
Tuan dan Puan, sudah tahukan Anda, bahwa kajian kritis tentang kebencanaan sudah lama berkesimpulan bahwa istilah “bencana alam” itu sejatinya tidak eksis?
Dalam 270 tahun terakhir, atau lebih intensnya 20-30 tahun terakhir, telah berkembang pendapat, “disasters are in a way or another all human made”. Bencana alam, dalam segala wujudnya, adalah hasil perbuatan manusia belaka.[1] Ia wujud dari kegagalan manusia––melalui pilihan kebijakan publiknya––memperlakukan bumi dalam balutan aksi pembangunan(isme), tata-guna lahan, tata-kota, tata-bangunan, dan tata-tata lainnya.
Dengan kata lain, “bencana alam” tidak pada tempatnya lagi bertengger sebagai sebuah entri di kamus manajemen kebencanaan. Demikian ditegaskan oleh United Nations Office for Disaster Risk Reduction yang, suatu kali, dilantangkan-ulang oleh Mami Mizutori, di Bali, Mei 2022. Beliau adalah Perwakilan Khusus Sekjen PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana.[2]
Duduk Istilah
Tuan dan Puan, benarkah pemahaman kita selama ini tentang bencana telah sejalan dengan wacana semula leluhur kita berwicara “bencana”? Saya tidak sedang mengajak Anda bermain semantika istilah. Bukan. Saya dan Anda sedang mencari duduk-perkara substansinya. Mari.
Istilah “bencana” yang dipilih leluhur kita hampir pasti dipinjam dari kata Sanskrit: vañcana. Akarnya: vañc. Hulu dari vañc dipercaya adalah wanč- (Bhs. Proto-Indo-Iran) atau wenk- (Bhs. Proto-Indo-Eropa). Artinya: menjadi bengkok, tertekuk-tekuk, rusak, bobrok.[3]
Vañcana artinya perilaku bobrok: cheating ‘lancung’, deception ‘tipu-daya’, atau fraud ‘curang’. Demikian catat Sir Monier Monier-Williams (1899), guru besar Bahasa Sanskerta dari Universitas Oxford. Sir Monier juga mencatat, sesekali vañcana juga disangkutpautkan dengan gangguan jiwa yang kerap diidap manusia, yakni: illusion, hallucination, delusion.[4]

Dari vancãna, berbiaklah lema-lema baru. Misal, “bencayitri” (vañcayitri) untuk menunjuk ke aktor bencananya. “Bencanayoga“ (vañcanãyoga) untuk aksinya. Skill merusaknya disebut “bencanacancuta” (vañcanãcañcutã). Korbannya, dinamai “bencita” (vañcita). Adapun karakternya dinamai “bencuka” (vañcuka): dishonest ‘tak jujur’, deceptive ‘suka menipu’, dan fraudulent ‘curang’.
Dari aspek etimologis saja bisa langsung diketahui bahwa “bencana alam” sejatinya semantik yang salah-kaprah. Alam tidak pernah buruk laku. Diam dan bergeraknya alam tak lebih dari sekadar menjalankan hukum-besi semesta. Topan, badai, hujan air, hujan meteor, embun, bintang jatuh, halilintar, salju, gletser, itu semua fenomena alam. Begitu pun pergeseran sesar dan tumbukan lempeng bumi yang memunculkan erupsi gunung berapi, aliran lava/lahar, tsunami, likuefaksi, gempa (vulkanik/tektonik), dll. Fenomena-fenomena alam itu sudah eksis jutaan bahkan miliaran tahun sebelum manusia eksis.
Gempa yang hadirnya di luar kontrol manusia saja tak layak dituding sebagai biang kerok kerugian. Apalagi kok banjir. Banjir adalah hasil dari vañcana (perilaku bobrok) manusia. Sayang, sedikit sekali dari kita yang meneropongnya melalui binokular macam itu.
Di balik binokular “bencana alam” ada mata antroposentris. Menurut sudut mata antroposentris, bila fenomena-fenomena alam tersebut berdampak baik, maka dinamainya itu sebagai anugerah, nikmat, berkah, dan alhamdulillah. Sebaliknya, bila berdampak buruk, ia dinamai malapetaka, karma, azab, bencana, dan innalillahi. Jadi, bila bukan “bencana alam” namanya, lalu apa? Mari kita namai saja ia: “bencana (oleh) manusia”.

Leave a Reply