
Oleh: Grienda Qomara
Satu pekerjaan yang kini tengah naik daun adalah storyteller, tukang pembuat cerita. Jika kita melihat lowongan pekerjaan, entah itu di Linkedin, Jobstreet, atau platform lain, mungkin jarang menemukan perusahaan yang mencari seorang storyteller. Itu karena posisi seorang storyteller di pasar kerja Indonesia tidak terlalu familiar.
Akan tetapi, jika dilihat lebih dalam, banyak posisi pekerjaan yang mensyaratkan keterampilan storytelling, dari content writer, copywriter, dan social media specialist, hingga brand strategist, public relations, dan marketing communication. Meski nama jabatannya berbeda-beda, intinya sama: mampu menyampaikan pesan lewat cerita yang relevan, mudah dipahami, dan menarik bagi audiens.
Revolusi Media dan Lahirnya Pencerita
Fungsi storyteller sebagai pencerita telah bertransformasi seiring revolusi media. Hari ini kita menyaksikan senjakala media lama dan berseminya media baru. Media lama seperti stasiun televisi, koran cetak, hingga radio, tertatih gempuran media baru. Media baru seperti media sosial tidak hanya barang baru, tapi juga menjadi pengubah permainan. Datangnya media baru membuat setiap orang menjadi produser. Itu artinya mereka bisa menjadi pencerita dengan ceritanya masing-masing. Tentu, mereka butuh keterampilan bercerita, atau bantuan orang lain untuk merangkai cerita.
Era algoritma juga mengubah cara perusahaan memasarkan produk dan layanannya. Tidak cuma bergantung pada media lama yang tentunya mahal, mereka bisa bekerjasama dengan para influencer, atau bahkan membuat studio dan saluran mereka sendiri. Saluran pemasaran yang dulu hanya dipegang segelintir media lama menjadi terbuka. Tidak hanya para pemengaruh, tetapi juga oleh perusahaan itu sendiri. Perubahan ini tentu memunculkan peran seorang pencerita yang jitu. Mereka bisa jadi seorang brand strategist, content writer, atau bahkan tim kreatif di balik siniar milik sebuah brand.
Dulu setiap televisi punya segmentasi, entah itu tv berita, drama atau hiburan lain. Kini, Youtube hingga Instagram banjir dengan kreator konten dengan segmen atau topik konten yang tidak kalah menarik. Mereka bebas menentukan niche konten mereka, entah itu podcast hiburan, horor, atau edukasi. Dan sebagian dari mereka tentu tidak bekerja sendiri. Ada tangan-tangan kreatif yang bekerja di balik layar merangkai cerita, menentukan angle, atau membuat pertanyaan podcast yang menarik penonton.
Revolusi media juga mengubah tren konten viral. Belakangan ini kita menemukan banyak konten yang dibuat pengguna (user generated content) yang viral. Konten yang memotret pengalaman personal itu seolah natural buatan pengguna dan dari pengalaman nyata. Padahal jika dicermati, sebagiannya adalah sarana promosi terselubung brand yang sangat jitu. Produk mereka disisipkan dalam konten viral ini sehingga tampak natural. Jadi yang ditonjolkan adalah ceritanya, bukan produknya. Dan di balik itu, ada tangan seorang storyteller yang merangkai cerita. Mereka menyulap konten promosi itu serasa natural, masuk ke alam bawah sadar penonton yang melihatnya, tanpa merasa sedang ditawari produk.
Tidak hanya dalam dunia marketing perusahaan, seorang storyteller juga semakin dibutuhkan dalam industri politik hari-hari ini. Dalam kehumasan misalnya, beberapa institusi politik kini mempekerjakan seorang storyteller. Meski tidak disebutkan sebagai seorang pencerita, para humas yang direkrut dituntut bisa mengubah informasi kehumasan menjadi cerita yang menarik. Jadi tidak sekadar publikasi informasi, tapi menyusun cerita yang align dengan brand institusi tersebut, sekaligus bisa dinikmati audience.
