Koridor.co.id — JAKARTA – Tragedi maritim yang merenggut lebih dari 100 nyawa terjadi akibat kelalaian fatal awak kapal yang lupa menutup salah satu pintu kapal. Peristiwa nahas yang menimpa kapal feri MS Herald of Free Enterprise ini menjadi salah satu bencana terburuk dalam sejarah Eropa.
Makalah berjudul ‘The Herald of Free Enterprise Tragedy’ yang ditulis oleh Christopher Pope dari Memorial University of Newfoundland, St. John’s, mencatat bahwa insiden ini terjadi pada 6 Maret 1987. Bencana ini disebabkan oleh kombinasi kegagalan prosedur dan kelemahan desain kapal.
Kapal jenis roll-on/roll-off (RO/RO) ini mengalami insiden tragis hanya empat menit setelah bertolak dari Pelabuhan Zeebrugge, Belgia, menuju Dover, Inggris. Kecelakaan bermula saat kapal bersiap meninggalkan pelabuhan.
Untuk menyamakan ketinggian antara ram pemuatan di pelabuhan dengan dek kapal, bagian depan kapal (haluan) diisi dengan air agar posisinya turun. Setelah proses pemuatan selesai, seorang asisten kapal yang bertugas menutup pintu pemuatan dilaporkan tertidur di kabinnya dan tidak mendengar alarm keberangkatan.
Bersamaan dengan itu, petugas lain telah meninggalkan dek lebih awal untuk kembali ke anjungan kapal demi mengejar jadwal keberangkatan. Petugas tersebut tidak memastikan apakah pintu pemuatan sudah tertutup rapat sebelum kapal diberangkatkan. Akibatnya, kapal berlayar dengan kondisi pintu haluan yang masih terbuka lebar, menyebabkan moncong kapal tetap condong ke bawah mendekati garis air.
Masuknya air ke dalam dek kapal seketika membuat kapal miring 30 derajat ke sisi kiri. Meskipun sempat tegak kembali sejenak, tumpukan air yang terus bertambah di sisi kiri akhirnya menyebabkan kapal terguling hingga 90 derajat.
Korban Jiwa Mencapai Ratusan
Bencana ini menelan korban jiwa sedikitnya 193 penumpang dan 38 kru. Kondisi air laut yang sangat dingin saat itu memperparah keadaan, menyebabkan beberapa korban meninggal karena hipotermia dan kesulitan bernapas.
Investigasi resmi menyimpulkan bahwa kecelakaan tersebut merupakan akibat dari gabungan kesalahan manusia (human error) dan desain kapal yang rentan. Kelalaian asisten kapal yang tertidur dan ketidaksesuaian prosedur petugas dalam memastikan penutupan pintu sebelum kapal berlayar menjadi pemicu utama masuknya air yang berujung pada tenggelamnya kapal.
Ikuti Koridor.co.id
