
Siklon Tropis Senyar yang memicu banjir bandang dan kerusakan luas di sejumlah wilayah Sumatera bukan sekadar peristiwa cuaca ekstrem. Ia menandai pergeseran penting dalam lanskap risiko iklim Indonesia. Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Erma Yulihastin menjelaskan bahwa kemunculan Senyar harus dibaca dalam kerangka perubahan iklim jangka panjang, bukan sebagai kejadian acak yang berdiri sendiri.
“Kalau kita bicara siklon tropis di wilayah khatulistiwa, ini sebenarnya sesuatu yang secara teori klimatologi dianggap tidak lazim,” kata Erma, dalam diskusi yang diselenggarakan Center for Strategic Development Studies (CSDS) Indonesia, Kamis (18/12/20250.
Namun, menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir kejadian-kejadian cuaca ekstrem menunjukkan pola yang semakin sering dan semakin intens. “Berdasarkan riset yang kami lakukan selama kurang lebih lima tahun terakhir, berbagai kejadian seperti puting beliung, hujan ekstrem, hingga badai tropis menunjukkan adanya akselerasi, baik dari sisi ruang maupun waktu,” jelas Erma.
Dalam pandangan Erma, pergeseran ini berkaitan langsung dengan fakta bahwa dunia telah memasuki fase perubahan iklim permanen. Ia menegaskan bahwa perdebatan mengenai apakah perubahan iklim disebabkan oleh faktor alam atau aktivitas manusia telah selesai secara ilmiah sejak dekade 1980-an. “Sejak tahun 1980-an, dunia sudah keluar dari fase variabilitas iklim dan masuk ke fase perubahan iklim permanen yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca,” ujarnya. Dampak dari fase baru ini tidak hanya berupa kenaikan suhu, tetapi juga intensifikasi cuaca ekstrem dalam berbagai bentuk.
Erma menjelaskan bahwa kenaikan suhu global telah melampaui ambang 1,5 derajat Celcius lebih cepat dari yang diproyeksikan. Konsekuensinya adalah meningkatnya frekuensi, kekuatan, dan durasi kejadian cuaca ekstrem. Dalam kondisi ini, wilayah yang sebelumnya dianggap relatif aman dari jenis bencana tertentu mulai menghadapi ancaman baru. Kemunculan siklon tropis di sekitar khatulistiwa, termasuk di wilayah Indonesia, menjadi contoh nyata dari perubahan tersebut.
Dalam konteks Siklon Senyar, Erma menekankan bahwa kejadian ini sebenarnya bukan tanpa tanda. “Model global sudah bisa menangkap bahwa Senyar akan mendarat dengan peluang 90 sampai 100 persen,” katanya. Artinya, secara saintifik, risiko Senyar telah terbaca jauh sebelum dampak terburuknya terjadi. Namun, ia juga menegaskan bahwa Senyar bukan badai dengan energi ekstrem. “Masalahnya, Senyar itu bahkan belum mencapai 100 kilometer per jam. Dia masih di kategori badai tropis pada saat mendarat.”
BACA JUGA: Ulasan Utama Koridor – BENCANA
Justru di titik inilah persoalan mendasar muncul. Dampak Senyar yang luas dan merusak tidak lahir dari kekuatan angin semata, melainkan dari kondisi lingkungan yang sudah rapuh sebelumnya. Selain faktor kerusakan ekologis, Erma menyebut sudah terjadi hujan berhari-hari sebelumnya. Prakondisi hujan ekstrem ini membuat tanah jenuh, sungai meluap, dan sistem drainase berada di ambang kegagalan. Ketika Senyar datang, sistem yang sudah lemah itu runtuh secara bersamaan, menghasilkan dampak yang bersifat katastropik meskipun badai itu sendiri tidak tergolong kuat.
Erma juga menjelaskan bahwa karakter siklon tropis memungkinkan dampak menyebar jauh melampaui titik pendaratan. “Siklon tropis ini skalanya ribuan kilometer,” katanya. Sistem angin dan hujan yang berputar membuat wilayah yang jauh dari pusat badai tetap mengalami hujan ekstrem dan angin kencang secara terus-menerus. Inilah yang menjelaskan mengapa dampak Senyar tidak terkonsentrasi di satu lokasi, tetapi meluas ke berbagai daerah di Sumatera.
Namun, dalam paparannya, Erma menekankan bahwa persoalan terbesar Indonesia tidak berhenti pada fenomena alam itu sendiri. Ia menggarisbawahi kelemahan mendasar di bagian hulu sistem kebencanaan nasional, khususnya terkait infrastruktur data iklim. “Indonesia sampai hari ini belum memiliki climate data center yang betul-betul didedikasikan untuk perubahan iklim, termasuk earth system model dan high performance computing yang memadai,” ujarnya. Ketiadaan pusat data iklim ini membuat Indonesia masih sangat bergantung pada data dan model global dalam membaca risiko iklim.

Padahal, menurut Erma, membaca dampak perubahan iklim secara presisi membutuhkan proyeksi beresolusi tinggi. “Untuk membaca dampak perubahan iklim secara presisi, kita membutuhkan data dengan resolusi tinggi, sampai satu kilometer,” katanya. Tanpa infrastruktur tersebut, proyeksi risiko sering kali tidak cukup detail untuk menjadi dasar kebijakan pembangunan dan mitigasi di tingkat lokal. Akibatnya, keputusan yang diambil cenderung bersifat reaktif, bukan preventif.
Erma juga menyoroti ketiadaan orkestrator nasional yang secara khusus bertanggung jawab menyediakan data proyeksi iklim untuk kebutuhan lintas sektor. Dalam kondisi ini, informasi ilmiah menjadi terfragmentasi dan tidak terintegrasi secara sistematis ke dalam proses pengambilan kebijakan. “Permasalahan besar kita sebenarnya ada di bagian hulu,” ujarnya. Bukan karena data tidak ada, melainkan karena sistem untuk mengelola, mengintegrasikan, dan memanfaatkan data tersebut belum terbentuk secara utuh.
Dalam kerangka ini, Erma menilai bahwa siklon tropis harus dipahami sebagai ancaman utama baru dalam lanskap kebencanaan Indonesia. “Siklon tropis ini dampaknya yang terbesar dari semua jenis cuaca ekstrem,” katanya. Ia bahkan menyebut ancaman ini setara, atau dalam beberapa aspek melampaui, risiko tsunami. Perbedaannya, siklon tropis memiliki frekuensi kejadian yang lebih tinggi dan dampak yang lebih luas secara geografis.
Karena itu, Erma mendorong perubahan paradigma dalam membangun kesiapsiagaan. Salah satu konsep yang ia ajukan adalah pembangunan cyclone ready community, yakni masyarakat yang tidak hanya menerima peringatan dini, tetapi memiliki kesiapan struktural dan sosial untuk merespons ancaman badai tropis. Tanpa perubahan paradigma ini, kejadian seperti Senyar berpotensi terus berulang, dengan pola kerusakan dan korban yang serupa.
Pada akhirnya, Erma menegaskan bahwa Siklon Senyar harus dibaca sebagai peringatan dini nasional. Ia bukan sekadar bencana yang telah lewat, melainkan sinyal tentang perubahan karakter risiko iklim Indonesia ke depan. Tanpa penguatan infrastruktur data iklim, integrasi sains ke dalam kebijakan, dan kesiapsiagaan masyarakat yang lebih sistematis, Indonesia berisiko terus tertinggal satu langkah di belakang bencana. (ajqf)

Leave a Reply