Penggunaan antibiotik berlebihan di bidang peternakan memicu peningkatan infeksi bakteri pada manusia

Koridor.co.id

Ilustrasi-Foto: Shutterstock.

Nature 6 Februari 2023 memuat prediksi bahwa penggunaan antibiotik dalam peternakan  akan tumbuh sebesar 8% antara 2020 dan 2030 meskipun ada upaya berkelanjutan untuk membatasi penggunaannya.

Sayangnya jika penggunaan antibiotik itu pada peternakan berlebihan berimbas pada kehidupan manusia yaitu  meningkatnya infeksi bakteri pada manusia yang tidak dapat diobati dengan antibiotik.

Meskipun antibiotik mungkin diperlukan untuk mengobati infeksi pada ternak, antibiotik sering digunakan untuk mempercepat pertumbuhan hewan dan mencegah penyakit pada hewan dalam kondisi padat dan tidak sehat.

Itu sebabnya sejumlah pemerintah di dunia, termasuk Amerika Serikat dan sebagian besar Eropa  berupaya  menegakkan regulasi  mengurangi penggunaan antibiotik.

Menurut Thomas Van Boeckel, seorang ahli epidemiologi spasial di Swiss Federal Institute of Technology ( ETH Zürich)  salah seorang peneliti dalam   jurnal Public Health 2023, produsen dapat saja mengatakan bahwa mereka memasarkan obat tersebut untuk mencegah penyakit.

Para peneliti juga berjuang untuk menghitung jumlah antibiotik yang digunakan di negara-negara tertentu karena sebagian besar tidak merilis data penggunaan pertanian-antibiotik mereka secara publik.

Sebaliknya, banyak yang merilis data ke Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (WOAH), yang mengelompokkan data antibiotik negara ke dalam benua, sehingga hanya itu yang dapat dilihat oleh para peneliti.

“Sekitar 40% negara sama sekali tidak melaporkan penggunaan antibiotik mereka ke WOAH. Mayoritas data penggunaan antibiotik di dunia tidak dapat digunakan,” kata van Boeckel seperti dikutip dari https://www.nature.com/articles/d41586-023-00284-x

Untuk memperkirakan penggunaan antibiotik di 229 negara, Van Boeckel bekerja dengan Ranya Mulchandani, ahli epidemiologi di ETH Zurich, dan rekan lainnya untuk mengumpulkan data dari masing-masing pemerintah, survei peternakan, dan artikel ilmiah yang melaporkan penggunaan antibiotik oleh dokter hewan.

Mereka merujuk silang ini dengan data populasi hewan ternak di seluruh dunia, serta penjualan antibiotik dari 42 negara yang melaporkan data tersebut secara publik. Dari sana, mereka mengekstrapolasi tren untuk 187 negara yang tersisa.

Tim menghitung bahwa penggunaan antibiotik di Afrika mungkin dua kali lipat dari yang dilaporkan WOAH, dan penggunaan di Asia 50% lebih tinggi dari yang dilaporkan. Itu artinya survei yang dilakukan WOAH tidak ditanggapi  banyak negara.

Peniliti memproyeksi pada  2030, dunia akan menggunakan sekitar 107.500 ton antibiotik pada ternak per tahun, dibandingkan dengan hanya di bawah 100.000 ton pada 2020. Penggunaan antibiotik paling tinggi di Asia, dan Tiongkok.

Para peneliti juga memperkirakan bahwa penggunaan antibiotik akan tumbuh paling cepat di Afrika, meningkat sebesar 25% antara 2020 dan 2030 karena meningkatnya permintaan akan produk daging.

Pada konferensi tingkat menteri tentang resistensi antimikroba di Muscat, Oman, November lalu, sebanyak 39 negara, termasuk produsen pertanian utama Rusia dan India, berjanji untuk mengurangi penggunaan antimikroba di bidang pertanian sebesar 30–50% pada  2030.

Steven Roach, direktur program di organisasi nirlaba Keep Antibiotics Working, yang berbasis di Iowa City, mengungkapkan perjanjian tersebut berarti bahwa negara-negara tersebut lebih mungkin untuk mulai merilis data dasar tentang penggunaan antibiotik mereka. “Ini menunjukkan ada potensi pengurangan nyata jika ada kemauan global,” katanya.

Sementara itu, tambahnya, jenis metode yang digunakan dalam penelitian terbaru adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan gambaran global tentang penggunaan antibiotik.

Artikel Terkait

Terkini