Koridor.co.id — Manchester City menghadapi tugas berat untuk melanjutkan warisan impresif Pep Guardiola. Pelatih baru, Enzo Maresca, yang merupakan mantan asisten Guardiola, diperkirakan akan melanjutkan pendekatan taktis yang sama. Namun, Maresca membawa gaya khasnya sendiri yang mulai terlihat dalam pertandingan pramusim.
Prinsip dasar Maresca sangat mencerminkan filosofi Guardiola. Guardiola dikenal dengan prinsip menguasai bola sebanyak mungkin, menjauhkan dari gawang sendiri, dan bermain di area lawan, yang didasarkan pada permainan posisional. Domenec Torrent, asisten lama Guardiola, mendefinisikan permainan posisional sebagai penempatan diri di lapangan saat menguasai bola dan posisi yang tepat untuk menekan setelah kehilangan bola. Taktik ini bertujuan memberikan keunggulan tim melalui penempatan pemain, serta menekankan pertahanan ‘istirahat’ yang baik saat menyerang untuk mengantisipasi serangan balik.
Manchester City di bawah Maresca menunjukkan prinsip-prinsip ini, terlihat dari penguasaan bola 64% dalam pertandingan pertama melawan Inter Milan. Pemain ditempatkan pada posisi yang jelas saat menguasai bola, bukan bergerak bebas. Hal ini mengindikasikan Maresca, seperti Guardiola, adalah pendukung kuat permainan posisional. Tim juga terlihat mempertahankan empat hingga lima pemain di belakang bola saat menyerang untuk menjaga pertahanan ‘istirahat’ yang solid.
Sistem 3-2-2-3 Maresca
Dalam penguasaan bola, Maresca menerapkan formasi 3-2-2-3, sebuah pola yang pernah digunakannya saat melatih Chelsea. Gaya posisional yang kaku ini menempatkan tiga bek di lini pertama yang mampu membangun serangan sambil menjaga lebar pertahanan. Di depan mereka, dua gelandang bertugas memajukan bola, melindungi pertahanan, dan melakukan counter-press cepat jika bola hilang. Salah satu gelandang diberi keleluasaan untuk berkontribusi dalam serangan, sementara yang lain bertindak sebagai jangkar di lini tengah.
Formasi 3-2-2-3 ini terlihat saat Rico Lewis bergeser dari bek kanan ke lini tengah untuk membantu transisi dari formasi empat bek menjadi menyerang. Dalam formasi ini, City dapat beralih dari pertahanan empat bek menjadi bentuk menyerang.
Peran Krusial Winger Lebar
Di depan basis 3-1 atau 3-2, para pemain sayap (winger) diminta untuk tetap berada di posisi tinggi dan lebar, menahan diri untuk tidak bergerak ke tengah. Ini adalah elemen kunci dari sistem Maresca di City sejauh ini. Nico Gonzalez mengonfirmasi pentingnya peran ini, menyatakan, “Saya pikir idenya jelas. Kami mencoba mencapai winger. Kami memiliki banyak kualitas di winger.”
Berbeda dengan Guardiola yang terkadang menggunakan winger secara sempit karena kualitas pemainnya, sistem Maresca tampaknya mengembalikan penggunaan winger yang lebar, mengingatkan pada gaya Raheem Sterling dan Leroy Sane pada tahun 2017. Marti Perarnau, seorang jurnalis dan teman Guardiola, mencatat dalam bukunya bahwa Guardiola pernah menekankan pentingnya winger untuk tetap di posisi lebar, menunggu momen yang tepat untuk beraksi menghadapi satu lawan satu. Strategi ini dirancang agar winger hanya perlu melewati satu pemain bertahan, bukan beberapa.
Dalam pramusim, Antoine Semenyo tampil menonjol di sayap, menerima bola dengan ruang dan waktu untuk berhadapan langsung dengan bek lawan. Situasi ini seringkali menghasilkan umpan silang ke kotak penalti yang mudah diselesaikan penyerang. Bagi pemain di lini kedua, fokus utama adalah menciptakan situasi berulang ini.
Pemanfaatan Area Tengah Lapangan
Meskipun mengandalkan dominasi melalui winger, pemain di area tengah lapangan juga memegang peran penting. Jika lawan melakukan penjagaan ganda pada winger, ruang akan terbuka di area tengah. Ini menjadi kesempatan bagi pemain yang nyaman bermain di ruang sempit, seperti Phil Foden dan Rayan Cherki, untuk memberikan dampak. Josko Gvardiol, yang bergeser dari bek kiri ke posisi gelandang serang kiri saat City menguasai bola, membantu membentuk ‘kotak’ di lini tengah. Baik Gvardiol maupun Nico O’Reilly menunjukkan kemampuan luar biasa dalam berkontribusi pada serangan dari posisi bek sayap hingga masuk ke kotak penalti, sebuah pola yang kemungkinan akan sering terlihat musim ini.
Adaptasi Pertahanan 4-2-4
Perbedaan terbesar dari sistem Maresca dibandingkan saat di Chelsea terlihat pada fase pertahanan. Di Chelsea, Maresca cenderung menggunakan man-to-man press tinggi. Namun, di pramusim, City terlihat bertahan tinggi dengan pendekatan yang lebih zonal, mirip dengan musim lalu. Bentuk awal pertahanan City tampak seperti 4-2-4 sebelum pemain melakukan tekanan pada lawan yang tepat.
Maresca menyadari perubahan dalam permainan, menyatakan, “Biasanya tim yang bertahan menemukan solusi dengan bermain man-to-man. Sekarang tim yang mencoba membangun serangan mencoba menemukan solusi melawan man-to-man. Saya tidak tahu kapan, tetapi akan ada sedikit perubahan.” Perubahan defensif ini tampaknya bertujuan agar tim siap menghadapi lawan yang lebih terbiasa bermain melawan tekanan man-to-man. Kendati demikian, fase pertahanan ini masih menjadi area terlemah City di pramusim, dengan pemain terkadang harus menutupi area yang luas, meninggalkan celah dalam struktur pertahanan.
Babak Baru yang Familiar
Penunjukan Maresca memberikan rasa familiar bagi City, terutama dalam identitas dan prinsip tim. Formasi 3-2-2-3 pernah membawa City meraih treble. Penggunaan winger lebar yang berhadapan satu lawan satu dan fokus pada umpan silang juga terlihat pada musim-musim sebelumnya. Penggunaan bek sayap yang bergerak ke tengah dan masuk ke kotak penalti, serta bentuk pertahanan 4-2-4, juga merupakan elemen yang sudah ada.
Sistem Maresca memiliki kekhasan tersendiri, namun secara menarik, terdapat referensi pada dekade terakhir City, seiring klub memulai babak baru.
Ikuti Koridor.co.id
