Difa Ayatullah dan tim dari ITB menemukan pembalut ramah lingkungan. Kapas diganti tanaman alami, juga menggunakan bioplastic

Koridor.co.id

Difa Ayatullah (pakai blazer putih) dan berhijab ketika menenangkan Falling Walls Lab-Foto: ITB.
Difa Ayatullah (pakai blazer putih) dan berhijab ketika menenangkan Falling Walls Lab. (Foto: ITB)

Sebanyak 95% perempuan di Indonesia memilih menggunakan pembalut selama periode menstruasi mereka. Masalahnya, limbah pembalut yang dibuang ke lingkungan mencapai 26 ton per hari merupakan limbah yang sulit terdegradasi.

Melihat kondisi itu Mahasiswi Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung Difa Ayatullah mempunyai ide menciptakan pembalut wanita yang dapat terdegradasi secara alami dalam waktu relatif singkat.

“Ketika melakukan riset daya mendapatkan infografis yang menyatakan mengetahui satu pembalut setara dengan empat kantong plastik. Satu sisi sudah berusaha mengurangi sampah dari kantong plastik, namun di sisi lain masih ada sampah sejenis dari sumber berbeda. Apalagi untuk terurai (sampah pembalut) butuh waktu ratusan tahun, dan selama itu pula akan terus menumpuk,” ujar Difa seperti dikutip dari situs resmi ITB.

Pada awal 2021 oleh tim Difa memulai merealisasikan ide ini dengan melakukan riset laboratorium, sambil di perjalanannya menemukan banyak kesempatan untuk mengikuti lomba dan pendanaan. 

Salah satunya di antaranya kompetisi Falling Walls Lab pada Juli hingga September 2022. Mahasiswi angkatan 2019 ini menjadi pemenang lomba ini. Untuk itu Difa mewakili Indonesia dalam gelaran Global Final Falling Walls Lab yang diadakan di Jerman pada 7-9 November 2022.

Di sana ia akan melakukan pitching ulang di hadapan para panelis dan juri profesional dari berbagai bidang untuk bersaing dengan perwakilan-perwakilan negara lain.

Dalam proses penemuan ide dan perancangannya, Difa dibantu oleh tim Research and Development (RnD) yang terdiri atas mahasiswa lintas prodi, di antaranya Elshanti Nabiihah Salma, Wanda Ayu Puspita Ningratri dan Fathya Alya Nurverina.

Seperti apa pembalut perempuan ramah lingkungan yang digagas Difa dan timnya? Gagasan pertama material absorbent layer berupa kapas pada pembalut konvensional diganti menjadi material plant-based sehingga memunculkan sifat organik.

Difa mengkritisi dalam pengolahannya menjadi bahan penyerap, kapas pada beberapa produk sering kali ditambahkan pemutih dan bahan berbahaya lainnya seperti pestisida, untuk keperluan penyesuaian standar produk.

Pada produk yang dibuat Difa dan timnya, kapas diganti dengan ekstrak serat dari tanaman yang melimpah di Indonesia. Namun, Difa Ayatullah masih merahasiakan tanaman yang digunakan karena masih dalam proses pengajuan hak paten.

“Dengan pemanfaatan tanaman ini, dalam pengolahannya kami sangat menghindari penggunaan bahan kimia yang berbahaya,” ujar Difa kepada Koridor melalui WhatsApp, Kamis, 13 Oktober 2022.

Tim ini juga mengubah lapisan plastik di bawah pembalut menjadi material bioplastic, sehingga tidak akan mencemari lingkungan.

“Masalah besar yang terdapat dari pembalut adalah bagian plastiknya yang kedap air itu sendiri. Sehingga kami mencari alternatif untuk mengganti plastik konvensional ini dengan bio-film, film tipis transparan yang merupakan polimer organik dengan fungsi yang sama untuk menggantikan plastik,” imbuhnya.

Sejauh ini, riset masih berada di tahap prototipe awal. Untuk jangka menengah, ada rencana agar produk sudah dapat memenuhi standar pembalut dan telah memiliki paten sehingga sudah siap dikomersialkan.

Dalam jangka panjang, berencana produk sudah dikenal dan terdistribusi secara luas di pasaran. Difa berharap produknya dapat menjangkau kawasan seluas-luasnya di Indonesia agar berdampak besar yang diidamkan yaitu memberdayakan perempuan sekaligus membantu manajemen sampah plastik di Indonesia bisa tercapai.

Difa mengaku sudah ada beberapa investor yang secara langsung menyatakan ketertarikannya untuk memberikan investasi ketika produk sudah ada.

“Insya Allah sangat optimistis ke depan bisa ada lebih banyak lagi kesempatan yang datang. Hal ini juga salah satu yang menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memaksimalkan usaha kami untuk merealisasikan produk ini,” ujar Difa Ayatullah.

Artikel Terkait

Terkini