Tak Ada Bugis dalam Sureq Galigo

Koridor.co.id

Sebagian orang menganggap Sureq Galigo atau I La Galigo atau La Galigo adalah sastra Bugis, meskipun epos tersebut faktanya adalah sastra lisan Luwu’.  Saudari Nurhayati Rahman, filolog dan guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Hasanuddin di Sulawesi Selatan, turut mengklaim Sureq Galigo sebagai sastra Bugis dalam esainya, “Epos La Galigo: Huruf, Bahasa, dan Karya Sastra”, yang dimuat Kompas, sebuah koran di Jakarta, pada 30 September 2022. Esainya itu menolak sejumlah kalimat tentang Sureq Galigo dalam esai saya, “Epos Hilali”, yang dimuat Kompas pada 24 September 2022. Ia keberatan saya menulis bahwa “bahasa Sureg Galigo  adalah bahasa Luwu kuno” dan “Sureq Galigo adalah sastra lisan yang diciptakan bangsa Luwu’ di Sulawesi Selatan.”

Saudari Nurhayati adalah seorang filolog. Ia tentu sudah membaca dan melihat bukti berupa lontara’ Sureq Galigo. Apakah dalam lontara’ Sureq Galigo yang sudah dibaca Saudari Nurhayati tercantum kata “Bugis”? Yang jelas dalam Sureg Galigo bertabur kata “Luwu’”. Sureg Galigo mengisahkan berbagai bangsa, kecuali “Bugis”.  

Saudari Nurhayati mengklaim bahwa bahasa Sureq Galigo adalah “bahasa Bugis yang sebagian kosa katanya sudah kuno”. Ia bukan seorang linguis, yang mempelajari dan meneliti bahasa secara mendalam, termasuk asal-usul, perkembangan, dan kekerabatannya, terkait lontara’ salinan dan bahasa Sureg Galigo. Ulo Sirk, linguis Rusia yang meneliti bahasa Sureg Galigo, menyatakan bahwa tidak jelas apakah bahasa kuno  dalam epos itu identik dengan bahasa Bugis kuno, apalagi “bahasa Bugis yang sebagian kosa katanya sudah kuno” yang dimaksud Saudari Nurhayati.  Hasil penelitian Sirk dimuat Archipel  vol. 10, tahun 1975 dengan judul, “On old Buginese and Basa Bissu”. Sirk justru menghubungkan asal-usul epos itu dengan tradisi lisan Luwu’.

Saya menyebutkan bahasa Luwu’ kuno adalah bahasa Sureg Galigo untuk mempertegas bahasa epos tersebut, sesuai kisah di dalamnya yang menyebutkan Luwu’ berulang kali dan mengisahkan asal-usul Kedatuan Luwu’, bukan Kedatuan Bugis atau Kedatuan Bugis Kuno.

Desawarnana atau Negarakertagama yang selesai ditulis Mpu Prapanca pada 1365 mengungkapkan adanya ekspedisi Majapahit ke “Bantayan”, “Luwu” dan “Uda”.  Tidak ada “Bugis” di situ.  “Buru”, “Butun”, “Bhima”, “Lombok”, “Sumba”, “Seram”, “Talaud”, “Ternate”, “Makhasar”, “Jawa”, “Ambwan” (“Ambon)”, “Maloko” (“Maluku”), “Timor”, dan “Balli”  juga tercantum dalam kitab itu, tetapi “Bugis” tidak ada.  Negarakertagama ditetapkan UNESCO sebagai Memori Dunia pada 2013.

Saudari Nurhayati juga memaparkan pendapat sejumlah ahli tentang penyalinan Sureg Galigo yang pertama kali dari tradisi lisannya, tetapi pendapat mereka itu tidak bersesuaian satu sama lain, termasuk pendapat Christian Pelras, seorang etnolog Perancis. Dalam bukunya, Manusia Bugis (diterjemahkan dari The Bugis), Pelras memperkirakan Sureq Galigo mulai disalin sekitar abad ke-14. Namun, ia tidak memiliki bukti lontara’ Sureq Galigo dari abad tersebut. Campbell Macknight, antropolog dan guru besar emeritus dari Australian National University, meragukan penyalinan Sureg Galigo berlangsung sebelum abad ke-18. Bukti lontara’ salinan tertua Sureq Galigo berasal dari tahun 1784 dan disimpan di Perpustakaan Athenaeum atau kini bernama Perpustakaan Umum Kota Deventer di negara Belanda. Naskah Sureq Galigo di Perpustakaan Universitas Leiden berusia lebih muda, yaitu hasil salinan I Colliq Pujié Arung Pancana Toa Matinroé ri Tucaé pada pertengahan abad ke-19.

