Eropa menghadapi curah hujan minimal, bahkan kering. Ancaman besar ialah musim panas ekstrem

Koridor.co.id

Ilustrasi-Foto: Shutterstock.

Petani di berbagai negara di Eropa mulai ketar-ketir. Mereka khawatir menghadapi kegagalan panen. Pasalnya curah hujan pada awal tahun terlalu sedikit.

Wakil direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus UE  Samantha Burgess mengatakan Memiliki curah hujan yang cukup di musim dingin sangat penting untuk mengisi cadangan air tanah.

“Saat kita melihat peta yang menunjukkan kelembapan tanah, kita melihat defisit kelembapan tanah,” katanya seperti dikutip https://www.dw.com/en/driest-winter-season-in-europe-threatens-crops-water-harvesting-reservoirs-saving-water/a-64930384

Berapa bagian Eropa  mengalami musim ini lebih kering dari sebelumnya. Meski masih musim dingin, negara-negara dari Inggris, Jerman, dan Belanda hingga Spanyol, Belgia, Portugal, Prancis, dan Italia tidak memiliki cukup air. Di Eropa selatan, ini sudah menyebabkan kegagalan panen gandum dan jelai.

Beberapa musim panas terakhir sangat panas, menyebabkan seluruh danau dan sungai mengering di Eropa selatan. Di Italia saja, kelangkaan air menghancurkan sebagian besar panen padi hanya dalam beberapa minggu. Di beberapa negara, pembatasan pasokan air harus diberlakukan.

Eropa kini menuai akibat ulah keserakahan manusia juga, yaitu krisis iklim. Periode kering akan menjadi lebih lama dan lebih parah di masa mendatang, terutama di musim panas.

Jika curah hujan terlalu sedikit di musim dingin, kekeringan akan berlangsung lebih lama dan musim panas berikutnya akan lebih kering.

Jadi bagaimana petani, masyarakat, dan negara bersiap untuk mengurangi dampak kekeringan? , Andrea Colombo dari Otoritas Cekungan Sungai Po di Italia menuntut agar infrastruktur untuk kolam retensi yang berbeda diperluas.

Ini akan memungkinkan hujan musim dingin dan air lelehan disimpan di desa, kota, dan wilayah di dekat Pegunungan Alpen Italia untuk digunakan di musim semi. Negara-negara di kawasan lain di dunia telah menerapkan gagasan ini.

Singapura, misalnya, memiliki dua sistem air yang berbeda. Satu untuk air limbah, satu lagi untuk menampung air hujan di seluruh kota. Air diolah menjadi air minum dan disimpan di waduk besar.

Tentu saja, keefektifan cekungan ini bergantung pada seberapa banyak curah hujan yang turun di musim dingin. Di Pegunungan Alpen Italia, curah salju musim ini setengah dari jumlah biasanya, menurut organisasi lingkungan lokal Legambiente. Dan Po, sungai terpanjang di negara itu, hanya membawa sebagian kecil dari jumlah air biasanya.

Organisasi memperingatkan bahwa situasinya kritis dan membutuhkan tindakan segera.

“Kami harus mengurangi penarikan untuk berbagai sektor dan penggunaan sebelum kami mencapai titik tanpa harapan,” kata Giorgio Zempetti, Kepala Legambiente, dalam siaran pers pada akhir Februari 2023.

Organisasi tersebut menyerukan kepada pemerintah Italia yang baru untuk menerapkan strategi air nasional yang juga mempromosikan pengelolaan air sirkular. Ini termasuk mengolah dan menggunakan air lebih sering untuk mengurangi dampak lingkungan dan melestarikan air tanah.

Menteri Pertanian Italia Francesco Lollobrigida menggambarkan kelangkaan air pada awal Maret sebagai “keadaan darurat yang membutuhkan tindakan jangka pendek dan jangka panjang.” Namun, yang masih kurang adalah strategi konkret.

Selain menyimpan air di waduk atau kolam retensi cara lain untuk menghemat air secara cepat dan efektif adalah dengan menutup lubang pada infrastruktur air yang ada dan memperbaiki kebocoran pipa.

Italia, misalnya, kehilangan 40% airnya karena pipa yang bocor. Angkanya adalah 20% di Prancis dan 30% di Portugal, menurut Asosiasi Penyedia Layanan Air Eropa. Tetapi volume air yang hilang tertinggi di Bulgaria (60%) dan Rumania (lebih dari 40%).

Rata-rata, seperempat air minum di Eropa hilang karena infrastruktur yang buruk dan pengelolaan air yang tidak memadai.

Sebagai tanggapan, UE mengusulkan pembaruan arahan airnya pada akhir 2022. Uni Eropa telah meminta negara-negara anggota untuk memantau pemborosan dan kebocoran air dengan lebih baik, serta berinvestasi dalam tindakan dan pengumpulan data yang tepat.

Terobosan lain ialah mengolah dan menggunakan kembali air yang telah dipakai.  Saat ini, hanya 0,5%, atau sekitar satu miliar meter kubik, dari air bersih yang diambil di UE yang diolah dan digunakan kembali.

Dengan instalasi pengolahan yang memadai dan infrastruktur yang sesuai, air dapat digunakan dengan jauh lebih efisien, yang secara signifikan akan mengurangi tekanan pada reservoir air bersih dan ketergantungan pada sumber air alami.

Misalnya, di Italia, air olahan hanya menyumbang 5% dari irigasi buatan. Sisanya berasal dari sumber air tawar yang semakin langka. Pertanian saat ini mengkonsumsi 30% dari semua air tawar di UE.

Langkah lain tentu saja penghematan air. Jika situasi terus memburuk, pihak berwenang di Prancis telah mengumumkan bahwa mereka dapat memberlakukan pembatasan penggunaan air di 87 kota. Langkah-langkah ini, seperti larangan mengisi kolam renang pribadi, biasanya hanya dilakukan saat musim kemarau ekstrem di puncak musim panas (Irvan Sjafari).

Artikel Terkait

Terkini