Serangan Israel-AS ke Yaman dan Pengalihan Isu Sidang ICJ

Koridor.co.id

Pizaro Gozali Idrus
Pizaro Gozali Idrus

Oleh: Pizaro Gozali Idrus

Jakarta, Koridor.co.id – Pasukan Israel, AS, dan Inggris, yang semuanya terlibat dalam penjajahan Zionis di Jalur Gaza, melakukan serangan udara kepada kelompok Houthi di Yaman.

Serangan ini menyasar pusat logistik, sistem pertahanan udara, dan lokasi penyimpanan senjata di Yaman sebagai respons atas serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah.

Serangan ini terjadi setelah Dewan Keamanan PBB pada Rabu (10/1) mengadopsi resolusi yang menuntut Houthi menghentikan serangan mereka.

Klaim penjajah Zionis dan sekutunya itu memang tampak rasional. Tapi bagi kita yang mengikuti perkembangan di Palestina dan Timur Tengah, serangan ini tidak lain hanyalah pengalihan isu atas situasi terbaru di Gaza.

Pertama, ini adalah serangan pengalihan isu atas kegagalan penjajah Zionis di jalur Gaza untuk melumpuhkan Hamas. Alih-alih menyasar Hamas, penjajah Zionis telah membunuh lebih dari 23.000 di mana hampir 10.000 di antaranya adalah anak-anak.

Lebih dari 85 persen dari 2,3 juta penduduk Gaza telah mengungsi sejak 7 Oktober, dan lembaga-lembaga bantuan memperingatkan risiko kelaparan akut di tengah tipisnya cadangan makanan di Gaza.

Kecaman meluas. Citra Israel yang sudah terpuruk di mata internasional, makin meluas.

Israel butuh terobosan untuk memulihkan wajahnya yang sudah buruk. Mereka harus menyusun narasi “kemenangan palsu” untuk membenarkan tindakan mereka. Bahwa genosida Gaza menurut mereka adalah sah karena dampak serangan Hamas telah menciptakan ketidakstabilan global terhadap kepentingan barat.

Dengan menyerang Houthi, Israel seolah-olah ingin menunjukkan kepada rakyatnya mereka telah berhasil menghentikan pengaruh Hamas di tingkat regional. Padahal Hamas dan Houthi adalah dua kelompok yang berbeda.

Meski telah melakukan serangan di Laut Merah, Houthi bukanlah faksi yang sangat besar dan memiliki persenjataan modern. Walau mendapatkan dukungan senjata dari Iran, salah satu sumber penting persenjataan Houthi umumnya berasal dari persediaan pemerintah Yaman, yang awalnya diperoleh dari Uni Soviet pada tahun 1970-an.

Tapi anehnya hanya untuk menghadapi mereka, AS, Inggris dan kekuatan global lainnya harus ikut turun tangan untuk mengesankan bahwa serangan ini memiliki legitimasi internasional. Yang perlu kita highlight adalah serangan ini menyelipkan misi kepentingan kolonialis Israel dan AS untuk mengalihkan simpati dunia internasional kepada Hamas yang kadung sudah mereka citrakan teroris.

Kedua, serangan ini adalah upaya memulihkan wajah Netanyahu dan AS di negaranya masing. Klaim-klain kemenangan dalam perang inilah yang sekarang dibutuhkan Netanyahu yang menghadapi desakan kuat dari warga Israel untuk mendesak dirinya mundur karena gagal menghentikan perang dan membebaskan sandera.

Citra kemenangan palsu ini pula yang digunakan rezim apartheid Israel yang membunuh tokoh senior Hamas, dan salah satu pendiri Brigade Izzudin Al-Qassam Saleh Al Arouri pada dua pekan lalu.

Meningkatnya tekanan dan kebutuhan untuk mencapai sesuatu, Netanyahu merasa perlu mencetak beberapa terobosan dan menciptakan citra “kemenangan palsu” dengan membunuh Arouri

Biden juga telah mendapati serangan dari warga Amerika Serikat karena dianggap mengobarkan pembunuhan terhadap anak-anak di Gaza.

Demonstrasi agar pajak warga AS tidak digunakan untuk membunuh warga Gaza meluas di negeri Paman Sam. Biden pun, sesuai dengan konstitusi Washington, harus mendapatkan persetujuan Kongres untuk melakukan serangan ini atau konflik Timur Tengah lainnya.

Israel dan sekutunya harus berkaca dari serangan koalisi Arab ke Yaman. Alih-alih menghancurkan Houthi, bencana kelaparan meluas di Yaman akibat serangan tersebut.

Ketiga, ini adalah pengalihan isu atas pengadilan dugaan genosida Israel di Gaza lewat Mahkamah Internasional (ICJ). Serangan ini tepat berlangsung saat dimulainya hearing sejak Kamis (11/1).

Kasus genosida Netanyahu yang diajukan Afrika Selatan (Afsel) ini menjadi preseden pertama di ICJ terkait dengan invasi Israel di Jalur Gaza, di mana lebih dari 23.000 orang telah terbunuh sejak 7 Oktober, hampir 10.000 di antaranya adalah anak-anak.

Dunia internasional berharap ICJ dapat menghentikan operasi militer Israel yang menghancurkan di Gaza. Afsel pun meminta pengadilan memberikan perintah awal untuk menuntut Israel secepatnya menghentikan peperangan.

Presiden kolonialis Israel Isaac Herzog mengkritik tajam langkah Afrika Selatan. Dia menilai pelaporan tersebut mengerikan dan tidak masuk akal. Oleh sebab itu Israel bakal melakukan pembelaan di ICJ.

Herzog tidak segan-segan mengatakan, Afsel munafik karena membawa kasus krisis di Gaza ke ICJ. Kementerian luar negeri Israel juga menuduh Afsel sebagai cabang sah Hamas.

Serangan kepada Houthi adalah cara penjajah Zionis dan sekutunya mengalihkan desakan internasional atas genosida Israel di Jalur Gaza dan memecah fokus masyarakat internasional atas situasi di Palestina.

Israel dijadwalkan hadir dalam sidang ICJ pada Jumat ini dan serangan ke Houthi dengan dalih respons resolusi PBB akan menjadi modal mereka untuk mementahkan argumentasi yang dibawa oleh Afsel. Israel butuh narasi palsu untuk mementahkan kutukan masyarakat global atas tindakannya.

Yang perlu diingat adalah serangan Israel, AS, Inggris dan negara-negara barat lainnya terhadap Houthi tidak akan menghilangkan fakta bahwa telah terjadi genosida terhadap bangsa Palestina. ***

*** Penulis adalah Senior Fellow Asia Middle-East Center for Research and Dialogue sekaligus Kandidat Doktor HI Universiti Sains Malaysia

Artikel Terkait

Terkini