Macan Tutul Jawa, kucing besar yang tersisa, setelah Harimau Jawa punah. Sayangnya, konflik dengan manusia masih terjadi

Koridor.co.id

Macan Tutul (Foto: KSDAE KLHK)

Di Provinsi Jawa Barat kawasan habitat macan tutul (panthera pardus melas) antara lain hutan di Gunung Halimun Salak, Gunung Gede, Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng, Gunung Ciremai, kawasan Pangalengan, Gunung Syawal dan sebagainya.

Sayangnya konflik antara manusia dengan kucing besar tersebut masih terus terjadi hingga kini. Pada Agustus 2022 lalu beredar laporan disertai rekaman video amatir dari warga tentang keberadaan macan tutul (macan kumbang) di sejumlah lokasi di Jawa Barat. 

Di antaranya rekaman macan kumbang yang berkeliaran di lereng bukit di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

Video lainnya ialah sekelompok pemburu babi hutan dan anjingnya, berpapasan dengan macan tutul di Taman Buru, Gunung Kareumbi. Hewan buas itu menghindar dengan cara memanjat sebatang pohon. Kasus-kasus ini memberikan indikasi konflik manusia dengan macan tutul tetap terjadi.

Pada Februari 2022, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat menemukan kerangka macan tutul di Gunung Syawal, Kabupaten Ciamis.

Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Ciamis, BKSDA Jabar Andi Witria kepada wartawan, 9 September 2022, menyampaikan tidak ada tanda bekas bahan kimia, tidak ada retakan di tulang-tulangnya bekas dipukul.

“Tulang macan tutul yang ditemukan tidak jauh dari area perkebunan warga. Kerangkanya kemudian dievakuasi untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Andi Witria.

Pihaknya lantas mencocokkannya dengan data macan tutul yang tercatat di KSDA Ciamis. Hasilnya ternyata tulang macan tutul itu merupakan macan bernama Abah usia 14 tahun yang sebelumnya pernah tertangkap dan direhabilitasi untuk selanjutnya dilepasliarkan ke hutan.

Yang paling anyar ialah perkelahian antara tiga petani dengan seekor macan tutul di Desa Tegal Manggung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang pada minggu pertama September 2022. Sang Macan Tutul tewas, sementara tiga petani tersebut luka-luka dan dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung.

Staf pengajar dan periset dari Studi Komunikasi Lingkungan, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung, Herlina Agustin mengungkapkan sebetulnya macan tutul lebih suka menghindar kalau bertemu manusia.

Kalau terjadi konflik manusia dengan macan tutul disebabkan berbagai hal. Misalnya, ketersedian makanan di habitat asli dan keberadaan macan lain yang memaksa pergi dari hutan. 

Penyebab lainnya ialah perburuan, yang didorong karena dianggap ancaman dan faktor ekonomi. Selain itu ada kultur kepercayaan, bagian tertentu dari macan bisa jadi jimat.

“Saya berpikir macan punya habitat berbeda dengan manusia. Kita hidup berdampingan dalam sebuah ekosistem hendaknya saling menghormati,” ujar Herlina kepada Koridor, Kamis, 22 September 2022.

Manusia lebih suka berburu babi hutan karena dianggap hama, hingga berisiko bertemu macan karena masuk dalam habitatnya.

Padahal kalau manusia bisa memberikan ruang bagi macan dengan tidak berburu babi hutan, ayam hutan hingga monyet, maka konflik bisa dihindari. Sayangnya, kata Herlina sekarang perburuan menjadi hobi.

“Harusnya dibuat peraturan ketat, manusia tidak boleh merambah masuk wilayah konservasi. Buat aturan ketat manusia tidak boleh berburu seenaknya. Setiap perburuan harus ada izin. Sekarang kan nggak?” kata Herlina Agustin.

Artikel Terkait

Terkini