Banyak politisi hari ini juga mempekerjakan seorang pencerita. Entah itu untuk pencitraan semata atau untuk kampanye politik saat pemilihan. Sebagian pencerita ini berhasil memoles citra atasannya hingga disukai publik. Beberapa gagal dan atasan mereka menjadi bahan ejekan di media. Bukannya citra positif yang didapat, malah semakin buruk kesan para politisi di depan massa. Itulah sulitnya seorang pencerita. Apa yang ditangkap pemirsa kadang justru bertolak belakang dengan apa yang diharapkan saat menyusun konsep cerita.
Keterampilan seorang pembuat cerita ternyata juga dibutuhkan di organisasi masyarakat sipil. LSM, lembaga riset, lembaga think-tank, hingga lembaga sosial, kini butuh seorang pencerita. Entah itu di pemasaran atau mengkomunikasikan capaian mereka kepada para stakeholder, utamanya para donatur. Maka pertanggung jawaban program mereka tidak hanya berisi capaian angka tanpa makna, tetapi harus dirangkai menjadi cerita yang meyakinkan para penyandang dana.
Pandemi dan Kecerdasan Buatan
Pandemi telah mendorong lahirnya banyak kreator konten sekaligus memperpanjang durasi penonton untuk menikmati konten. Maka setelah pandemi, kita melihat ledakan jumlah konten kreator, bahkan artis pun menjadi youtuber karena lesunya industri media. Di sisi lain, muncul banyak sekali kreator konten dengan topik yang beragam bagi para pentonton setianya. Perkembangan ini menciptakan lapangan pekerjaan bagi para pencerita.
Meski begitu, di saat yang sama kita juga melihat persaingan yang semakin ketat di industri kreator konten. Maka model bisnis mereka tidak bisa hanya mengandalkan adsense, tapi juga endorse atau membership. Para generasi konten kreator paska pandemi ini pun lebih berhati-hati melakukan ekspansi.
Yang terbaru tentunya soal kecerdasan buatan yang menimbulkan paradoks. Di satu sisi, produksi konten lebih mudah dengan adanya bantuan teknologi AI. Di sisi lain, konten yang diproduksi AI kini tampak membanjiri lini masa. Kemudahan dalam memproduksi dan signifikansi teknologi itu ternyata menghilangkan aspek human dalam konten-konten tersebut. Alhasil, konten-konten yang menonjolkan aspek human menjadi oase di tengah banjirnya konten AI. Di situ, para pencerita harus mampu memberi cerita yang manusiawi, relate bagi audience, dan ada sentuhan personal.
Kita mesti menyadari bahwa dunia hari ini bergerak terlalu cepat untuk diikuti hanya dengan data dan informasi mentah. Orang lelah membaca laporan, angka, atau klaim sepihak. Yang dicari justru konteks, makna, dan cerita yang terasa hidup. Di tengah perubahan media, algoritma, dan teknologi, pencerita hadir untuk menjahit semua itu menjadi narasi yang masuk akal dan dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari.
Fenomena naiknya peran pencerita mengingatkan kita pada kutipan Steve Jobs. Ia pernah mengatakan bahwa the most powerful person in the world is the storyteller. Bagi Jobs, cerita memberi makna pada teknologi, produk, dan ide. Tanpa cerita, inovasi hanya menjadi benda dingin yang sulit diingat dan tidak punya ikatan emosional dengan penggunanya. Dan sepertinya hari ini, bahkan ke depan, pandangan itu semakin menemukan relevansinya. Ketika teknologi makin canggih dan konten bisa diproduksi siapa saja, yang membedakan hanyalah cerita di baliknya. Di situlah peran pencerita menjadi penentu.
* Grienda Qomara adalah Content Researcher Corporate Innovation Asia (CIAS)

Leave a Reply