250 Juta Tahun Mendatang, Reptil Kembali Jadi Raja, Mamalia Punah

Koridor.co.id

Ilustrasi kerangka mamalia di gurun-Foto: Shutterstock.
Ilustrasi kerangka mamalia di gurun-Foto: Shutterstock.

Jakarta, Koridor.co.id – Apa yang terjadi pada 250 juta tahun mendatang? Bumi akan lebih panas menyebabkan kebanyakan mamalia darat tidak akan mampu bertahan hidup. Sebaliknya reptil seperti era Dinosaurus akan kembali menjadi raja.

Bagaimana dengan manusia? Jika manusia masih ada pada jutaan tahun dari sekarang, mereka akan menghadapi kondisi hangat yang tidak ramah di benua super yang berpusat di garis khatulistiwa.

Ilmuwan dari Universitas Bristol, inggris Alexander Farnsworth memberikan gambaran mengerikan tersebut berdasarkan pemodelan komputer. Dengan permodelan tersebut, kita akan mendapat gambaran bagaimana benua dan iklim di planet ini akan berubah dalam jangka panjang.

“Jika spesies yang menyerupai manusia masih ada di Bumi saat itu, mereka dapat bertahan hidup dengan bantuan teknologi,” kata Alexander Farnsworth dari Universitas Bristol, Inggris, namun planet ini akan jauh lebih tidak ramah.

“Anda pasti berharap kita bisa menjadi peradaban penjelajah luar angkasa pada saat itu,” papar Farnsworth kepada New Scientist, seperti Koridor kutip, Selasa (26/9/2023).

Bencana di masa depan ini tidak ada hubungannya dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia seperti yang kita hadapi saat ini. Sebaliknya, ini merupakan ekstrapolasi dari dua tren jangka panjang.

Yang pertama adalah matahari berangsur-angsur semakin panas. Dalam 250 juta tahun, jumlah panas yang mencapai permukaan bumi akan meningkat 2,5 persen.

Kedua, semua benua kemungkinan besar akan bersatu membentuk satu benua besar yang berpusat di ekuator. Benua itu bernama Pangea Ultima – mengacu pada benua super serupa yang ada pada zaman dinosaurus.

Suhu di bagian dalam daratan sebesar itu akan sangat ekstrem. Bagaimana dengan kutub? Tidak akan ada lagi benua di dekat kutub yang bisa menjadi tempat berlindung yang sejuk.

Benua Super

Akibat dari kedua tren ini, tingkat karbon dioksida kemungkinan akan menjadi lebih tinggi. Dalam skala jutaan tahun, tingkat CO2 di atmosfer bergantung pada keseimbangan antara emisi CO2 dari gunung berapi.

“Pembuangannya melalui reaksi kimia dengan batuan yang baru tersingkap. Di bagian dalam benua super yang kering, lebih sedikit CO2 yang akan bereaksi dengan batuan. Ini adalah pukulan tiga kali lipat,” kata Farnsworth.

Dia dan rekan-rekannya menggunakan model geokimia untuk menghitung tingkat CO2 di masa depan ketika Pangea Ultima terbentuk, dan kemudian memasukkan nilai-nilai ini dalam model iklim.

Mereka menemukan bahwa di hampir semua skenario, kondisi di sebagian besar benua super akan melebihi batas atas kelangsungan hidup mamalia, seperti suhu bola basah sebesar 35°C.

“Kami memiliki batas atas suhu inti tubuh yang tidak dapat kami tingkatkan dengan mudah,” kata Farnsworth.

Selama periode hangat di masa lalu, mamalia darat beradaptasi, misalnya dengan berevolusi menjadi tubuh yang lebih kecil, namun batas atasnya tidak berubah.

Ada kemungkinan beberapa mamalia darat hidup di sekitar tepi Pangea Ultima, namun kondisi cuaca ekstrem di tempat-tempat ini akan membuat kehidupan menjadi sangat sulit.  

“Anda mungkin mendapatkan beberapa spesies yang masih dapat bertahan hidup, tetapi apakah mereka akan kembali menjadi spesies dominan adalah pertanyaan yang sangat terbuka,” ungkap Farnsworth.

Peluang Burung Lebih Baik

Burung akan memiliki peluang lebih baik. Banyak yang sudah bermigrasi jarak jauh dan suhu tubuh mereka yang lebih tinggi yaitu sekitar 41°C berarti batas atas mereka lebih tinggi.

Faktanya, baru-baru ini ditemukan bahwa suhu tubuh quelea paruh merah bisa mencapai 48°C tanpa efek buruk yang nyata.

Sementara itu Ravi Kopparapu dari Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA menyatakan hal senada.  Dia mempelajari kelayakan planet ekstrasurya. “Mungkin beberapa mamalia bisa beradaptasi, tapi hal ini akan sangat merugikan banyak mamalia.”

Apa pun kehidupan di Bumi yang bertahan setelah Pangaea Ultima pecah pada akhirnya akan menghadapi tantangan lebih besar. Menurut sebuah penelitian, pemanasan matahari dapat mengakibatkan hilangnya oksigen dari atmosfer dalam waktu sekitar satu miliar tahun, sehingga hanya menyisakan mikroba yang tidak bergantung padanya.

Dalam beberapa miliar tahun, peningkatan keluaran sinar matahari akan memicu efek rumah kaca yang tidak terkendali, seperti yang terjadi di Venus.

Akhir-akhir akan tiba ketika planet ini hancur – matahari akan berubah menjadi raksasa merah dan Bumi akan jatuh ke dalamnya. Tentu saja, selalu ada planet lain, tetapi pada akhirnya alam semesta pun bisa saja berakhir. (Irvan Sjafari).

Artikel Terkait

Terkini