempat foto-foto memperlihatkan burung bersarang atau terjerat dalam masker wajah sekali pakai. Bisa disimpulkan banyaknya burung terperangkap masker wajah sekali pakai dalam dua tahun terakhir ini, imbas pandemi Covid-19.

Peneliti Natural History Museum Dr Alex Bond mengatakan, fokus proyek ini memang dampak limbah, khususnya polusi plastik pada dunia unggas.

“Jika seekor burung membuat sarang menggunakan bahan berserat panjang – seperti rumput laut, cabang atau alang-alang – kemungkinan besar ada kotoran manusia di sarangnya di suatu tempat,” ujar Bond seperti dilansir dari BBC

Dia menyoroti jika ada yang berpikir bahan berbeda dari masker bedah bukan termasuk plastik, anggapan itu salah. Padahal ada yang elastis yang terlihat kusut di sekitar kaki burung.

Begitu juga mereka bisa melihat burung terluka dengan mencoba menelan kain atau potongan plastik keras yang berfungsi sebagai penahan di atas hidung mengguna. Plastik dalam hal ini mencakup hal yang luas menyangkut berbagai macam polimer.

Bond bersama rekan-rekannya menjalankan proyek ini selama empat tahun sebagai keprihatinan terhadap maraknya masalah sampah plastik di lingkungan.

Fenomena ini menjadi global karena menggambarkan cakupan geografis yang luas. BIrd and Debris mendapat laporan dari Jepang, Australia, Sri Lanka, Inggris, Amerika Utara.

Bond menuturkan, mengganti sikat gigi plastik dengan bambu atau menggunakan tas belanja kanvas tidak akan menyelamatkan dunia, karena sebagian besar produksi plastik skala besar saat ini adalah komersial dan industri.

“Untuk menyelesaikannya diperlukan kebijakan kombinasi top-down dan tekanan bottom-up untuk mengatakan ‘cukup sudah’,” kata Bond.

Dia menyamakan tindakan global yang diperlukan untuk mengatasi polusi plastik dengan Protokol Montreal yang melarang bahan kimia perusak ozon–sebuah perjanjian yang secara luas dianggap sebagai salah satu perjanjian global paling sukses yang pernah ditandatangani.

Peneliti utama Justine Ammendolia dari Universitas Dalhousie di Kanada mengatakan fenomena ini mengungkapkan luasnya dampak pada spesies secara global adalah ‘menghancurkan’. 

Katanya, pada April 2020 sebetulnya sudah ada penampakan pertama seekor burung yang tergantung tali masker di pohon tercatat dari Kanada.

“Hanya penampakannya baru tersiar secara internasional setelahnya. Ini benar-benar hanya menunjukkan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh manusia terhadap lingkungan dalam waktu yang sangat singkat di seluruh dunia,” katanya.

Apa yang diungkapkan Bird and Debris sudah diperingatkan ahli ekologi laut Australia Chris Surman pada 2019. Dia menemukan burung laut di Kepulauan Abrolhos menggunakan potongan plastik membangun bagian sarang mereka.

Chris melakukan penelitian terhadap 800 sarang di delapan spesies burung di pulau-pulau terpencil di lepas pantai Australia Barat. Hasilnya sebagian besar plastik yang ditemukan di sarang adalah tali atau jaring, yang digunakan selama beberapa dekade oleh industri perikanan.

Bahkan beberapa spesies burung yang lebih besar, seperti osprey, memiliki plastik di setiap sarang yang disurvei. Sementara burung yang lebih kecil seperti noddy kecil yang terancam memiliki plastik di sekitar 10 persen sarang yang diperiksa.

“Burung adalah pengumpul, jadi jika ada sesuatu di garis pantai yang mereka inginkan untuk menghiasi sarangnya atau membantu membangun sarangnya, mereka akan mengambilnya,” kata Surman seperti dikutip dari ABC.net

Organisasi pecinta burung dunia Birdrescue mengungkapkan hal senada. Di banyak wilayah di dunia, burung secara tidak sengaja memakan plastik yang mengapung di atas air, salah mengiranya sebagai makanan, dan sering kali menelan ini menyebabkan kematian dan bahkan kematian anak-anak mereka.

Sebuah laporan oleh para ilmuwan mempelajari isi perut anak ayam Laysan Albatross di Midway Atoll di Samudra Pasifik mengungkapkan hasil yang mengganggu: sebanyak 40 persen anak ayam Laysan Albatross mati sebelum berkembang biak. Nekropsi perut anak ayam itu ternyata berisi sampah plastik.

Artikel Terkait

Terkini