Belida di Sungai Musi Terancam punah. Regulasi pelarangan penangkapan dinilai tepat

Koridor.co.id

Ikan belida (Foto: KKP)

Sebagai orang lapangan yang mengurus tumbuhan dan satwa liar di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan Muhammad Hafidz Zain terkadang melakukan survei terhadap keberadaan ikan tangkapan di pasar tradisional. 

“Informasi dari para pedagang, ikan belida sudah sulit didapatkan sejak lama. Mereka juga mendapatkan dari hasil tangkapan masyarakat. Saya juga wawancara para nelayan yang biasa menangkap ikan belida sulit ditangkap,” ujar Hafidz ketika dihubungi Koridor, 19 September 2022.

Hingga 2019 ikan belida yang menjadi bahan paling dicari pengusaha kuliner pempek, olahan kerupuk dan pindang masih didapatkan. Namun setelahnya ikan itu seolah raib dari pasar.

Pada 2021, Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan Peraturan Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nomor 1 tahun 2021 melarang masyarakat maupun industri makanan untuk menggunakan Belida sebagai olahan konsumsi.

Sayangnya, Hafidz menyampaikan otoritas atas ikan belida ada di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bukan lagi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang membawahi BKSDA. Namun dia membenarkan pihaknya sudah menetapkan belida sebagai ikan yang dilindungi sejak 2018 setelah dapat rekomendasi dari LIPI (sekarang BRIN).

Permen LHK No.20/2018, menyatakan semua famili Notopteridae dilindungi: belida Borneo, belida Sumatera, belida lopis, dan belida Jawa. Peraturan ini kemudian memperkuat penyelamatan satwa dilindungi termasuk belida di dalamnya.

“Sebenarnya kalau aturan kami satwa yang dilindungi bisa dipelihara dengan izin penangkaran atau izin lembaga konservasi. Sayangnya, tidak ada kalangan masyarakat membuat izin penangkaran. Mereka lebih suka memancing,” ujar Hafidz.

Pihak BKSDA hanya mensyarakatkan 10 persen ikan belida yang dipelihara harus dilepasliarkan kembali ke sungai. Tujuannya agar jumlahnya banyak. Tampaknya ikan belida ditangkap tanpa memperhatikan keberlanjutan.

Staf pengajar Jurusan Biologi, Universitas Jambi Tedjo Sukmono menyampaikan semua jenis belida sudah dilindungi. Habitatnya sudah semakin rusak. Belida ini khususnya jenis Sumatera menjadi bahan makanan olahan favorit yang mengarah ke eksploitasi berlebihan.

Pada sisi lain belida punya sebaran terbatas di kawasan Sundaland, yaitu pulau Kalimantan dan Jawa.

“Tidak seimbang lagi stok di alam dengan permintaan dan belum dibudidayakan. Risetnya terlambat,” ujar Tedjo ketika dihubungi Koridor.

Dia juga menduga kerusakan lingkungan memberikan kontribusi berupa fragmentasi dari atas, hutan berkurang atau gundul. Dampaknya kalau ada hujan air menggenang perairan dangkal yang berakibat pada habitat ikan.

“Penambang emas tanpa izin (PETI) seperti di Jambi juga memberi imbas, yaitu melepas logam berat yang bisa menganggu habitat ikan. Begitu juga dengan penggalian pasir,” ungkapnya.

Tedjo mengatakan, langkah sekarang dengan regulasi itu sudah tepat. Andaikan nanti di alam sudah pulih maka regulasi bisa ditinjau lagi. Apakah statusnya dilindungi atau tidak.

“Sayangnya kalau dilihat di pasar ikan masih ada yang memperjualbelikan. Artinya adanya instruksi yang belum dikoreksi. Harusnya KKP atau dinas terkait membuat sosialisasi, penyuluhan sekitar pasar. Harusnya begitu regulasi dikeluarkan ada tindakannya,” katanya.

Sementara peneliti Ekspedisi Sungai Nusantara Prigi Arisandi mengatakan bahwa pencemaran logam berat seperti mangan dan tembaga berdampak pada habitat ikan. Dalam pengambilan sampel air pada Juli 2022 menunjukkan tingginya kadar logam berat Mangan dan Tembaga yang mencapai 0,2 bagian per sejuta atau part per million (ppm) dan 0.06 ppm.

Padahal, dalam standar kadar logam dan mangan tidak boleh lebih dari 0,03 ppm. Tingginya tingkat pencemaran bahan-bahan kimia pengganggu hormon memicu gangguan reproduksi ikan yang menurunkan populasi ikan dan punahnya ikan-ikan yang tidak toleran terhadap kadar polutan yang meningkat.

“Akibat tingginya pencemaran air di Sungai Musi, ikan-ikan khas seperti Baung Pisang, Kapiat, Patin, Tapah dan Belida saat ini sulit ditemui,” ucapnya.

Artikel Terkait

Terkini