Jika Pemanasan Global Tembus Dua Derajat, Satu Miliar Jiwa Akan Melayang

Koridor.co.id

Ilustrasi pemanasan global-Foto: Shutterstock.
Ilustrasi pemanasan global-Foto: Shutterstock.

Jakarta, Koridor.co.id – Kiamat menanti jika pemanasan global melewati dua derajat Celcius pada 2100.  Tidak tanggung-tanggung sebanyak satu miliar jiwa manusia dari kalangan orang miskin melayang. Sebagian besar di antaranya tinggal di tempat terpencil dengan sumber daya rendah.

Ilmuwan Energi Joshua Pearce dari Universitas Western Ontario, salah seorang peneliti menilai seharusnya orang-orang kaya bertanggung jawab terhadap kematian masif tersebut. Pasalnya, pelaku industri minyak dan gas bertanggung jawab atas lebih dari 40% emisi karbon.

Studinya mengusulkan kebijakan energi agresif yang memungkinkan penurunan emisi karbon secara cepat dan substantif. Selain itu dia dan timnya  merekomendasikan tindakan pemerintah, korporasi, dan warga negara untuk mempercepat dekarbonisasi ekonomi global. Tujuannya  untuk meminimalkan perkiraan jumlah kematian manusia.

“Kita tidak bisa menerima kematian massal seperti itu. Ini benar-benar menakutkan, terutama bagi anak-anak kita,” kata Pearce kepada Phys.

Peneliti lainnya di tim itu, Ketua Teknologi Informasi dan Inovasi Universitas Western Ontario John M. Thompson menuturkan ketika para ilmuwan iklim menjalankan model mereka dan kemudian melaporkannya, semua orang cenderung bersikap konservatif.

“Dokter Doom”

“Karena tidak ada seorang pun yang ingin terdengar seperti Dokter Doom (dokter kiamat), itu sebabnya kami melakukan penelitiam sebangun. Hasilnya ternyata tidak terlihat bagus,” ucap Thompson.

Para peneliti melakukan tinjauan utama lebih dari 180 artikel dari literatur ilmiah. Pearce dan Richard Parncutt dari Universitas Graz (Austria) bersama melakukan tinjauan itu di Energies.

Pearce dan Parncutt meninjau sejumlah literatur oleh rekan sejawat mengenai biaya kematian manusia akibat emisi karbon menyatu dengan “aturan 1.000 ton”.  Mereka menemukan satu kematian dini di masa depan terjadi setiap kali sekitar 1.000 ton fosil karbon dibakar.

Pearce berharap dengan mengubah dan menantang bahasa dan metrik pemanasan global, akan lebih banyak pembuat kebijakan dan pemimpin industri yang lebih memahami kenyataan pahit tentang ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil.

“Seiring dengan semakin jelasnya prediksi model iklim, dampak buruk yang kita timbulkan terhadap anak-anak dan generasi mendatang semakin banyak disebabkan oleh tindakan kita,” kata Pearce.

Kebijakan Menyelamatkan Bumi

Tim peneliti menegaskan  semua pihak terkait untuk tidak mengabaikan tanggung jawab emisi gas rumah kaca. Studi ini menemukan bahwa untuk membatasi kewajiban besar di masa depan dan menyelamatkan banyak nyawa manusia.

Umat manusia perlu menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secepat mungkin dengan mengikuti pendekatan yang lebih agresif terhadap efisiensi energi dan energi terbarukan.

Menurut penelitian ini, kebijakan energi untuk mitigasi perubahan iklim harus diprioritaskan pada bidang-bidang utama berikut:

Jika ingin mencegah kiamat, setiap pemerintah harus menjalankan program penggantian total bahan bakar karbon tinggi (batu bara, minyak bumi, dan gas alam). Program ini  dengan bahan bakar yang tidak mengandung karbon, yaitu hidrogen, listrik, dan sebagainya  dari sumber energi terbarukan.

Pemerintah meningkatkan skala tenaga air, angin, panas bumi, biomassa, dan tenaga surya dan mendistribusikannya untuk menciptakan ketahanan jaringan listrik.

Pengembangan teknologi pengelolaan limbah karbon dan penangkapan serta penyimpanan CO2 secara alami termasuk penyerapan karbon dan pertanian regeneratif.

“Pemanasan global adalah masalah hidup atau mati bagi satu miliar orang. Hampir semua orang setuju bahwa setiap kehidupan manusia itu berharga, terlepas dari usia, latar belakang budaya atau ras, jenis kelamin atau sumber daya keuangan. Oleh karena itu, transisi energi harus banyak berubah, jauh lebih cepat, mulai sekarang,” pungkasnya (Irvan Sjafari).

Artikel Terkait

Terkini