Peristiwa dramatis mewarnai Kongres Partai Komunis Cina yang menetapkan Xi Jinping menjadi Presiden Cina untuk ketiga kalinya. Persiapan telah dilakukan sejak empat tahun silam.

Koridor.co.id

Biasanya, Presiden Cina hanya menjabat dua periode. Mirip dengan Indonesia. Lima tahun dalam satu putaran jabatan. Namun pada 2018, pada penetapan Xi Jinping sebagai presiden kedua kali, aturan masa jabatan maksimal dua periode dihapus oleh Parlemen.

Ketika itu, Jinping yang usianya saat ini masih 64 tahun, berpasangan dengan Wan Qishan sebagai Wakil Presiden berusia 69 tahun. Seperti dipublikasikan Straitstimes, hasil suara pemilihan Qishan sebagai wakil presiden mencapai 99,9 persen.

Sebuah rencana yang matang. Kini, dalam Kongres Partai Komunis yang tuntas akhir minggu kemarin,  Xi Jinping kembali dinobatkan sebagai Presiden Cina untuk yang ketiga kali. Tanpa perlawanan. Sebanyak 205 anggota Komite Sentral Partai Komunis, tulis Bloomberg, sudah di bawah kendali Presiden yang saat ini berusia 69 tahun itu.

Menjelang penetapan, muncul peristiwa dramatis. Hu Jintao, mantan Presiden Cina yang duduk di barisan depan sebaris dengan Jinping harus digiring keluar oleh sejumlah staf di Great Hall, lokasi kegiatan digelar. Dalam video yang beredar, tampak Jintao enggan meninggalkan ruangan, namun “tak kuasa” menolak staf muda yang mengangkatnya melalui bawah ketiak tokoh berusia 79 tahun itu.

Jintao pun melangkah keluar ruangan dengan pengawalan, walaupun tampak sempat berbincang sedikit dengan Presiden Xi Jinping. Namun keluarnya Hu JIntao, Presiden yang digantikan Jinping pada 2012, masih misteri. Sempat berembus karena kesehatannya, namun mayoritas meragukan asumsi itu, seperti banyak dilansir media.

Tapi yang pasti, menurut Bloomberg, anggota Komite Sentral yang baru saat ini merupakan puncak upaya dari Jinping untuk mengonsolidasikan kekuasaannya, sejak naik ke posisi puncak pada 2012. Aturan para pemimpin sebelumnya, yaitu masa jabatan cukup dua tahun, pun dilabrak. Kekuasaan adalah segala-galanya.

Cina memang menggiurkan. Bahkan World Economic Forum memperkirakan bahwa pada 2024, negara tersebut akan menggeser Amerika Serikat sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Cina juga merupakan negara yang sangat penting bagi Indonesia. Di bidang perdagangan misalnya, ekspor nonmigas Indonesia ke negara tersebut merupakan yang terbesar. Pada September 2022, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilainya sebesar US$6,2 miliar atau 21,8 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.

Begitu pun dari sisi investasi. Pada kuartal II-2022, Cina ada di urutan kedua terbesar dalam kelompok penanaman modal asing yang merealisasikan investasinya di Indonesia. Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat, nilainya mencapai US$2,3 miliar. Urutan pertama adalah Singapura.

Sedikit perbedaan Indonesia dengan Cina. Jika Xi Jinping tidak banyak mengeluarkan isu untuk menjadi presiden ketiga kali, sementara di Indonesia justru ramai isu berkembang, dari perpanjangan masa jabatan presiden hingga maju lagi dengan posisi wakil presiden.

Artikel Terkait

Terkini