Pada 12 Maret 2006, George Junus Aditjondro, sosiolog yang terkenal kritis terhadap pemerintah Orde Baru, diminta menjadi pembicara dalam diskusi buku Manusia Bugis Pelras di Bentara Budaya, Jakarta. Tentu saja, ia mengkritik panjang lebar  isi buku tersebut dengan argumentasi tajam dan bukti-bukti kuat. Salah satu paragraf dari makalahnya yang berjudul “Terlalu Bugis Sentris, Kurang Perancis” menggugat pembugisan semena-mena terhadap Sureg Galigo atau I La Galigo atau La Galigo:  

“Klaim Bugis atas Luwu’, yang dicoba dilegitimasi oleh Pelras dengan mengklaim La Galigo sebagai karya sastra Bugis, sama absurdnya seandainya orang Jawa mengklaim Mahabharata dan Ramayana sebagai karya sastra Jawa. Atau sama absurdnya, seperti kalau orang Jerman mengklaim Homeros sebagai karya sastra Jerman kuno, dan tidak mengakuinya sebagai karya Yunani kuno. Makanya lebih tepat kalau dikatakan bahwa La Galigo menjadi landasan filosofis karya-karya sastra Bugis dan suku-suku lain di Sulawesi Selatan dan Barat.”

Jadi Sureg Galigo atau I La Galigo atau La Galigo  sudah jelas bukan karya sastra Bugis. Ia adalah karya sastra Luwu’.

Saya ragu Saudari Nurhayati memahami metode perbandingan bahasa ketika membaca bagian esainya tentang caranya menentukan bahasa Sureq Galigo. Begini tulisnya: “Saya pernah menyampaikan kepada teman-teman di Luwu yang tidak menggunakan bahasa Bugis, terutama yang menggunakan bahasa Tae (rumpun bahasa Toraja), untuk mencocokkan bahasa mereka dengan bahasa La Galigo. Mereka semua baru paham bahwa ternyata tidak ada satu kata pun yang sama dalam kosakata La Galigo dengan kosakata bahasa yang mereka gunakan.”

Pernyataan Saudari Nurhayati itu tidak layak secara keilmuan. Dalam rumpun bahasa Austronesia mustahil tidak ada satu kata pun yang sama dalam tiap bahasa, khususnya yang terkait dengan Melayu Polinesia. Dua bahasa ditetapkan sebagai bahasa berbeda pun tidak diukur dari perbedaan seluruh kosa kata masing-masing bahasa, tetapi berdasarkan 200 kosa kata dasar dalam Daftar Swadesh, yaitu sebuah prosedur baku perbandingan bahasa atau leksikostatistik.

Saudari Nurhayati membandingkan dua bahasa dari pengelompokan bahasa yang jelas-jelas berbeda, yaitu bahasa Bugis dan bahasa Luwu’, Tae’, dengan tujuan mengklaim Sureq Galigo, sastra lisan Luwu’, adalah sastra Bugis.

Ibnu Khaldun, filsuf dan sejarawan terkemuka Mesir, pertama kali menyalin Epos Hilali pada abad ke-14, tetapi ia tidak pernah mengklaim Epos Hilali adalah sastra lisan orang Mesir atau sastra Mesir. Epos Hilali adalah sastra lisan Bani Hilal, salah satu suku di Jazirah Arab. Epos itu paling disambut dan dilestarikan di Mesir sampai hari ini. Mesir juga negara yang mengajukan Epos Hilali sebagai Mahakarya Budaya Lisan dan Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan kepada UNESCO dan ditetapkan pada 2003. Epos Hilali tersebar dan terkenal di Timur Tengah hingga Afrika Utara.  Sureg Galigo adalah sastra lisan Luwu’, yang dikisahkan, tersebar, dan dikenal sebelum disalin. Tidak jadi soal Sureq Galigo sengaja disalin atau dilestarikan orang Bugis. Yang jelas penciptanya adalah orang Luwu’ atau bangsa Luwu’, bukan Bugis. Yang jelas, ia merupakan epos Luwu’, bukan epos Bugis.

Polemik  ini sangat sederhana kesimpulannya. Kegagalan Saudari Nurhayati membuktikan adanya kata “Bugis” dalam lontara’ Sureq Galigo dan tidak terdengarnya kata “Bugis” dalam pengisahan Sureq Galigo menyebabkan gugurnya semua argumentasi, teori, dan dokumentasi yang dibuatnya sebanyak apapun.  Bugis tak terbaca, tak tertulis, dan tak terdengar dalam Sureq Galigo, sastra lisan Luwu’ kuno, Memori Dunia dari Indonesia.

Kalangan akademisi, ilmuwan, dan pihak terkait perlu melakukan sosialisasi bahwa Sureg Galigo atau I La Galigo atau La Galigo adalah sastra lisan Luwu’ untuk mengembalikan kebenaran kepada tempat yang seharusnya.

*** 

Catatan:

(Naskah ini sebelumnya pernah dimuat di koran Malut Post dan publikasi ini telah mendapatkan izin dari penulis – Red.

Artikel Terkait

Terkini