Konflik abad 21 bukan memperebutkan minyak, tetapi sumber air

Koridor.co.id

Ilustrasi-Foto: Shuttestock.

Menjelang digelarnya Konferensi Air PBB di New York pada 22 hingga 24 Maret 2023, badan dunia itu memperingatkan lebih dari 100 negara tidak berada di jalur yang tepat untuk mengelola sumber daya air secara berkelanjutan pada 2030.

Imbasnya, ancaman global terhadap ketahanan pangan, kesehatan, pertumbuhan ekonomi, dan lingkungan. Percepatan upaya internasional untuk mencapai dunia yang aman air akan menjadi inti pembahasan di Konferensi Air PBB 2023 di New York dari 22 hingga 24 Maret 2023.

Konferensi ini merupakan kesempatan unik untuk meningkatkan upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yaitu menjamin akses ke air dan sanitasi untuk semua umat manusia di dunia.

Menurut Laporan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2022, proporsi populasi global yang menggunakan layanan air minum yang dikelola dengan aman meningkat dari 70 persen pada tahun 2015 menjadi 74 persen pada tahun 2020. Sayangnya, sekitar  dua miliar manusia tidak memiliki layanan tahun itu, menempatkan semua lainnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dalam bahaya.

Hasil utama dari Konferensi ini adalah Agenda Aksi Air – serangkaian komitmen berani yang dibuat oleh pemerintah, bisnis, dan masyarakat untuk memenuhi tujuan dan target terkait air dan sanitasi global.

Sementara   https://www.nature.com/articles/d41586-023-00182-2   diperkirakan 1,7 miliar bahkan tidak memiliki sanitasi dasar. Setiap tahun, lebih dari 800.000 orang meninggal karena diare, karena air minum yang tidak aman dan kurangnya sanitasi.

Sebagian besar berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah. Ini adalah situasi yang membingungkan dan tidak dapat diterima. Terlebih lagi di zaman ketika investasi besar dilakukan dalam panggilan video instan, obat-obatan yang dipersonalisasi, dan pembicaraan tentang menghuni planet lain.

Mereka yang akan menghadiri konferensi pada Maret mendatang mengatakan kepada PBB bahwa mereka ingin melihat kerja sama internasional dijadikan prioritas untuk air dan sanitasi, terutama di era ketegangan geopolitik yang meningkat.

Lebih dari 25 tahun lalu, mantan wakil presiden Bank Dunia Ismail Serageldin memperingatkan konflik abad ke-21 bukanlah memerebutkan minyak, tetapi sumber air.

“Kami beruntung hal ini belum terjadi, meski demikian hubungan antarnegara yang berbagi sumber air lebih buruk,” ujar Seralgedin.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengamini bahwa krisis air semakin menjadi ancaman serius dan harus jadi perhatian seluruh negara. Perubahan iklim menyebabkan terganggunya siklus hidrologi, sehingga memicu terjadinya krisis air.

“Krisis air terjadi hampir di seluruh belahan dunia dan menjadi krisis global yang harus diantisipasi setiap negara. Tidak peduli itu negara maju atau berkembang. Karenanya, isu ini harus menjadi perhatian bersama seluruh negara tanpa terkecuali,” ungkap Dwikorita dalam The 10th World Water Forum Kick Off Meeting di Jakarta Convention Centre, 15 Februari 2023.

Dwikorita menyampaikan bahwa ancaman krisis air akibat perubahan iklim ini sudah terlihat sangat jelas. Terus meningkatnya emisi Gas Rumah Kaca yang berdampak pada meningkatnya laju kenaikan temperatur udara, mengakibatkan proses pemanasan global terus berlanjut, dan berdampak pada fenomena perubahan iklim.

Fenomena ini  akan terus berlanjut apabila laju peningkatan emisi Gas Rumah Kaca tidak dikendalikan atau ditahan, dan menyebabkan semakin cepatnya proses penguapan air permukaan, sehingga mengakibatkan ketersediaan air semakin cepat berkurang di suatu lokasi belahan bumi, namun sebaliknya terjadi hujan yang berlebihan (ekstrem) di lokasi atau belahan bumi yang lain.

Ketersediaan air permukaan dan air tanah yang makin berkurang ini akan memengaruhi ketersediaan air bersih di berbagai belahan bumi. Selain itu, perubahan iklim yang ekstrem menyebabkan proses turunnya hujan menjadi ekstrem dan tidak merata. Sebagian besar daerah di bumi memiliki curah hujan tinggi, sedangkan di daerah bagian lain tidak.

Dwikorita mencontohkan, WMO pada 2022, melaporkan bahwa kekeringan dan kelangkaan air telah melanda Eropa, Amerika Utara Barat, Amerika Selatan Barat, Mediterania, Sahel, Amerika Selatan, Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Timur, Asia Selatan, Australia Tenggara dan berbagai wilayah lain di planet ini. Namun, pada saat yang sama, banjir juga terjadi Easton Sahil, Pakistan, Indonesia, hingga Australia Timur.

“Tidak ada perbedaan antara negara maju dan negara berkembang. Keduanya sama-sama menderita akibat kekeringan dan banjir. Jadi, sekali lagi kekeringan dan banjir adalah dampak yang sama akibat dari kencangnya laju perubahan iklim yang diperparah dengan kerusakan lingkungan” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terkini