Global Forest Watch merilis laporan 9 juta hektare pohon terbakar di seluruh dunia. Kontribusi Rusia 5 juta

Koridor.co.id

Ilustrasi kebakaran hutan Amazon

Laporan Global Forest Watch mengingatkan bahwa jumlah hutan yang hilang jika dihitung per menit luasnya sekira 16 lapangan sepak bola. Data ini menyebutkan jumlah tutupan pohon yang terbakar hampir dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir.

Analis Global Forest Watch James MacCharty mengatakan perubahan iklim merupakan faktor kunci dalam peningkatan karena menyebabkan suhu lebih tinggi dan kondisi yang lebih kering.

Data baru memungkinkan para peneliti untuk membedakan antara pohon yang hilang karena kebakaran, dan yang dihancurkan untuk pertanian, penebangan, atau selama pembakaran yang disengaja. Pada 2021, tahun terburuk kedua untuk kebakaran yang tercatat, area seluas Portugal hilang.

“Ini kira-kira dua kali lipat dari 20 tahun lalu. Agak mengherankan betapa banyak aktivitas api telah meningkat dalam waktu yang singkat,” ujar James seperti dikutip dari BBC

Dampak kerugian terkait kebakaran dirasakan terutama di hutan di negara-negara yang lebih utara seperti Kanada dan Rusia.

Api adalah bagian alami dari bagaimana hutan ini telah lama berfungsi, skala kehancuran yang terlihat di Rusia pada tahun 2021 belum pernah terjadi sebelumnya.

“Yang paling mengkhawatirkan adalah kebakaran menjadi lebih sering, lebih parah, dan berpotensi membuka banyak karbon yang tersimpan di tanah di sana,” kata James.

Pohon dan tanah menyimpan karbon dioksida, salah satu gas utama yang menghangatkan atmosfer dan para ahli mengatakan mereka sangat penting dalam mengatasi perubahan iklim.

Perubahan iklim dipandang sebagai pendorong utama kebakaran ini, dengan meningkatnya suhu menciptakan kondisi lebih kering, dan lebih banyak pohon terbakar. Wilayah utara dunia memanas lebih cepat, menyebabkan musim kebakaran lebih lama.

Global Forest Watch mencatat peningkatan kebakaran di Rusia, disebabkan oleh gelombang panas berkepanjangan yang diyakini para ahli tidak akan mungkin terjadi tanpa pemanasan oleh manusia.

Pada bagian lain dunia, dampak deforestasi menyebabkan lebih banyak kebakaran. Di Amazon Brasil, jumlah pohon yang ditebang naik ke level tertinggi enam tahun terakhir, kerugian akibat pembukaan lahan pertanian dan penebangan memiliki efek lanjutan.

“Deforestasi mengubah iklim lokal dan regional dan menghilangkan banyak evapotranspirasi yang membantu menjaga suhu tetap rendah dan lebih lembab,” kata James MacCarthy.

Jadi menebang hutan sebenarnya membuat negara-negara ini lebih panas dan lebih kering, dan membuat mereka lebih rentan terhadap kebakaran.

Sekalipun banyak pohon yang terbakar akan tumbuh kembali dalam kurun waktu 100 tahun atau lebih, ada dampak signifikan terkait hilangnya keanekaragaman hayati, kualitas air, dan erosi tanah.

PBB mengingatkan prospek kebakaran hutan dalam beberapa dekade mendatang suram. Diperkirakan ada peningkatan 50% dalam kebakaran ekstrem pada akhir abad ini.

Untuk mengatasi masalah ini, para ilmuwan mengatakan bahwa pengurangan emisi karbon global yang cepat dan mendalam adalah kuncinya. Para pemimpin global pada konferensi perubahan iklim COP26 di Glasgow tahun lalu berjanji mengakhiri deforestasi, tetapi janji itu harus dihormati jika ingin membuat perbedaan.

“Sekitar 50% anggaran kebakaran nasional untuk penanggulangan kebakaran dan kurang dari 1% benar-benar untuk persiapan dan perencanaan,” pungkas James.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sebanyak 358.867 hektare pada 2021. Jumlah tersebut meningkat 20,85% dibandingkan pada 2020 yang seluas 296.942 ha.

Karhutla pada tahun lalu banyak terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni 137.343 ha. Ini terjadi karena terbakarnya lahan padang rumput, semak belukar, dan pertanian lahan kering campur semak.

Posisinya diikuti oleh Nusa Tenggara Barat dengan luasan karhutla mencapai 101.173 ha. Kebakaran di provinsi ini diakibatkan oleh pertanian lahan kering, savanna/padang rumput, dan semak belukar.

Karhutla yang terjadi di Kalimantan Barat tercatat sebanyak 20.590 ha. Ada pula karhutla di Papua dan Jawa Timur masing-masing seluas 15.979 ha dan 15.458 ha.

Melihat trennya, karhutla di Indonesia cenderung fluktuatif dari tahun ke tahun. Sepanjang 2016-2021, karhutla paling parah terjadi pada 2019 sebanyak 1.649.258 ha atau naik 311% secara tahunan.

“Kenaikan ini terjadi di beberapa provinsi, dua provinsi utama. Kebakaran terjadi di luar kawasan hutan dan di daerah nonmineral. Upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran utamanya harus difokuskan pada kawasan-kawasan yang sering mengalami kebakaran,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Laksmi Dhewanthi beberapa waktu lalu dalam kegiatan virtual.

Dari segi angka memang kebakaran hutan di Indonesia kontribusinya tidak menembus 500 ribu hektare yang artinya kurang dari 5 persen kebakaran hutan dunia. Sayangnya, berkurangnya cakupan hutan di negara-negara tropis bukan saja disebabkan kebakaran hutan, tetapi sebab lain.

Global Forest Watch menyebutkan daerah tropis kehilangan 11,1 juta hektare tutupan pohon pada 2021. Tingkat kehilangan hutan primer di daerah tropis sangat konsisten selama beberapa tahun terakhir.

Pada 2021 daerah tropis kehilangan 11% lebih sedikit hutan primer dibandingkan tahun 2020. Setelah meningkat sebelumnya sebanyak 12% sejak 2019 hingga 2020 yang sebagian besar disebabkan oleh kebakaran hutan. 

Dari segi hutan primer Indonesia menempati urutan keempat dunia, dengan kehilangan hutan primer seluas 202.905 hektare, di bawah Brazil 1,5 juta hektare, Kongo 499 ribu hektare dan Bolivia 291 ribu hektare.

Meskipun demikian Globall Forest Watch mengakui tingkat kehilangan hutan primer di Indonesia terus menurun pada 2021 selama lima tahun berturut-turut, turun 25% dibandingkan 2020. Penyebab penurunan, didominasi oleh nonkebakaran, lebih dari 95 persen.

Artikel Terkait

Terkini