Setelah program kompor listrik gagal, terbitlah rencana pembagian rice cooker gratis. Upaya agar masyarakat boros listrik.

Koridor.co.id

Ilustrasi rice cooker

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana membagikan 680 ribu penanak nasi atau rice cooker gratis kepada masyarakat pada 2023. Program yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) itu, terutama bertujuan meningkatkan konsumsi listrik.

Begitulah alasan yang disampaikan Kementerian ESDM. Masyarakat didorong untuk meningkatkan konsumsi listrik. Tambahan kilahnya, demi mendukung pemanfaatan energi bersih serta penghematan biaya memasak bagi masyarakat.

Rencana pembagian rice cooker muncul setelah program pembagian kompor induksi atau kompor listrik dibatalkan pada September lalu lantaran menuai beragam kritik. Maklum, program tersebut merupakan upaya pemerintah menopang PT PLN (Persero) yang memonopoli penjualan listrik, sedang kelebihan pasokan sekitar 7 gigawatt pada tahun ini.

Menanggapi rencana tebar rice cooker ini, pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai program itu tidak tepat dalam menggantikan gas LPG 3 kilogram (kg). Bahkan hampir tidak dapat menggantikan LPG 3 kg sama sekali.

Rice cooker hanya untuk menanak nasi, sedangkan memasak lauk dan lainnya masih menggunakan kompor gas dengan LPG 3 kg,” kata Fahmy kepada Koridor.co.id, Senin (28/11/2022).

Karena itu, lanjutnya, Kementerian ESDM seharusnya memprioritaskan diversifikasi program penggunaan energi bersih melalui migrasi LPG 3 kg. Misalnya, menambah jaringan gas ke rumah tangga dan mempercepat gasifikasi batu bara.

“Bukan program coba-coba yang tidak efektif dan tidak menjadi solusi permasalahan bertahun-tahun seperti gas 3 kg ini,” tegasnya.

Dia menambahkan, pemerintah belum menghitung kontribusi bagi pemanfaatan energi bersih dan peningkatan konsumsi listrik. Begitu juga dengan penghematan subsidi LPG 3 kg dari program 680 ribu rice cooker.

Fahmy memaparkan, penggunaan rice cooker memang dapat dimanfaatkan oleh keluarga penerima manfaat yang menggunakan daya listrik 450 Volt Ampere (VA), baik untuk rice cooker berdaya 200 VA, maupun 300 VA. Namun, yang berdaya 300 VA tidak dapat dinyalakan selama 24 jam terus-menerus. Terutama pada malam hari saat semua listrik di rumah menyala.

“Agar lebih leluasa penggunaan rice cooker 300 VA, pelanggan listrik 450 VA harus mengubah menjadi 900 VA,” ujarnya.

Menurut rencana, hibah 680 ribu rice cooker dari pemerintah ini senilai Rp500.000 per keluarga penerima manfaat (KPM). Program tersebut diklaim dapat menghemat subsidi Rp52,2 miliar.

Menurut Subkoordinator Fasilitasi Hubungan Komersial Usaha Ketenagalistrikan, Direktorat Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, Edy Pratikno, sudah ada kajian sementara perbandingan antara memasak dengan rice cooker dan LPG. Dia mengakui bahwa program ini memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti kapasitas memasak nasi yang lebih kecil serta menggunakan kapasitas 300 watt harus lebih besar.

Artikel Terkait

Terkini