Anak Muda Bandung Ikut Suarakan Perubahan Iklim

Koridor.co.id

Aksi Global Climate Strike di Bandung -Foto: Abdul, Komunitas Cikapundung.
Aksi Global Climate Strike di Bandung -Foto: Abdul, Komunitas Cikapundung.

Bandung, Koridor.co.id – Anak muda di Kota Bandung, Jawa Barat menyadari mereka adalah bagian dari komunitas milenial seluruh dunia yang penting menyuarakan keprihatinan terhadap krisis iklim.

Pada, Jumat (15/9/2023), sekitar 30 anak muda dari berbagai unsur kota kembang itu, melakukan aksi berjalan kaki dari Cikapayang, Dago pukul 08.30 WIB sampai Simpang Dago pada pukul 09.15. Mereka menjadi bagian dari gerakan Global Climate Strike, yang beraksi serempak di berbagai negara di seluruh dunia.

Menurut Zulqarnaen, juru bicara gerakan di Bandung, Aksi Global Climate Strike adalah sebuah gerakan global yang mengajak seluruh masyarakat, terutama generasi muda, untuk Bersatu.

Gerakan ini menyuarakan tuntutan terhadap pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar untuk bertindak lebih serius dalam mengatasi krisis iklim yang merusak bumi.

Bandung juga terdapat perubahan iklim. Cuaca yang semakin ekstrem telah mempengaruhi mata pencaharian masyarakat, sumber daya air semakin berkurang, dan ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan.

“Peserta datang dari berbagai koalisi lingkungan di Bandung. Mulai dari mahasiswa pencinta alam (Mapala) beberapa kampus, seniman dan juga penggiat lingkungan se-Bandung Raya,” ujar Zulqarnaen kepada Koridor, Sabtu, 16 September 2023.

Berbagi Brosur

Di simpang dago para pegiat lingkungan membagi peserta menjadi beberapa kelompok untuk menyebar di tiap perempatan. Mereka membawa spanduk dan brosur yang bertujuan agar masyarakat mengetahui aksi keprihatinan terhadap perubahan iklim.

Mereka kemudian kembali melakukan seni jalan kaki dari simpang dago ke Kampoeng Tjibarani, titik akhir pada pukul 09.50 melewati babakan Siliwangi Bandung dan tepat finish di Tjibarani pukul 10.45.

Zulqarnaen mengungkapkan, anak-anak Tjibarani baru pertama kali mengikuti kegiatan ini. Awalnya mereka mendapat kunjungan tamu dari  Extinction Rebellion (XR) (gerakan lingkungan global) Bandung, serta XR Indonesia.  

Panggilan Hati

Seorang peserta, Taufik Septian mengatakan Global Climate Strike ini panggilan untuk bersama memperhatikan masalah lingkungan. Panggilan untuk perubahan baik, sebagai penyadartahuan juga betapa seriusnya perubahan iklim yang berdampak pada lingkungan maupun sosial.

“Gerakannya sangat seru, kampanye krisis iklim kepada masyarakat luas dengan cara longmarch dari Cikapayang sampai  Kampoeng Tjibarani. Saya berpandangan Pendapat kesadaran akan krisis iklim harus  menyebar secara masif. Dengan menyebar luas kita dapat menjegal proses penyumbangan emisi,” ujar Taufik kepada Koridor, Sabtu (16/9/2023).

Peserta lainnya seniman Wanggi Hoed mengatakan sebagai warga negara dia merasa harus terlibat terutama pada perihal yang mengarusutamakan hajat hidup orang banyak.

“Siapa pun boleh ikut bila memiliki kegelisahan yang sama terkait dengan perubahan iklim. Sebab semua manusia di Bumi seharusnya merasakan hal sama,” katanya kepada Koridor, 16 September 2023.

Pada Jumat kemarin, anak muda seluruh dunia bergerak serentak mengingatkan umat manusia, saat ini Bumi mengalami krisis iklim. Jika tidak ada perubahan, umat manusia berada dalam bahaya. Mereka menamakan aksi mereka  sebagai Global Climate Strike

Menurut data badan meteorologi dunia (WMO) suhu global pada Juli 2023 lebih tinggi 1,5 derajat celcius dari suhu sebelum masa industrialisasi.

Friday For Future

Menurut Euronews   kegiatan serentak di seluruh dunia ini berlangsung kelima kalinya sejak aktivis muda Swedia Greta Thunberg mempeloporinya.

Pada 2023  aktivis muda seluruh dunia menuntut pihak terkait melakukan divestasi dari proyek bahan bakar fosil baru dan yang sudah ada. Stake holder membagi beban secara merata kepada masyarakat. Korporasi berinvestasi pada proyek energi terbarukan milik masyarakat, dan membayar ganti rugi kepada masyarakat yang terkena dampak krisis iklim.

Sebagai komunitas, kelompok Fridays for Future merupakan pelopor gerakan protes ini berkembang pesat. Menurut data, sekitar 27.000 orang di 150 negara ikut serta dalam serangan pertama pada  Agustus 2018.

Pada tahun berikutnya, sekitar 3,8 juta orang turun ke jalan di 3.800 kota dalam apa yang dianggap sebagai protes perubahan iklim terbesar yang pernah ada.

Jumlah sebenarnya mungkin lebih tinggi, karena Fridays For Future mungkin tidak menerima semua perkiraan peserta dari penyelenggara lokal (Irvan Sjafari).

Artikel Terkait

Terkini